Selasa, 25 August 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Jangan Terkecoh Label. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Label makanan sehat semakin mudah ditemukan di rak belanja dan layar media sosial. Ada produk bertuliskan high protein, low fat, no added sugar, natural, whole grain, sampai berbagai istilah yang memberi kesan lebih baik untuk tubuh.
Bahasanya singkat dan mudah diingat. Ketika pilihan makanan begitu banyak, klaim di bagian depan kemasan memang membantu orang mengambil keputusan dengan cepat.
Persoalannya, satu klaim hanya menceritakan satu bagian dari produk. Makanan rendah lemak masih bisa mengandung gula atau natrium yang perlu diperhatikan. Produk tinggi protein pun belum tentu tinggi serat.
Di tengah budaya belanja cepat masyarakat perkotaan seperti Surabaya, kemampuan membaca makanan beberapa detik lebih lama justru semakin berguna.
Bagian Depan Kemasan Memang Dibuat untuk Cepat Dibaca
Bayangkan jam pulang kerja di Surabaya. Seseorang berhenti di minimarket atau supermarket, mengambil beberapa makanan, kemudian ingin segera pulang sebelum lalu lintas semakin padat.
Tidak banyak orang punya waktu membandingkan setiap angka pada lima kemasan berbeda. Produsen memahami perilaku tersebut. Bagian depan kemasan menjadi ruang komunikasi paling mudah terlihat. Klaim mengenai protein, serat, gula, bahan alami, atau kandungan tertentu membantu produk menjelaskan keunggulannya secara ringkas.
Namun istilah yang terdengar sehat sebaiknya tidak langsung diperlakukan sebagai penilaian terhadap keseluruhan mutu makanan.
WHO dalam panduan pola makan sehat yang diperbarui pada 2026 menekankan empat prinsip dasar: kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Tidak ada satu zat gizi yang dapat mewakili seluruh prinsip tersebut.
Ambil protein sebagai contoh. Produk dengan kandungan protein tinggi mungkin berguna untuk kebutuhan tertentu. Tetapi tubuh tetap membutuhkan sumber karbohidrat berkualitas, lemak, vitamin, mineral, dan serat.
Hal serupa berlaku pada produk berlabel rendah lemak. Lemak sendiri bukan komponen yang harus dihilangkan dari pola makan. WHO menyebut lemak tetap merupakan zat gizi esensial, meski jumlah dan jenisnya perlu diperhatikan.
Label di depan kemasan akhirnya lebih tepat digunakan sebagai pintu masuk. Keputusan sebenarnya membutuhkan sedikit informasi tambahan.
Klaim Bebas Gula Perlu Dibaca Sampai Belakang
Gula menjadi salah satu kata yang paling kuat dalam pemasaran makanan sehat. Produk yang terlihat rendah gula mudah mendapat citra lebih baik, terutama ketika dipromosikan dalam konten diet dan kebugaran.
WHO merekomendasikan asupan gula bebas kurang dari 10 persen total energi harian. Untuk pola makan 2.000 kilokalori, batas tersebut setara sekitar 50 gram atau 12 sendok teh per hari.
WHO bahkan menyebut pengurangan hingga di bawah 5 persen energi harian, sekitar 25 gram pada pola 2.000 kilokalori, dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Ada detail penting pada istilah gula bebas. Yang diperhitungkan bukan cuma gula pasir yang dituangkan ke makanan. Kategori ini mencakup gula yang ditambahkan oleh produsen, juru masak atau konsumen, serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus.
Sementara gula alami yang berada di dalam struktur buah utuh tidak diperlakukan dengan cara yang sama.
Itulah sebabnya tulisan seperti no added sugar perlu dibaca sesuai maknanya. Produk tanpa gula tambahan belum tentu berarti tidak mengandung gula sama sekali.
Bagi konsumen, tidak perlu menghafal semua istilah kimia pada kemasan. Mulailah dengan melihat tabel informasi nilai gizi dan ukuran sajinya.
Ukuran saji penting karena angka yang terlihat kecil dapat berubah ketika satu kemasan sebenarnya berisi lebih dari satu sajian. Jika seluruh bungkus dihabiskan sekaligus, asupan aktual tentu mengikuti jumlah yang benar-benar dimakan.
Natrium Sering Kalah Populer dari Protein dan Kalori
Ada satu angka lain yang mudah tenggelam di tengah tren healthy food: natrium. Konten kebugaran lebih sering berbicara mengenai kalori, protein, atau gula. Natrium jarang menjadi bintang utama sebuah video makanan, padahal asupannya tetap perlu diperhatikan.
WHO merekomendasikan konsumsi garam orang dewasa kurang dari 5 gram per hari. Jumlah itu setara dengan kurang dari 2 gram atau 2.000 miligram natrium.
Konteks Indonesia membuat isu ini cukup dekat dengan makanan sehari-hari. Natrium tidak datang dari garam meja saja. Berbagai saus, kecap, bumbu, makanan olahan, makanan instan, dan produk siap santap dapat ikut menyumbang asupan.
