Senin, 28 September 2026 11:00 UTC

Ilustrasi sarapan dengan menu berimbang. Foto: -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM- Menu sarapan tinggi gula mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Teh manis, kopi dengan sirup, roti manis, sereal bergula, hingga minuman kemasan sering dipilih karena praktis dan terasa mengenyangkan.
Persoalannya bukan terletak pada satu makanan manis yang sesekali dinikmati. Perhatian diperlukan ketika beberapa sumber gula hadir sekaligus dalam satu menu dan kebiasaan tersebut berulang hampir setiap pagi.
Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar empat sendok makan per orang per hari. Jumlah tersebut merupakan batas konsumsi sehari, bukan untuk satu kali sarapan.
Konteksnya semakin penting karena Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 47,5 persen penduduk berusia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis sedikitnya sekali sehari. Data tersebut menggambarkan kebiasaan populasi, bukan jumlah gula yang dikonsumsi setiap individu.
Gula Pagi Bisa Datang dari Banyak Arah
Membicarakan menu sarapan tinggi gula sering membuat perhatian langsung tertuju pada gula pasir. Padahal, rasa manis pada pagi hari bisa berasal dari berbagai makanan dan minuman.
Seseorang mungkin hanya memasukkan sedikit gula ke dalam kopi. Namun, kopi tersebut kemudian ditemani roti manis, selai, susu dengan gula tambahan, atau minuman lain.
Karena itu, konsumsi harian lebih masuk akal dilihat sebagai satu kesatuan. Empat sendok makan yang menjadi batas anjuran Kementerian Kesehatan setara sekitar 50 gram gula dalam sehari.
Batas tersebut juga berada dalam pesan pembatasan gula, garam, dan lemak yang dikenal dengan G4 G1 L5. Angkanya adalah empat sendok makan gula, satu sendok teh garam, serta lima sendok makan lemak atau minyak per orang per hari.
Bukan berarti setiap orang harus menghitung setiap butir gula dengan kalkulator. Namun, mengenali sumber rasa manis dapat membantu melihat pola yang sebelumnya terasa biasa.
Minuman Manis Layak Mendapat Perhatian
Minuman sering lebih mudah terlewat ketika seseorang menilai kualitas sarapannya. Sepiring makanan mungkin sudah cukup beragam, tetapi minuman pendampingnya dapat menambahkan rasa manis yang tidak sedikit.
SKI 2023 memberi gambaran mengenai kuatnya kebiasaan tersebut. Sebanyak 47,5 persen penduduk usia tiga tahun ke atas mengonsumsi minuman manis satu kali atau lebih setiap hari. Sementara itu, 43,3 persen mengonsumsinya antara satu sampai enam kali dalam seminggu.
Angka itu tidak berarti seluruh minuman tersebut dikonsumsi saat sarapan. Namun, data nasional tersebut menunjukkan bahwa minuman manis merupakan bagian yang cukup dekat dengan pola konsumsi masyarakat.
Kebiasaan pagi juga semakin beragam. Teh manis tradisional kini berdampingan dengan kopi susu, minuman cokelat, susu berperisa, serta aneka minuman kemasan.
Pilihan paling sederhana untuk mengurangi tambahan gula adalah menyediakan air putih sebagai minuman utama. Kopi atau teh masih dapat dinikmati dengan menyesuaikan jumlah gula yang ditambahkan.
Perubahan kecil ini tidak mengharuskan seseorang menghapus rasa manis dari kehidupan sehari-hari.
Makanan Siap Konsumsi Semakin Dekat dengan Keseharian
Kepraktisan merupakan salah satu alasan menu pagi berubah. Tidak semua orang mempunyai cukup waktu untuk memasak sebelum memulai aktivitas.
Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman beroperasi di Indonesia pada 2024. Angka tersebut menunjukkan besarnya ekosistem makanan siap konsumsi yang tersedia bagi masyarakat.
Data Susenas Maret 2025 juga mencatat rata-rata pengeluaran makanan dan minuman jadi sebesar Rp248.501 per kapita per bulan secara nasional. Nilainya mencapai Rp294.188 di perkotaan dan Rp181.387 di perdesaan.
