Logo

Kinerja Fiskal Jatim 2026 Dijaga Positif, Kemenkeu Waspadai Dampak Geopolitik Global

Reporter:,Editor:

Kamis, 26 March 2026 11:00 UTC

Kinerja Fiskal Jatim 2026 Dijaga Positif, Kemenkeu Waspadai Dampak Geopolitik Global

Kepala Kanwil DJP Jawa Timur I sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur, Max Darmawan (tiga dari kanan) saat menjelaskan kondisi ekonomi di Jawa Timur, Kamis, 26 Maret 2026. Foto: Januar

JATIMNET.COM, Surabaya — Perwakilan Kementerian Keuangan Republik Indonesia di Jawa Timur tetap optimistis terhadap kinerja fiskal regional pada 2026. Meski dihadapkan pada dinamika geopolitik global, pemerintah menilai kondisi fiskal daerah masih berada dalam jalur yang terjaga.

Kepala Kanwil DJP Jawa Timur I sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur, Max Darmawan, menyampaikan bahwa penerimaan pajak pada awal tahun menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga dua bulan pertama 2026, capaian pajak tercatat tumbuh signifikan.

“Kita sudah sampaikan dari pajak sudah terkumpul sekitar Rp13 triliun atau Rp10,5 triliun secara neto karena memang ada restitusi yang harus dikeluarkan di dua bulan pertama. Dari sisi pertumbuhan baik bruto maupun neto itu pertumbuhannya signifikan dua digit,” kata Max dalam konferensi pers ALCo APBN KiTa Regional Jawa Timur di Surabaya, Kamis, 26 Maret 2026.

Capaian tersebut menjadi indikator awal yang memperkuat keyakinan pemerintah dalam mengejar target penerimaan pajak sepanjang tahun ini. "Kami optimis bisa mencapai terget dalam penerimaan pajak," jelasnya.

Meski demikian, Kementerian Keuangan tetap mengantisipasi potensi risiko dari faktor eksternal. Ketegangan geopolitik global dinilai dapat berdampak pada stabilitas ekonomi, terutama melalui fluktuasi harga energi dan komoditas strategis.

“Geopolitik global tentunya ada hal-hal yang perlu kita waspadai, terutama mungkin harga bahan bakar dan juga nanti hal-hal lainnya,” ujarnya.

Secara keseluruhan, hingga Februari 2026 realisasi pendapatan negara di Jawa Timur telah mencapai Rp37,05 triliun atau 12,27 persen dari target Rp301,95 triliun. Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan menyumbang Rp35,35 triliun, sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp1,69 triliun.

Di sisi belanja, realisasi anggaran negara tercatat Rp19,43 triliun atau 17,44 persen dari total pagu. Angka tersebut terdiri atas belanja kementerian/lembaga sebesar Rp4,56 triliun serta transfer ke daerah sebesar Rp14,87 triliun.

Selain itu, performa ekonomi Jawa Timur pada tahun sebelumnya turut menjadi fondasi yang kuat. Pada 2025, ekonomi Jatim tumbuh 5,33 persen, melampaui pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang sektor industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga.

Menurut Max, capaian tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan fiskal daerah di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.