Maka produk yang terlihat menarik karena tinggi protein masih layak diperiksa kadar natriumnya, khususnya jika dikonsumsi cukup sering.
Hal tersebut bukan alasan untuk memusuhi makanan kemasan. Produk praktis memiliki tempat dalam kehidupan modern. Orang bekerja, bepergian, terjebak macet, atau memang tidak selalu sempat memasak.
Yang lebih realistis adalah mengetahui apa yang sering masuk ke keranjang.
Jika makan siang sudah cukup asin, makan malam bisa dibuat lebih sederhana. Bila camilan kemasan menjadi kebiasaan setiap sore, informasi natrium per sajian mulai memiliki nilai praktis.
Healthy Food Juga Butuh Serat
Salah satu paradoks makanan sehat di media sosial adalah tampilannya bisa sangat meyakinkan meski minim sayuran dan buah.
Sepotong makanan tinggi protein ditemani minuman rendah gula mungkin terlihat seperti menu fitness ideal. Namun tubuh juga membutuhkan serat.
WHO merekomendasikan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran setiap hari, sekaligus sedikitnya 25 gram serat pangan alami per hari.
Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI memberi gambaran yang lebih mudah divisualisasikan lewat Isi Piringku. Dalam satu kali makan, sekitar 50 persen piring diisi sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya diisi makanan pokok dan lauk-pauk.
Panduan tersebut terasa jauh lebih membumi saat diterapkan pada meja makan Indonesia.
Nasi, ikan, telur, tahu atau tempe tidak perlu kehilangan tempat. Sayur dan buah tinggal diberi ruang yang layak. Dengan pendekatan seperti ini, kualitas makan tidak bergantung pada keberadaan satu produk yang mengiklankan dirinya sebagai makanan sehat.
Ada keuntungan lain. Makanan utuh yang sudah dikenal sehari-hari sering tidak memiliki kemasan untuk meneriakkan keunggulannya.
Pisang tidak menuliskan source of fiber. Tempe di pasar tidak selalu memasang klaim plant-based protein. Kangkung juga tidak membutuhkan desain hijau minimalis agar tetap menjadi sayuran.
Ada Aturan di Balik Klaim pada Kemasan
Konsumen juga perlu tahu bahwa informasi nilai gizi dan klaim pada pangan olahan di Indonesia berada dalam ranah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
BPOM mengatur pencantuman Informasi Nilai Gizi pada label pangan olahan, termasuk informasi mengenai ukuran saji, energi, serta zat gizi tertentu. Indonesia juga telah menerapkan logo Pilihan Lebih Sehat pada produk yang memenuhi kriteria profil gizi untuk kategori pangan tertentu.
Logo tersebut berguna sebagai alat bantu membandingkan produk dalam kategori yang sama. Namun tetap bukan tiket untuk mengonsumsi suatu produk tanpa mempertimbangkan jumlah dan pola makan keseluruhan.
Cara membacanya bisa dibuat sederhana saat berdiri di depan rak.
Pertama, perhatikan ukuran sajinya. Setelah itu lihat zat gizi yang paling relevan dengan produk tersebut, misalnya gula, natrium, lemak jenuh, serat, atau protein. Lalu pertimbangkan seberapa sering makanan itu akan dikonsumsi.
Daftar bahan juga memberi konteks yang tidak selalu tampak dari desain depan kemasan.
Di Indonesia, daftar bahan pangan pada label dicantumkan secara berurutan berdasarkan jumlah bahan yang digunakan, dimulai dari bahan yang digunakan paling banyak, dengan ketentuan sesuai regulasi BPOM. Informasi tersebut membantu konsumen memahami komposisi produk tanpa harus menebak dari foto pada kemasan.
Tidak perlu berdiri lima menit sambil melakukan audit kecil pada setiap bungkus biskuit. Untuk produk yang sering dibeli, membaca label sekali dengan teliti sudah cukup membantu keputusan berikutnya.
Makanan Sehat Tidak Selalu Punya Tulisan “Sehat”
Tren healthy food punya manfaat karena membuat lebih banyak orang berbicara tentang apa yang mereka makan. Kesadaran terhadap protein, gula, serat, dan komposisi makanan jelas lebih berguna dibanding memilih tanpa pertimbangan sama sekali.
Hanya saja, desain kemasan mudah memengaruhi persepsi. Warna hijau, foto biji-bijian, kata natural, atau figur orang berolahraga dapat membangun kesan tertentu sebelum konsumen sempat melihat tabel gizinya.
Sore hari di supermarket Surabaya, keputusan paling masuk akal mungkin justru tidak terlalu rumit. Sebagian belanja berasal dari bahan yang minim proses seperti buah, sayuran, telur atau sumber protein lain. Produk kemasan dipilih dengan membaca informasi yang relevan, bukan semata mengikuti kata paling besar di bagian depan.
Label healthy food bisa membantu menyaring pilihan, tetapi ia tidak perlu mengambil alih keputusan kita. Kadang membalik kemasan selama beberapa detik memberi cerita yang jauh lebih lengkap daripada sisi depannya.
