Logo

Kenapa ISPA Naik di Awal Musim Kemarau

Udara kering dan polusi sering menjadi kombinasi yang membuat tubuh lebih mudah terserang gangguan pernapasan.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 09 May 2026 00:00 UTC

Kenapa ISPA Naik di Awal Musim Kemarau

Ilustrasi udara panas mulai terasa. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - ISPA musim kemarau kembali menjadi perhatian ketika cuaca berubah lebih panas dalam beberapa pekan terakhir. Banyak orang mulai mengeluhkan tenggorokan kering, batuk ringan, pilek, hingga napas terasa kurang nyaman setelah lebih sering beraktivitas di luar ruangan.

 

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Kementerian Kesehatan menyebut Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA masih menjadi salah satu penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Indonesia.

 

Pada 2025 saja, kasus ISPA secara nasional tercatat mencapai lebih dari 14,5 juta kasus. Jawa Barat termasuk salah satu provinsi dengan jumlah kasus tertinggi. 

 

Perubahan musim menuju kemarau membuat udara menjadi lebih kering dan kualitas udara di sejumlah kota ikut memburuk.

 

Debu jalanan, asap kendaraan, hingga paparan polusi harian perlahan membuat saluran pernapasan lebih sensitif dibanding biasanya.

 

Udara Kering Membuat Saluran Napas Mudah Iritasi

Saat kelembapan udara menurun, lapisan pelindung alami di hidung dan tenggorokan ikut menjadi lebih kering. Kondisi ini membuat virus, debu, dan partikel kecil lebih mudah memicu iritasi pada saluran pernapasan.

 

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa gejala ISPA umumnya meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, demam, hingga kelelahan ringan. Gejala ini sering muncul beberapa hari setelah paparan debu atau virus. 

 

Tidak sedikit orang menganggap kondisi tersebut hanya “flu biasa akibat cuaca”. Padahal, perubahan suhu dan kualitas udara memang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya gangguan pernapasan saat pergantian musim.

 

Bagi pengguna motor harian atau pekerja lapangan, kondisi ini terasa lebih cepat. Paparan udara panas bercampur debu membuat tenggorokan mudah kering dan tubuh lebih cepat lelah setelah beraktivitas.

 

Polusi Udara dan Debu Jadi Pemicu yang Sulit Dihindari

Awal musim kemarau identik dengan kondisi jalan yang lebih kering. Debu menjadi lebih mudah beterbangan, terutama di kawasan padat kendaraan dan area pembangunan.

 

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta bahkan mencatat lebih dari 638 ribu kasus ISPA terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2023. Kementerian Kesehatan juga menyebut tren kasus ISPA nasional sempat berada di kisaran 1,5 hingga 1,8 juta kasus dalam periode tertentu saat kualitas udara memburuk dan musim kemarau berlangsung panjang. 

 

Dokter paru dari Kemenkes juga menyebut polusi udara dapat melemahkan pertahanan tubuh di saluran napas sehingga seseorang menjadi lebih rentan terkena ISPA. 

 

Masalahnya, banyak orang tetap harus beraktivitas di luar ruangan setiap hari. Mulai dari bekerja, sekolah, hingga berkendara saat macet membuat paparan polusi menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dihindari.

 

Kebiasaan Kecil yang Ikut Memperparah Risiko

Selain faktor cuaca, gaya hidup sehari-hari ikut memengaruhi risiko gangguan pernapasan. Kurang minum air putih membuat tenggorokan lebih mudah kering saat cuaca panas.

 

Tidur terlalu larut dan paparan gadget berlebihan juga membuat daya tahan tubuh perlahan menurun. Ketika tubuh sedang lelah, saluran napas menjadi lebih sensitif terhadap perubahan udara dan debu.

 

Beberapa penelitian kesehatan di Indonesia juga menunjukkan bahwa paparan asap rokok, ventilasi rumah buruk, hingga kepadatan hunian ikut meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak. Riskesdas 2018 bahkan mencatat ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan pada balita di Indonesia. 

 

Karena itu, ISPA bukan hanya soal virus atau cuaca semata. Lingkungan dan kebiasaan harian juga sangat berpengaruh terhadap kondisi pernapasan seseorang.

 

Cara Sederhana Menjaga Tubuh Saat Musim Kemarau

Menjaga kesehatan pernapasan di awal musim kemarau sebenarnya bisa dimulai dari langkah sederhana. Menggunakan masker saat berkendara atau berada di area berdebu masih menjadi perlindungan paling efektif.

 

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk cukup minum air putih, menjaga kebersihan lingkungan, rutin mencuci tangan, dan mengurangi paparan polusi udara saat kualitas udara sedang buruk. 

 

Tubuh juga membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar sistem imun tetap stabil. Konsumsi buah segar dan olahraga ringan membantu tubuh lebih siap menghadapi perubahan cuaca yang ekstrem.

 

Jika batuk atau gangguan napas mulai terasa berkepanjangan, jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Pemeriksaan lebih awal membantu tubuh mendapatkan penanganan lebih cepat sebelum infeksi berkembang lebih serius.

 

ISPA musim kemarau menunjukkan bahwa perubahan cuaca sering membawa dampak kesehatan yang tidak langsung terasa. Udara panas, polusi, dan aktivitas harian yang padat membuat tubuh bekerja lebih keras menjaga sistem pernapasan tetap normal.

 

Karena itu, menjaga kesehatan di musim kemarau bukan hanya soal menghindari sakit, tetapi juga tentang menjaga ritme hidup tetap seimbang di tengah kualitas udara yang semakin menantang setiap tahun.