Jumat, 27 March 2026 01:20 UTC

Suasana olah TKP di Masjid Raya Pesona Jember sesaat setelah ledakan. Foto: Adi
JATIMNET.COM, Jember — Polres Jember memastikan, ledakan yang terjadi di Masjid Raya Pesona, Patrang beberapa hari lalu, bukan karena bom. Meski demikian, polisi masih terus melakukan penyelidikan atas kasus ini.
Pernyataan polisi ini mengakhiri berbagai spekulasi yang muncul di masyarakat usai ledakan yang terjadi saat sedang berlangsung jamaah salat tarawih.
Peristiwa yang terjadi saat pada Senin malam, 16 Maret 2026 itu mengakibatkan plafon runtuh di sekitar titik ledakan. Selain itu, etalase buku hancur dan roster bangunan mengalami kerusakan.
Satu orang jemaah dilaporkan mengalami gangguan pendengaran akibat kerasnya suara ledakan dan sempat menjalani perawatan di Unit Gawat Darurat (UGD).
Takmir masjid, Muhammad Fadil, menyebut titik ledakan berada di area yang jarang digunakan.
“Memang di lokasi kejadian ada lemari yang terlantar, artinya tidak bisa dipakai. Isinya apa itu yang kami kurang paham, karena ruangan tersebut juga tidak pernah dimanfaatkan,” katanya.
Sementara itu, pihak kepolisian telah menyelesaikan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pembersihan lokasi bersama warga. Garis polisi juga telah dilepas sejak Selasa, 17 Maret 2026.
“Setelah olah TKP dan pengamanan, kami juga melaksanakan kerja bakti membersihkan sisa-sisa ledakan. Saat ini masyarakat sudah bisa kembali menggunakan masjid untuk beribadah,” ujar Bobby.
Kini, aktivitas ibadah di masjid telah kembali normal. Warga kembali menggunakan masjid untuk Salat Tarawih dan kegiatan keagamaan lainnya.
Di sisi lain, polisi memastikan bahwa ledakan tersebut bukan berasal dari bahan peledak. Hasil penyelidikan sementara tidak menemukan indikasi penggunaan bom.
Petugas justru menemukan adanya zat kimia di dalam lemari besi yang diduga menjadi pemicu ledakan. Zat tersebut diperkirakan mengalami peningkatan suhu hingga memicu reaksi yang berujung pada ledakan.
Meski telah menemukan indikasi awal, penyidik masih terus mendalami penyebab pasti secara ilmiah serta mengimbau masyarakat untuk tetap tenang.
