Senin, 06 July 2026 03:30 UTC

Menteri Kebudayaan Fadli Zon memotong pita sebagai tanda diresmikannya Museum ITB yang mengusung konsep permuseuman modern berbasis teknologi digital, Jumat, 3 Juli 2026. Foto: Situs resmi ITB
JATIMNET.COM, Bandung – Di tengah percepatan transformasi industri dan kebutuhan tenaga ahli di berbagai sektor strategis, upaya mendokumentasikan sejarah pendidikan teknik mulai mendapat perhatian lebih besar.
Kehadiran Museum Institut Teknologi Bandung (ITB), yang mulai diperkenalkan kepada publik setelah diresmikan pekan lalu, menjadi bagian dari langkah menjaga jejak perkembangan ilmu pengetahuan dan rekayasa yang telah mewarnai pembangunan Indonesia selama lebih dari satu abad.
Museum tersebut merupakan bagian dari peringatan 106 tahun pendidikan tinggi teknik di Indonesia. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kampus ITB, Bandung, pada Jumat, 3 Juli 2026.
Memasuki awal pekan ini, perhatian tidak lagi tertuju pada seremoni pembukaan, melainkan pada fungsi museum sebagai pusat dokumentasi sejarah pendidikan teknik, sains, teknologi, seni, dan humaniora yang dapat diakses sivitas akademika maupun masyarakat.
Museum menyajikan arsip, artefak, koleksi digital, hingga instalasi interaktif yang menggambarkan perjalanan ITB sejak masa Technische Hoogeschool te Bandoeng hingga menjadi salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia.
Perjalanan tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah pembangunan nasional. Sejak awal berdirinya, lembaga pendidikan teknik di Bandung menjadi tempat lahirnya banyak insinyur yang berkiprah dalam pembangunan jalan, jembatan, bendungan, sistem transportasi, pertambangan, energi, telekomunikasi, hingga industri manufaktur.
Dalam perkembangannya, kontribusi itu terus meluas ke bidang teknologi informasi, penerbangan, material maju, dan energi baru terbarukan.
Karena itu, keberadaan museum dinilai memiliki makna yang melampaui fungsi penyimpanan benda bersejarah. Museum menjadi ruang yang menghubungkan perjalanan pendidikan tinggi dengan perubahan sosial, ekonomi, dan industri Indonesia.
Melalui koleksi yang ditampilkan, pengunjung dapat melihat bagaimana perkembangan ilmu teknik berlangsung seiring kebutuhan bangsa pada setiap periode pembangunan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat peresmian museum menyebut pendekatan tersebut penting untuk memperkenalkan sejarah ilmu pengetahuan kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi digital dan penyajian interaktif diharapkan mampu menarik minat generasi muda mengenal perjalanan sains dan teknologi Indonesia.
Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara menjelaskan gagasan pendirian museum telah dipersiapkan sejak menjelang peringatan satu abad pendidikan tinggi teknik di Indonesia.
Berbagai arsip, dokumen, foto, hingga artefak yang sebelumnya tersimpan di sejumlah unit kerja maupun koleksi alumni kemudian dihimpun, didigitalisasi, dan dikurasi agar menjadi sumber pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Langkah tersebut mencerminkan perubahan cara perguruan tinggi memandang warisan akademiknya. Jika sebelumnya sejarah institusi lebih banyak tersimpan dalam arsip internal, kini dokumentasi tersebut dibuka kepada publik sebagai bagian dari edukasi dan pelestarian pengetahuan.
Pendekatan ini juga berkembang di berbagai universitas dunia yang menjadikan museum kampus sebagai ruang belajar sekaligus pusat diseminasi hasil riset dan inovasi.
Dalam konteks nasional, keberadaan Museum ITB hadir pada saat pemerintah terus mendorong penguatan sumber daya manusia di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau STEM.
Kebutuhan tenaga teknik diperkirakan akan terus meningkat seiring pengembangan kawasan industri, hilirisasi sumber daya alam, transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta transformasi digital yang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional.
Bagi Jawa Timur, relevansi tersebut cukup besar. Provinsi ini menjadi salah satu pusat industri manufaktur, petrokimia, galangan kapal, logistik, hingga pengolahan mineral yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia berlatar belakang teknik.
Kehadiran ruang-ruang edukasi seperti Museum ITB dapat memperkuat literasi sejarah teknologi sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap profesi insinyur yang masih menjadi kebutuhan dunia industri.
Selain menyimpan koleksi sejarah, museum juga diharapkan menjadi wadah kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam memperkenalkan perkembangan teknologi Indonesia.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar sejarah pendidikan teknik tidak berhenti sebagai dokumentasi masa lalu, tetapi menjadi inspirasi bagi lahirnya inovasi baru yang menjawab tantangan pembangunan di masa depan.
Setelah resmi beroperasi, Museum ITB dijadwalkan menjalani tahap penyempurnaan layanan sebelum dibuka secara lebih luas untuk masyarakat.
Tahap ini dimanfaatkan untuk mengevaluasi pengalaman pengunjung sekaligus memperkuat fungsi museum sebagai pusat edukasi, pelestarian sejarah, dan penyebarluasan pengetahuan mengenai perjalanan pendidikan teknik Indonesia.
