Logo

Kisah ‘Darpana’ Diangkat dalam Pentas Teater di Jombang

Ingatkan Pentingnya Adaptasi di Setiap Masa
Reporter:,Editor:

Minggu, 03 August 2025 07:00 UTC

Kisah ‘Darpana’ Diangkat dalam Pentas Teater di Jombang

Pentas teater 'Darpana' di Gedung Kesenian Jombang. Penampilan hasil produksi ke-44 Komunitas Tombo Ati ini dalam rangka perayaan ulang tahunnya ke-29, Minggu, 3 Agustus 2025. Foto: Taufiqur Rachman

JATIMNET.COM, Jombang - Gedung Kesenian Jombang mendadak ramai oleh gelak tawa dan renungan penonton selama tiga hari dari tanggal 1 hingga 3 Agustus 2025.

Karya teater bertajuk 'Darpana' ini menjadi perayaan ulang tahun ke-29 Komunitas Tombo Ati di Kota Santri yang masih aktif di dunia kebudayaan lokal Jombang.

Karya ke-44 milik teater Tombo Ati ini ternyata banyak digemari warga Jombang. Tak heran, jika pertunjukkannya diusung empat sesi selama tiga hari di Gedung Kesenian Jombang, Jalan Kusuma Bangsa, Sengon, Jombang.

Produksi ini menjadi bukti konsistensi Tombo Ati selama 29 tahun menjadikan teater sebagai medium penyadaran.   

"Ini kisah tentang Post Power Syndrome. Aryo, tokoh utama yang dulunya berpengaruh, menciptakan dunia khayal di mana ia menjadi raja dan keluarganya adalah tokoh pewayangan. Ini bisa terjadi pada siapa saja yang tak bisa menerima perubahan," ucap Sutradara Imam Ghozali dalam teater, Minggu, 3 Agustus 2025.

BACA: Jazz Gunung Bromo 2024, Elfa's Singer dan Ndarboy Genk Goyang Jemaah Al Jaziah 

Soal pesan pertunjukan, Imam menegaskan ‘Darpana’ berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti cermin. Menurutnya, pentas ini bukan sekadar hiburan tapi tentang bagaimana manusia sering kali terjebak dalam ilusi masa lalu.

"Jadi pesan utamanya, ketika seseorang tidak mampu menyesuaikan diri dengan kenyataan, ia bisa terjebak dalam pantulan masa lalunya sendiri. Pertunjukan ini adalah ruang kontemplasi, refleksi, ruang katarsis juga untuk siapa saja yang sedang berhadapan dengan realita hidup yang berubah,” jelas sutradara asal Jombang ini.

Sementara itu, Fandi Ahmad, penulis naskah menceritakan singkat pertunjukan yang diadaptasi dari naskah "Maaf, Maaf, Maaf" karya Nano Riantiarno. Menurutnya, karya tersebut menghadirkan ironi lewat panggung megah bergaya kerajaan.

"Hanya 60 persen alur asli yang kami pertahankan. Sisanya kami sesuaikan dengan konteks kekinian, termasuk inspirasi dari pengalaman pribadi saya sebagai pensiunan," terangnya.

BACA: Lestarikan Kebudayaan Kuliner, KWG Bakal Kembali Gelar Festival Nasi Krawu

Perlu diketahui, hari ini terakhir pementasan teater Tombo Ati diwarnai gelak tawa penonton. Suasana itu pecah dari bangku penonton ketika komedian Moh. Shuluhil Amin atau akrab disapa Cak Ukil yang memerankan tokoh Kidang Alit tampil.

Dengan gaya dagelan khasnya, ia menghadirkan jeda segar di antara dialog penuh simbol. Penampilan sukses menghidupkan panggung dengan kelucuan yang tetap membumi di teater Tombo Ati ini.