Makanan dan minuman jadi bahkan mengambil sekitar 15,84 persen dari total rata-rata pengeluaran per kapita nasional pada 2025. Di wilayah perkotaan, porsinya mencapai 16,24 persen.
Data tersebut mencakup konsumsi sepanjang hari dan tidak secara khusus menggambarkan sarapan atau makanan manis. Namun, angkanya memperlihatkan bahwa makanan siap konsumsi mempunyai tempat cukup besar dalam pola belanja masyarakat.
Kemudahan membeli sarapan tentu bukan sesuatu yang harus dihindari. Tantangannya adalah membuat pilihan praktis tanpa kehilangan kendali terhadap komposisi makanan.
Sarapan Juga Kesempatan Menambah Buah dan Sayur
Mengurangi dominasi rasa manis tidak berarti sarapan harus menjadi hambar. Ada banyak cara membuat menu pagi tetap menarik dengan makanan yang lebih beragam.
Buah dapat memberikan rasa manis alami sekaligus memperluas variasi menu. Pisang, pepaya, jeruk, melon, atau buah lokal lainnya mudah disesuaikan dengan ketersediaan dan harga.
Kebutuhan untuk memperluas variasi tersebut terlihat dalam data kesehatan nasional. SKI 2023 menunjukkan 96,7 persen penduduk berusia lima tahun ke atas masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Sebanyak 67,5 persen hanya mengonsumsi satu sampai dua porsi per hari.
Ukuran “cukup” dalam survei tersebut adalah kombinasi sayur dan buah minimal lima porsi sehari selama tujuh hari dalam seminggu. Jadi, angka itu tidak khusus membahas sarapan.
Namun, waktu makan pagi dapat menjadi salah satu kesempatan untuk menambah porsinya. Buah dapat mendampingi makanan utama, sementara sayuran bisa masuk melalui tumisan, pecel, gado-gado, atau menu lokal lainnya.
Sarapan akhirnya tidak hanya menjadi urusan mengurangi sesuatu. Ada kesempatan untuk menambahkan makanan yang selama ini justru kurang dikonsumsi.
Mengurangi Gula Tidak Harus Dilakukan Mendadak
Lidah terbiasa dengan pola yang dibangun dalam waktu lama. Orang yang setiap pagi minum teh sangat manis mungkin merasa minuman dengan sedikit gula terasa kurang nikmat.
Karena itu, perubahan bertahap lebih realistis. Jumlah gula dalam kopi atau teh dapat dikurangi sedikit demi sedikit sampai menemukan tingkat rasa yang tetap nyaman.
Strategi lain adalah menghindari penumpukan sumber manis. Jika sudah memilih roti manis, minuman pendamping bisa berupa air putih atau teh tanpa banyak tambahan gula.
Sebaliknya, jika ingin menikmati kopi susu manis, makanan pendamping dapat dipilih dari menu yang tidak didominasi rasa manis.
Membaca informasi nilai gizi pada produk kemasan juga membantu. Perhatikan ukuran sajian karena satu kemasan belum tentu dihitung sebagai satu sajian oleh produsen.
Tidak perlu pula menganggap semua makanan manis sebagai sesuatu yang terlarang. Pola makan sehat lebih masuk akal ketika mempertimbangkan frekuensi, jumlah, keberagaman, dan kebiasaan secara keseluruhan.
Menu sarapan tinggi gula perlu diperhatikan justru karena rasa manis mudah hadir tanpa terasa berlebihan. Satu minuman, satu olesan, dan satu camilan dapat terlihat kecil ketika dinilai secara terpisah.
Pagi dapat menjadi waktu sederhana untuk membangun kebiasaan berbeda. Mengurangi sedikit gula, memilih air putih, serta menambahkan buah atau makanan yang lebih beragam sudah menjadi langkah praktis.
Sarapan tidak perlu kehilangan kenikmatannya. Menu sarapan tinggi gula hanya perlu ditempatkan secara lebih proporsional agar rasa manis tetap bisa dinikmati tanpa mendominasi pola makan sehari-hari.
