Logo

Media Sosial Membuat Budaya Lari Semakin Terlihat

Lari sekarang meninggalkan dua jejak sekaligus: langkah di jalan dan cerita yang bergerak dari satu layar ke layar lain.
Reporter:,Editor:

Senin, 24 August 2026 13:30 UTC

Media Sosial Membuat Budaya Lari Semakin Terlihat

Ilustrasi: Lari Masuk Timeline. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Budaya lari punya panggung baru bernama media sosial. Selesai berlari, ponsel sering ikut bekerja. Rute disimpan, foto dipilih, pace diperiksa, kemudian aktivitas pagi berpindah ke linimasa.

Pemandangan tersebut sudah terasa akrab. Di Surabaya, sekelompok pelari yang berhenti setelah sesi pagi terkadang terlihat sibuk melihat smartwatch atau ponsel sebelum berpisah. Ada yang mengecek catatan latihan, ada pula yang mengabadikan pertemuan bersama teman.

Perubahan kecil itu ikut membuat olahraga terasa semakin terlihat. Orang yang sebelumnya tidak dekat dengan dunia lari kini terus bersinggungan dengannya melalui Instagram, TikTok, aplikasi kebugaran, atau grup pertemanan.

Lari memang sudah lama ada. Yang berubah adalah seberapa sering kita melihat orang lain melakukannya.

 

Dari Lima Kilometer Menjadi Konten Sehari-hari

Media sosial bekerja melalui pengulangan. Sekali melihat unggahan teman berlari mungkin terasa biasa. Ketika pemandangan serupa muncul hampir setiap akhir pekan, persepsi mulai berubah.

Sepatu lari muncul di Instagram Story. Catatan lima kilometer dibagikan dari aplikasi olahraga. Ada foto sebelum matahari terbit, video pemanasan, sampai ritual sarapan setelah latihan.

Lari akhirnya mendapatkan eksposur yang sebelumnya lebih banyak dimiliki aktivitas lifestyle lain.

Data Strava memberi konteks terhadap perubahan tersebut. Dalam laporan Year in Sport 2024, platform itu menganalisis miliaran aktivitas dari komunitas yang ketika itu mencakup lebih dari 135 juta orang di lebih dari 190 negara, ditambah survei terhadap lebih dari 5.000 orang aktif.

Di Indonesia, partisipasi dalam klub lari tercatat meningkat 83 persen sepanjang 2024. Secara global, kenaikannya mencapai 59 persen. Strava juga menyebut lari sebagai olahraga sosial dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.

Data tersebut tentu menggambarkan ekosistem pengguna Strava dan tidak otomatis mewakili seluruh masyarakat Indonesia. Namun skala datanya cukup membantu membaca satu perubahan: lari semakin terkoneksi dengan komunitas dan ruang digital.

Keduanya saling menguatkan. Komunitas membuat orang punya bahan untuk dibagikan, sementara unggahan membuat komunitas lebih mudah ditemukan.

 

Timeline Bisa Membuat Orang Benar-Benar Keluar Rumah

Ada sisi media sosial yang sering luput ketika pembicaraan terlalu berfokus pada dampak negatif layar. Melihat aktivitas orang lain terkadang memicu tindakan di dunia nyata.

Seseorang mungkin pertama kali mengetahui jadwal running club dari Instagram. Pelari pemula menemukan rute dari unggahan teman. Orang lain melihat rekannya konsisten berlari setiap Minggu, lalu mulai berpikir bahwa olahraga tersebut ternyata cukup mungkin dilakukan.

Efek sosialnya cukup terasa dalam data Strava 2024. Sebanyak 58 persen responden global mengatakan mendapatkan teman baru melalui kelompok kebugaran. Hampir 1 dari 5 Gen Z bahkan pernah berkencan dengan seseorang yang mereka temui melalui olahraga.

Perkembangan itu berlanjut. Laporan Year in Sport 2025 mencatat jumlah klub baru di Strava hampir meningkat empat kali lipat, hingga totalnya mencapai 1 juta klub. Klub lari tumbuh 3,5 kali, sedangkan aktivitas yang diselenggarakan klub naik 1,5 kali dibanding tahun sebelumnya.

Hubungan antara layar dan aktivitas fisik akhirnya tidak sesederhana “ponsel membuat orang malas bergerak”.

Ponsel yang sama bisa dipakai untuk doomscrolling selama satu jam, tetapi juga dapat membawa seseorang menemukan teman lari untuk Minggu pagi.

 

Ketika Pace Mulai Terasa Seperti Nilai Rapor

Masalah muncul ketika aktivitas yang dibagikan berubah menjadi standar pembanding. Media sosial jarang memperlihatkan keseluruhan proses. Kita melihat teman menyelesaikan 10 kilometer, tetapi tidak selalu melihat bertahun-tahun latihan di belakangnya.

