Logo

Kenapa Demam Berdarah Masih Bisa Muncul Saat Kemarau

Cuaca panas tidak selalu membuat ancaman nyamuk ikut menghilang.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 09 May 2026 08:00 UTC

Kenapa Demam Berdarah Masih Bisa Muncul Saat Kemarau

Ilustrasi pemeriksaan bak penampungan air darijentik nyamuk secara mandiri. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - DBD musim kemarau masih sering mengejutkan banyak orang. Tidak sedikit masyarakat mengira demam berdarah hanya muncul saat musim hujan karena identik dengan genangan air dan lingkungan lembap.

 

Padahal, awal musim kemarau justru tetap menjadi periode yang rawan terhadap penyebaran nyamuk Aedes aegypti. Perubahan cuaca membuat banyak tempat penyimpanan air mulai digunakan lebih sering, sementara genangan kecil masih

mudah ditemukan di sekitar rumah.

 

Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia masih menghadapi tingginya kasus demam berdarah setiap tahun. Sepanjang 2024 lalu, kasus DBD nasional sempat melampaui 200 ribu kasus dengan ribuan pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit. Jawa Barat termasuk wilayah dengan kasus tertinggi dalam beberapa periode. (kemkes.go.id)

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa musim panas bukan berarti lingkungan otomatis aman dari ancaman demam berdarah.

 

Nyamuk Tetap Bisa Berkembang di Cuaca Panas

 

Banyak orang tidak sadar bahwa nyamuk penyebab DBD mampu berkembang biak di air bersih dalam jumlah kecil. Bak mandi, ember, dispenser, hingga pot tanaman sering menjadi tempat yang tidak diperhatikan.

 

WHO menjelaskan bahwa nyamuk Aedes aegypti sangat mudah berkembang di lingkungan rumah tangga dengan genangan air kecil dan suhu hangat. Bahkan suhu panas tertentu dapat mempercepat siklus pertumbuhan nyamuk menjadi lebih singkat.

 

Saat musim kemarau datang, sebagian masyarakat mulai menyimpan cadangan air lebih banyak karena khawatir pasokan air berkurang. Kondisi ini tanpa disadari membuka peluang berkembangnya jentik nyamuk di dalam rumah.

 

Karena itu, kemarau tidak otomatis menghentikan penyebaran DBD. Justru lingkungan yang terlihat bersih sering membuat orang menjadi kurang waspada.

 

Genangan Kecil Sering Terlihat Sepele

 

Salah satu masalah terbesar dalam kasus DBD musim kemarau adalah kebiasaan menganggap genangan kecil tidak berbahaya. Padahal tutup botol, talang air, tempat minum hewan, atau wadah bekas hujan bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

 

Penelitian Kementerian Kesehatan menunjukkan sebagian besar sarang jentik nyamuk justru ditemukan di area rumah tangga seperti bak mandi dan tempat penampungan air terbuka. (ayosehat.kemkes.go.id)

 

Lingkungan perkotaan juga membuat risiko semakin tinggi. Rumah berdempetan dengan sirkulasi udara minim sering menjadi area yang nyaman bagi nyamuk berkembang.

 

Sebagian orang baru sadar setelah ada anggota keluarga mengalami demam tinggi mendadak. Padahal pencegahan sebenarnya bisa dilakukan dari kebiasaan sederhana sehari-hari.

 

Cuaca Panas Membuat Tubuh Lebih Rentan

 

Awal musim kemarau bukan hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga kondisi tubuh manusia. Cuaca panas membuat tubuh lebih cepat lelah dan mudah mengalami dehidrasi ringan.

 

Jika pola makan dan waktu istirahat tidak terjaga, daya tahan tubuh ikut menurun. Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan saat terkena infeksi virus, termasuk virus dengue yang dibawa nyamuk.

 

Banyak orang juga mulai lebih sering berada di luar rumah saat cuaca cerah. Aktivitas sore hingga malam hari tanpa perlindungan membuat risiko gigitan nyamuk meningkat.

 

Data WHO menyebut kawasan tropis seperti Indonesia memang memiliki risiko penyebaran dengue lebih tinggi karena faktor suhu, kelembapan, dan kepadatan penduduk yang mendukung perkembangan nyamuk.

 

Cara Mengurangi Risiko DBD Saat Kemarau

 

Pencegahan demam berdarah sebenarnya masih sangat bergantung pada kebiasaan kecil sehari-hari. Menguras bak mandi secara rutin tetap menjadi langkah paling efektif.

 

Kementerian Kesehatan terus mengampanyekan gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. (kemkes.go.id)

 

Menggunakan lotion antinyamuk atau pakaian tertutup saat sore hari juga membantu mengurangi risiko gigitan.

 

Yang tidak kalah penting adalah mengenali gejala awal DBD seperti demam tinggi mendadak, nyeri tubuh, mual, atau tubuh terasa sangat lemas. Banyak orang terlambat memeriksakan diri karena mengira hanya flu biasa akibat cuaca.

 

DBD musim kemarau menunjukkan bahwa perubahan cuaca tidak selalu membuat risiko penyakit ikut hilang. Justru saat cuaca mulai panas, banyak kebiasaan kecil yang sering diabaikan menjadi pemicu munculnya masalah kesehatan.

 

Menjaga lingkungan tetap bersih dan memastikan tubuh tetap fit menjadi langkah sederhana yang masih relevan dilakukan sampai sekarang. Di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi, kewaspadaan kecil sering menjadi perlindungan paling penting bagi keluarga di rumah.