JATIMNET.COM, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus suap dana hibah dari Kemenpora kepada KONI pada tahun anggaran 2018. Penyidik komisi anti rasuah ini pun memanggil Arief Susanto, staf protokoler Menpora.

“Arief akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH),” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Selasa 29 Januari 2019.

Arief sebelumnya juga telah diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Ending Fuad, Jumat 25 Januari 2019.

Saat itu, KPK mengonfirmasi Arief apa yang diketahuinya sehubungan tugasnya sebagai protokol, terutama terkait dengan penanganan perkara suap tersebut.

BACA JUGA: KPK Geledah Ruang Menpora

Dalam penyidikan kasus itu, KPK juga masih mendalami sejumlah informasi dan keterangan dari para saksi dan bukti-bukti lainnya yang telah dimiliki penyidik terkait peran dan perbuatan hukum Ending Fuad dalam perkara tersebut.

KPK telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini. Dua orang diduga sebagai pemberi, yakni Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy (EFH) dan Bendahara Umum KONI Jhonny E. Awuy (JEA).

Mereka yang diduga sebagai penerima, yaitu Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga Mulyana (MUL), Adhi Purnomo (AP) yang merupakan pejabat pembuat komitmen pada Kemenpora dan kawan-kawan, serta Eko Triyanto (ET) yang merupakan staf Kementerian Pemuda dan Olahraga dan kawan-kawan.

Diduga Adhi Purnomo, Eko Triyanto, dan kawan-kawan menerima pemberian sekurang-kurangnya Rp 318 juta dari pejabat KONI terkait dengan hibah pemerintah ke KONI melalui Kemenpora.

BACA JUGA: Kejari Tanjung Perak Periksa 100 RT/RW Penerima Dana Hibah

Mulyana diduga menerima uang dalam ATM dengan saldo sekitar Rp 100 juta terkait dengan penyaluran bantuan dari pemerintah melalui Kemenpora kepada pihak KONI pada tahun anggaran 2018.

Sebelumnya, Mulyana telah menerima pemberian pemberian lainnya, yaitu pada bulan April 2018 menerima satu unit mobil Toyota Fortuner, pada bulan Juni 2018 menerima sebesar Rp 300 juta dari Jhonny E. Awuy, dan pada bulan September 2018 menerima satu unit smartphone merek Samsung Galaxy Note 9.

Dana hibah dari Kemenpora untuk KONI yang dialokasikan adalah sebesar Rp 17,9 miliar.

Pada tahap awal, diduga KONI mengajukan proposal kepada Kemenpora untuk mendapatkan dana hibah tersebut.

Diduga pengajuan dan penyaluran dana hibah sebagai "akal-akalan" dan tidak didasari kondisi yang sebenarnya.

Sebelum proposal diajukan, diduga telah ada kesepakatan antara pihak Kemenpora dan KONI untuk mengalokasikan "fee" sebesar 19,13 persen dari total dana hibah Rp 17,9 miliar, yaitu sejumlah Rp 3,4 miliar. (ant)