Logo

Musim Kemarau dan Ancaman Penyakit Pencernaan

Cuaca panas sering membuat orang lebih lengah terhadap kebersihan makanan dan minuman.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 09 May 2026 10:00 UTC

Musim Kemarau dan Ancaman Penyakit Pencernaan

Ilustrasi: Jajan dingin saat panas. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Penyakit pencernaan musim kemarau masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering muncul saat suhu mulai meningkat. Banyak orang lebih sering membeli minuman dingin, makan di luar rumah, atau mengonsumsi makanan cepat saji untuk mencari rasa segar di tengah cuaca panas.

 

Padahal, suhu tinggi membuat makanan dan minuman lebih cepat terkontaminasi bakteri jika penyimpanannya kurang baik. Kondisi ini membuat risiko diare, keracunan makanan, hingga tifus tetap meningkat meski musim hujan sudah berakhir.

 

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan diare masih termasuk salah satu penyakit yang paling sering terjadi di Indonesia. Pada beberapa periode musim panas dan perubahan cuaca, kasus gangguan pencernaan biasanya ikut meningkat akibat faktor kebersihan makanan dan kualitas air yang menurun. (kemkes.go.id)

 

Fenomena ini cukup sering terjadi di kawasan perkotaan dengan aktivitas luar ruang yang tinggi dan kebiasaan jajan harian yang sulit dihindari.

 

Cuaca Panas Membuat Bakteri Lebih Mudah Berkembang

 

Suhu udara yang lebih tinggi membuat makanan lebih cepat basi dibanding biasanya. Minuman dengan es batu, saus, atau makanan yang terlalu lama berada di suhu ruang menjadi lebih rentan terkontaminasi bakteri.

 

WHO menyebut makanan yang disimpan pada suhu tidak aman dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri seperti Salmonella dan E. coli yang memicu diare dan gangguan pencernaan lainnya.

 

Masalahnya, banyak orang tidak sadar bahwa makanan yang terlihat normal belum tentu benar-benar aman dikonsumsi. Terutama jajanan pinggir jalan yang terpapar debu dan udara panas sepanjang hari.

 

Saat tubuh sedang lelah akibat cuaca panas, sistem pencernaan juga menjadi lebih sensitif. Akibatnya, bakteri yang masuk lebih mudah memicu sakit perut atau diare mendadak.

 

Minuman Dingin Jadi Kebiasaan yang Sulit Dihindari

 

Cuaca panas membuat banyak orang lebih sering membeli minuman dingin untuk mencari rasa segar instan. Es teh, es kopi susu, hingga minuman kemasan menjadi bagian dari rutinitas harian.

 

Namun, tidak semua tempat memastikan kebersihan air dan es batu yang digunakan. Penelitian kesehatan lingkungan di Indonesia menunjukkan kualitas air yang kurang higienis masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan pencernaan di masyarakat. (ejournal.undip.ac.id)

 

Sebagian orang juga terlalu sering mengonsumsi minuman tinggi gula saat cuaca panas. Kandungan gula memang memberi rasa segar sesaat, tetapi dapat membuat tubuh lebih cepat haus dan mudah lemas setelahnya.

 

Perubahan pola konsumsi seperti ini sering tidak terasa, tetapi perlahan memengaruhi kondisi tubuh sehari-hari.

 

Aktivitas Padat Membuat Orang Makin Sering Makan Sembarangan

 

Awal musim kemarau biasanya membuat aktivitas luar rumah meningkat. Banyak orang akhirnya memilih makan cepat dan praktis tanpa terlalu memperhatikan kualitas makanan.

 

Kebiasaan menunda makan lalu langsung mengonsumsi makanan pedas atau terlalu dingin juga membuat lambung lebih sensitif. Tidak sedikit orang akhirnya mengalami sakit perut mendadak saat cuaca sedang panas.

 

Data Badan POM juga beberapa kali menemukan masih adanya kasus makanan dan minuman yang tidak memenuhi standar kebersihan, terutama pada jajanan terbuka di area ramai. (pom.go.id)

 

Selain itu, kurang minum air putih membuat sistem pencernaan bekerja kurang optimal. Tubuh kehilangan cairan lebih cepat, tetapi kebutuhan cairan tidak terpenuhi dengan baik.

 

Cara Menjaga Pencernaan Tetap Aman Saat Kemarau

 

Menjaga kesehatan pencernaan sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Memastikan makanan dikonsumsi dalam kondisi segar menjadi langkah paling penting.

 

Jika membeli makanan atau minuman di luar, pilih tempat yang kebersihannya terlihat terjaga dan tidak membiarkan makanan terlalu lama terbuka di udara panas.

 

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk rutin mencuci tangan sebelum makan dan memastikan air minum berasal dari sumber yang bersih. (kemkes.go.id)

 

Tubuh juga membutuhkan cairan cukup agar sistem pencernaan tetap bekerja baik. Air putih masih menjadi pilihan paling aman dibanding terlalu banyak minuman tinggi gula.

 

Buah segar, makanan rumahan, dan pola makan teratur membantu tubuh lebih siap menghadapi perubahan cuaca panas selama musim kemarau.

 

Penyakit pencernaan musim kemarau sering muncul dari kebiasaan kecil yang terlihat biasa. Cuaca panas membuat banyak orang lebih fokus mencari rasa segar dibanding memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi.

 

Padahal, menjaga pola makan tetap bersih dan seimbang menjadi cara sederhana agar tubuh tidak mudah drop saat suhu mulai meningkat. Di tengah aktivitas harian yang semakin padat, kesehatan pencernaan tetap menjadi fondasi penting agar tubuh bisa beraktivitas dengan nyaman.