Kita melihat personal best, tetapi sesi lambat, hari istirahat, atau latihan yang gagal mungkin tidak pernah masuk Story. Pelari baru kemudian menerima gambaran yang timpang.

Pace 7 menit per kilometer mulai terasa lambat setelah berkali-kali melihat unggahan orang lain dengan angka 5 menit. Jarak lima kilometer yang sebelumnya membanggakan mendadak terasa sedikit setelah linimasa dipenuhi long run 15 kilometer. Tubuh sebenarnya tidak mengenal hierarki semacam itu.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, maupun kombinasi keduanya. WHO juga menyarankan latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu.

Rekomendasi kesehatan tersebut berbicara tentang aktivitas fisik yang cukup dan berkelanjutan, bukan siapa yang memiliki tangkapan layar pace paling cepat.

Kebutuhan untuk membuat olahraga terasa terjangkau masih sangat besar. WHO memperkirakan 31 persen orang dewasa dunia, sekitar 1,8 miliar orang, belum memenuhi rekomendasi aktivitas fisik pada 2022. Proporsinya meningkat sekitar 5 poin persentase dibanding 2010 dan berpotensi mencapai 35 persen pada 2030 bila tren berlanjut.

Dalam konteks itu, orang yang baru mampu rutin bergerak tiga kali seminggu sebenarnya sudah membangun sesuatu yang berharga. Tidak ada kebutuhan kesehatan yang mengharuskannya terlihat mengesankan di internet.

 

Foto Boleh Bagus, Latihan Tetap Perlu Masuk Akal

Budaya lari digital juga melahirkan estetika tersendiri. Sepatu, pakaian olahraga, smartwatch, rute cantik, foto kelompok, hingga tempat minum kopi setelah latihan menjadi bagian dari pengalaman. Tidak ada yang salah dengan menikmati sisi tersebut.

Olahraga memang lebih mudah dipertahankan ketika menyenangkan. Bagi sebagian orang, membeli pakaian lari yang disukai atau mengambil foto bersama teman membuat rutinitas terasa lebih hidup. Yang perlu dijaga adalah batas antara motivasi dan tekanan.

Strava mencatat fakta yang menarik dalam laporan 2024. Aktivitas berkelompok secara global meningkat 13 persen, sementara waktu berhenti selama aktivitas kelompok tercatat sekitar tiga kali lebih banyak dibanding aktivitas solo. Strava mengaitkannya dengan waktu yang digunakan untuk bersosialisasi selama jeda latihan.

Jadi, orang berkumpul untuk berolahraga tetapi rupanya juga cukup sering berhenti untuk mengobrol. Itu jauh dari gambaran bahwa setiap sesi harus efisien, cepat, dan menghasilkan rekor.

Di Surabaya, bagian tersebut justru terasa familiar. Lari pagi bisa selesai dengan duduk sebentar, mencari minuman, sarapan, atau membahas rute minggu depan ketika kota mulai semakin panas. Tidak semua menit harus masuk catatan pace.

 

Unggah Lari, tetapi Sisakan Ruang untuk Diri Sendiri

Ada satu kebiasaan digital yang bisa membuat pengalaman berlari lebih sehat: menganggap data sebagai catatan, bukan identitas.
Pace membantu membaca perkembangan. Detak jantung dapat memberikan informasi tambahan. Jarak berguna untuk merencanakan latihan. Foto dan unggahan pun menyenangkan sebagai dokumentasi.

Namun satu sesi buruk tidak membuat seseorang menjadi pelari buruk. Ada hari ketika tubuh kurang tidur. Cuaca Surabaya terasa lebih panas. Kaki belum pulih. Pekerjaan sedang padat. Rute lebih ramai daripada biasanya. Semua itu tidak selalu terlihat pada sebuah tangkapan layar.

Data Strava bahkan memperlihatkan bahwa keseimbangan tidak otomatis menghambat pencapaian. Pada 2024, 72 persen target lari pengguna aktif dalam analisis mereka tetap tercapai, sementara pelari yang mempersiapkan maraton menggunakan 51 persen dari 16 minggu sebelum lomba sebagai hari istirahat.

Ada pesan praktis di sana: progres tetap membutuhkan ruang kosong. Mungkin media sosial memang berjasa membuat budaya lari semakin terlihat. Orang menemukan komunitas, mendapat motivasi, bertemu teman baru, lalu mempunyai alasan untuk bergerak.
Tetapi setelah ponsel dimasukkan kembali ke saku, tubuh tetap punya urusannya sendiri.

Besok pagi, tidak masalah jika lima kilometer terasa lebih lambat. Tidak semua lari membutuhkan penonton.