Senin, 30 March 2026 12:00 UTC

ubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa (baju putih rompi hitam) memanen padi varietas Sunggal di Desa Trisono, Kec.Babadan, Kab. Ponorogo, Senin, 25 April 2022. Foto: Gayuh Satria
JATIMNET.COM, Surabaya – Puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus 2026 disebut bakal berdampak signifikan terhadap produktivitas pertanian di Jawa Timur (Jatim).
Oleh karena itu, Gubernur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan tentang potensi tantangan tersebut.
“Ada prediksi, kemungkinan kenaikan panas yang kemudian berpengaruh pada ketersediaan air dan irigasi teknis kita untuk mengairi sawah-sawah. Ini termasuk hal yang menjadi perhatian,” ujarnya dalam rapat paripurna dengan agenda penyampaikan LKPj Tahun Anggaran 2025 di gedung DPRD Jatim, Senin, 30 Maret 2026.
Prediksi berlangsungnya puncak musim kemarau itu merupakan hasil koordinasi antara Pemerintah Provinsi Jatim dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan.
Oleh karena itu, produktivitas padi, jagung, telur, daging ayam, daging sapi yang menjadi komoditas unggulan di Jatim harus mendapatkan perhatian lebih. Hal ini sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan berkelanjutan.
Di sisi lain, Khofifah menyebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur juga mengalami peningkatan signifikan sebagai bagian dari upaya menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
“IPM kita juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Harapan kita bahwa menjemput Indonesia Emas 2045 itu antara lain dengan IPM yang lebih kualitatif,” katanya.
