Jumat, 03 April 2020 07:30 UTC

Stevanus Gunawan Agustinus (36), menantu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 asal Jakarta yang meninggal pada Senin 30 Maret 2020 di RS Gatoel, Kota Mojokerto melakukan klarifikasi. Foto: Croping Video
JATIMNET.COM, Mojokerto - Stevanus Gunawan Agustinus (36), menantu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 asal Jakarta yang meninggal pada Senin 30 Maret 2020 di RS Gatoel, Kota Mojokerto melakukan klarifikasi. Ia menampik mengenai tudingan dari Pemerintah Kota Mojokerto, kalau pihaknya tidak kooperatif menjalani perawatan SARS CoV-2 atau Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).
Tidak hanya itu, Gunawan panggilan akrabnya itu juga menolak beberapa hal yang diungkapkan Jubir Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Christiana Indah Wahyu pada Selasa 31 Maret 2020, salah satunya disebut tak jujur terkait riwayat perjalanan dari Jakarta.
Semua hal itu disampaikan melalui video yang dibuat-nya, dan terkirim secara berantai di grup WhatsApp, termasuk di rekan-rekan media. Video klarifikasi Gunawan yang berdurasi 4 menit 55 detik itu, ia menyampaikan, sejak adanya insiden tersebut, keluarganya sekarang ini dikucilkan.
BACA JUGA: Berstatus PDP, Peserta Pelatihan Petugas Haji Asal Mojokerto Meninggal
"Pertama, bagaimana mungkin papi kami bisa melawan untuk dilakukan swab, papi kami itu belum di-swab. Memang papi kami tidak kooperatif pada saat dipasang masker oksigen oleh perawat rumah sakit saat papi kami baru dirawat. Belum pernah diswab. Kami tidak melawan. Bagaimana kami bisa melawan? Kami sendiri ketakutan, kami ingin papi kami segera sembuh," kata Gunawan melalui video yang dikirim kerabatnya melalui pesan WhatsApp, pada Jumat 3 April 2020.
Dalam video berdurasi 4 menit 55 detik itu, Ia menampik tudingan Indah, yang menyebut ayah mertuanya tidak jujur terkait riwayat perjalanan dari Jakarta. PDP terkait corona itu datang dari Jakarta untuk mengunjungi anak dan cucunya yang tinggal di Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.
"Kedua, kenapa papi kami dikatakan berbohong pada waktu datang pertama kali tidak mengaku dari Jakarta?, dari mana papi kami bisa berbohong?, dari awal masuk rumah sakit, saya pakai kartu asuransi milik papi saya. Saya memakai KTP papi saya. Itu Jakarta tulisannya jelas. Bahkan saat ditanya papi saya bilang Jakarta Utara, saya masih ingat," tegas Gunawan.
BACA JUGA: Cegah Corona, Ratusan Pelamar Karyawan Minimarket Dibubarkan Paksa
Pihaknya berharap media maupun Pemkot Mojokerto memulihkan nama baik keluarganya yang sudah terlanjau tercemar karena pernyataan Pemkot Mojokerto. Pasalnya, pernyataan Indah membuat keluarganya dikucilkan masyarakat sekitar.
"Itu membuat kami sangat dikucilkan dan kami baru tahu itu penyebabnya. Kepada Media, Pemkot Mojokerto, kami mohon dibantu memulihkan nama baik keluarga kami. Coba bayangkan kalau hal yang sama menimpa bapak/ibu. Kami bagaikan sudah jatuh ketimpa tangga. Sekarang kami dikucilkan masyarakat. Banyak masyarakat yang mengatakan kami tidak peduli dengan masyarakat yang lain, egois dan lain sebagainya," tandasnya dalam video sembari berlinang air mata.
Sekadar informasi, warga Jakarta yang masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan (PDP) itu meninggal di rumah sakit swasta Kota Mojokerto dikarenakan sakit Jantung coroner dan hypertensi akut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Christiana Indah Wahyu dari Posko Satgas, Selasa 31 Maret 2020.
