Logo

Kecelakaan Maut Driver Ojol di Tuban Sisakan Protes dari Keluarga Korban

Reporter:,Editor:

Kamis, 14 May 2026 08:00 UTC

Kecelakaan Maut Driver Ojol di Tuban Sisakan Protes dari Keluarga Korban

Aksi nyala lilin yang dilakukan oleh ratusan driver ojol di Jalan Letda Sucipto, Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, Rabu malam, 13 Mei 2026. Foto: Zidni Ilman

JATIMNET.COM, Tuban – Duka atas meninggalnya seorang driver ojek online (ojol) dalam kecelakaan lalu lintas di depan proyek Sekolah Rakyat (SR) Tuban berubah menjadi protes dari pihak keluarga dan rekan sesama ojol. Mereka menilai penyelesaian yang diberikan belum memberi rasa keadilan bagi keluarga korban.

Kekecewaan muncul setelah pihak keluarga menerima santunan sebesar Rp20 juta dari PT Waskita Karya selaku pengelola proyek bersama PDAM Tirta Lestari Tuban. Nominal tersebut dianggap tidak sebanding dengan kehilangan nyawa korban yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga.

Sepupu korban, Mujiono, mengatakan pihak perusahaan memang telah datang ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan santunan. Namun, menurutnya, nyawa seseorang tidak dapat dinilai dengan uang berapapun.

“Kalau nyawa kan tidak bisa ditukar dengan uang. Saya kira nyawa siapapun tak bisa dibayar dengan uang,” ujar Mujiono, Rabu malam, 13 Mei 2026.

Ia menjelaskan, korban selama ini membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai driver ojol sekaligus menjaga warung milik orang tuanya. Kondisi ayah korban yang sudah tidak mampu bekerja membuat korban menjadi penopang utama kebutuhan keluarga.

Selain mempersoalkan santunan, pihak keluarga juga mempertimbangkan membawa kasus tersebut ke jalur hukum apabila tidak ada tindak lanjut maupun kejelasan dari pihak terkait atas dugaan penyebab kecelakaan.

“Kalau memang tidak ada kelanjutan, titik terang, kita tetap lanjutkan ke kepolisian,” tegasnya.

Sementara itu, Koalisi Komunitas Ojol Tuban (KKOT) turut mendampingi keluarga korban dan meminta seluruh pihak lebih memperhatikan kondisi psikologis keluarga yang masih berduka. Ketua KKOT, Hendra Waskita, mengatakan bantuan tidak cukup hanya bersifat formalitas.

Menurutnya, keluarga korban membutuhkan perhatian dan kepastian agar bisa merasa lebih tenang setelah kehilangan anggota keluarga mereka.

“Kami harapkan agar keluarga bisa lega. Dan bisa diperhatikan lagi, bukan sekedar datang memberi, tapi faktor kelegaan tadi,” kata Hendra.

Ia juga menyebut pihak perusahaan telah meminta maaf dan mengakui adanya kesalahan dalam peristiwa tersebut. Meski begitu, proses penyelesaian dinilai masih berjalan dan keluarga korban masih mengalami syok mendalam.

“Mau uang 100, 500, 1 M pun gak akan bisa mengembalikan saudara kita yang sudah meninggal,” pungkasnya.