Logo

MajaCraft Resmi Diluncurkan di Trowulan, Buka Akses Pasar Digital bagi Pelukis dan Perajin

Reporter:,Editor:

Minggu, 01 November 2026 23:35 UTC

MajaCraft Resmi Diluncurkan di Trowulan, Buka Akses Pasar Digital bagi Pelukis dan Perajin

Prosesi Launching MajaCraft ditandai dengan simbol peresmian oleh Founder MajaCraft dan perwakilan dari komunitas beserta Kepala Desa Jatipasar di atas panggung, Minggu, 1 November 2026. Foto: Wanto/Jatimnet

JATIMNET.COM, Mojokerto – Pelukis, perajin, dan pelaku usaha kreatif di Mojokerto kini memiliki alternatif pemasaran melalui platform digital MajaCraft. Marketplace yang dikembangkan untuk memasarkan karya seni dan produk kerajinan tersebut resmi diluncurkan di Dusun Wringinlawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Minggu, 1 November 2026.

Pengelola MajaCraft menggelar peresmian di Sekretariat MajaCraft dengan melibatkan sejumlah tokoh seni dan pemerintahan desa. Founder MajaCraft Angga Adrianto hadir bersama Ketua Komunitas Pelukis Galeri Celurit Emas M. Hoiri Hidayat atau Kak Herry, Hendra dari Divisi Teknik MajaCraft, serta Kepala Desa Jatipasar H. Mulyadi.

Keempatnya menandai peluncuran dengan menempelkan telapak tangan kanan secara bersamaan pada layar. Prosesi tersebut disaksikan para pelukis, seniman, budayawan, perajin, pelaku UMKM, dan tamu undangan.

Sebelum prosesi peresmian, panitia memutar video profil MajaCraft untuk memperkenalkan latar belakang pengembangan, tujuan, serta berbagai fasilitas yang tersedia dalam marketplace tersebut.

Hendra dari Divisi Teknik MajaCraft menjelaskan, pengelola merancang platform ini sebagai ruang pemasaran digital yang memungkinkan pelukis dan perajin memperkenalkan hasil karyanya kepada khalayak lebih luas.

Melalui MajaCraft, pengguna dapat membuat profil sekaligus mengunggah foto karya atau produk. Mereka juga bisa melengkapi informasi berupa nama produk, deskripsi, bahan, ukuran, hingga harga sehingga calon pembeli dapat mengetahui detail barang sebelum bertransaksi.

Platform tersebut juga menyediakan fitur pengelolaan produk dan pembaruan informasi ketersediaan barang. Pengelola tidak memungut biaya untuk pendaftaran pengguna maupun penerbitan Sertifikat Kepemilikan Digital.

Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian adalah Sertifikat Kepemilikan Digital yang menggunakan teknologi blockchain. Fasilitas ini berfungsi mencatat identitas karya dan pemilik berdasarkan informasi yang didaftarkan ke dalam sistem MajaCraft.

Namun, pengelola menegaskan bahwa sertifikat tersebut tidak sama dengan sertifikat hak cipta atau bukti pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari pemerintah. Dokumen itu juga bukan sertifikat resmi yang diterbitkan lembaga pemerintah.

 

Dapat Dukungan Komunitas Pelukis

Peluncuran MajaCraft mendapat sambutan positif dari Ketua Komunitas Pelukis Galeri Celurit Emas, M. Hoiri Hidayat atau Kak Herry. Dia mengaku telah lama memiliki keinginan untuk menghadirkan galeri lukisan yang dapat diakses masyarakat melalui platform digital.

Peluang mewujudkan gagasan tersebut terbuka setelah dirinya bertemu dengan tim MajaCraft pada awal Agustus 2026. Pertemuan itu berlangsung bertepatan dengan pembukaan Pameran Lukisan Nasional bertajuk Warna dan Keberagaman Budaya Dalam Kanvas di Plasa Marina Surabaya.

Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi kerja sama antara komunitas pelukis dan pengelola MajaCraft. Hingga peluncuran berlangsung, sekitar 50 karya lukis anggota Galeri Celurit Emas telah menghiasi platform tersebut.

Kak Herry berharap semakin banyak pelukis memanfaatkan fasilitas MajaCraft. Dengan begitu, mereka memiliki peluang lebih besar untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan karya kepada calon pembeli melalui jaringan digital.

Dukungan serupa datang dari Kepala Desa Jatipasar H. Mulyadi. Dia menilai kehadiran MajaCraft menjadi peluang untuk memperkenalkan potensi seni dan kerajinan lokal kepada pasar yang lebih luas.

Mulyadi menyebut Jatipasar memiliki sejumlah produk unggulan, seperti patung, batik, dan gentong khas Jatipasar. Berbagai kerajinan tersebut memiliki karakter tersendiri yang merepresentasikan kekayaan budaya masyarakat Trowulan sebagai kawasan Bumi Majapahit.

"Sebagai Kepala Desa Jatipasar, saya tentu bangga MajaCraft lahir dari desa kami. Saya berharap melalui platform ini, produk unggulan seperti patung, batik, dan gentong Jatipasar semakin dikenal, tidak hanya di Mojokerto, tetapi juga di berbagai daerah, bahkan hingga pasar internasional," ujar Mulyadi.

Untuk mendukung pengembangan marketplace tersebut, Pemerintah Desa Jatipasar menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan pengelola MajaCraft. Kerja sama dapat diwujudkan melalui pendataan produk unggulan, mengajak para perajin bergabung, hingga menggelar promosi bersama secara digital.

"Pemdes Jatipasar siap membuka ruang kolaborasi. Harapan kami, kerja sama ini tidak berhenti pada peluncuran, tetapi berlanjut menjadi program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para perajin," tegasnya.

Mulyadi juga berharap MajaCraft berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai potensi seni dan kerajinan dari daerah lain. Menurutnya, teknologi digital dapat menjadi sarana untuk memperkuat jejaring ekonomi kreatif sekaligus memperluas pemasaran produk lokal.

"Kalau Gajah Mada menyatukan Nusantara melalui jalur politik, MajaCraft diharapkan dapat menyatukan potensi Nusantara melalui ekonomi kreatif dalam sebuah platform digital," ungkapnya.

Peluncuran MajaCraft di Trowulan menjadi langkah awal untuk memperluas pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran karya seni dan kerajinan. Sinergi pengelola platform, komunitas seni, pemerintah desa, dan pelaku UMKM diharapkan mampu membuka pasar baru sekaligus mengangkat kekayaan produk lokal Mojokerto.