Kamis, 28 May 2026 08:00 UTC

Ilustrasi: Gadget di rumah. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Gadget menjadi bagian dari pengasuhan modern dengan cara yang mungkin tidak pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Ponsel pintar, tablet, televisi digital, hingga platform video kini hadir hampir di setiap rumah dan menemani anak sejak usia sangat dini.
Fenomena ini bukan sekadar kesan subjektif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan akses internet anak Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada kelompok usia 5–24 tahun, mayoritas sudah pernah mengakses internet, terutama melalui perangkat seluler. Internet tidak lagi menjadi fasilitas tambahan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga modern.
Di sisi lain, laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221,56 juta orang pada 2024 dengan penetrasi sebesar 79,5 persen populasi nasional. Artinya, sebagian besar rumah tangga Indonesia kini hidup dalam lingkungan yang selalu terhubung secara digital.
Perubahan ini membawa manfaat besar. Anak dapat belajar melalui video edukasi, berkomunikasi dengan keluarga, mengakses materi sekolah, hingga mengembangkan kreativitas. Namun muncul pula pertanyaan yang semakin sering dibahas para orang tua: apakah gadget perlahan berubah menjadi pengasuh kedua di rumah?
Mengapa Gadget Menjadi Solusi yang Praktis?
Kehidupan keluarga modern berbeda dibandingkan dua atau tiga dekade lalu. Banyak orang tua bekerja dengan jadwal yang padat, menghadapi perjalanan harian yang panjang, serta harus membagi waktu antara pekerjaan dan urusan rumah tangga.
Dalam situasi tersebut, gadget sering menjadi solusi yang paling mudah. Sebuah video animasi atau aplikasi permainan edukatif mampu membuat anak tenang dalam hitungan menit.
Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia. Laporan UNICEF menyebut teknologi digital telah menjadi bagian penting dari kehidupan anak-anak global, bahkan sejak usia yang semakin muda. Perangkat digital digunakan untuk belajar, bermain, berkomunikasi, dan mencari hiburan.
Bagi banyak keluarga, penggunaan gadget bukan semata bentuk kelalaian. Sering kali keputusan tersebut lahir dari kebutuhan praktis. Saat orang tua harus menyelesaikan pekerjaan, menghadiri rapat daring, atau mengurus pekerjaan rumah, perangkat digital menjadi alat bantu yang tersedia setiap saat.
Karena itu, penggunaan gadget dalam keluarga modern sebenarnya lebih kompleks dibanding sekadar perdebatan antara benar atau salah.
Screen Time Anak Terus Menjadi Perhatian
Meski memberi kemudahan, penggunaan perangkat digital dalam durasi panjang tetap menjadi perhatian berbagai lembaga kesehatan dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan anak usia di bawah dua tahun tidak mendapatkan paparan layar pasif, sementara anak usia 2–4 tahun sebaiknya tidak melebihi satu jam screen time per hari dan semakin sedikit semakin baik.
Rekomendasi tersebut lahir karena masa kanak-kanak merupakan periode penting bagi perkembangan kemampuan sosial, bahasa, motorik, dan emosional. Interaksi langsung dengan orang tua, teman sebaya, maupun lingkungan fisik tetap memiliki peran yang tidak dapat sepenuhnya digantikan layar.
Penelitian yang dipublikasikan berbagai jurnal perkembangan anak juga menunjukkan bahwa kualitas pendampingan lebih penting dibanding sekadar keberadaan perangkat itu sendiri. Anak yang menggunakan teknologi bersama orang tua umumnya memperoleh manfaat lebih baik dibanding penggunaan tanpa pendampingan.
Masalah utama bukan hanya durasi penggunaan, melainkan apa yang dikonsumsi dan bagaimana perangkat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Saat Gadget Menggantikan Interaksi
Salah satu perubahan yang paling sering disadari orang tua adalah berkurangnya interaksi langsung ketika layar menjadi pusat perhatian utama.
Anak mungkin terlihat tenang selama menonton video atau bermain gim. Namun ketenangan tersebut tidak selalu berarti kebutuhan perkembangan sosialnya terpenuhi.
Pada masa awal pertumbuhan, anak belajar memahami emosi melalui percakapan, ekspresi wajah, sentuhan, serta interaksi langsung dengan orang lain. Pengalaman tersebut sulit direplikasi secara penuh oleh teknologi.
Karena itu, banyak ahli perkembangan anak mengingatkan bahwa perangkat digital sebaiknya berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti hubungan sosial.
Fenomena inilah yang membuat istilah "gadget sebagai pengasuh kedua" semakin sering muncul. Bukan karena perangkat memiliki kemampuan mengasuh, melainkan karena waktu interaksi antara anak dan layar dalam beberapa keluarga mulai mendekati atau bahkan melampaui waktu interaksi dengan orang dewasa.
Membangun Hubungan yang Sehat dengan Teknologi
Kabar baiknya, solusi atas persoalan ini tidak selalu berarti melarang gadget sepenuhnya. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan modern dan akan terus hadir dalam dunia pendidikan maupun pekerjaan di masa depan. Tantangannya adalah membangun kebiasaan penggunaan yang sehat sejak dini.
Banyak pakar merekomendasikan beberapa langkah sederhana. Misalnya menetapkan zona bebas gawai saat makan bersama, membatasi penggunaan sebelum tidur, memilih konten sesuai usia, dan meluangkan waktu khusus untuk aktivitas tanpa layar.
Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa teknologi adalah alat yang digunakan secara sadar, bukan sesuatu yang menguasai seluruh waktu mereka.
Orang tua juga tidak harus menjadi ahli teknologi untuk mendampingi anak. Yang lebih penting adalah keterlibatan aktif, rasa ingin tahu terhadap aktivitas digital anak, dan komunikasi yang terbuka mengenai apa yang mereka tonton atau mainkan.
Gadget menjadi bagian dari pengasuhan modern, tetapi perangkat digital tidak pernah benar-benar mampu menggantikan hubungan manusia. Teknologi dapat membantu mengisi waktu, mendukung proses belajar, dan memberi hiburan.
Namun rasa aman, perhatian, empati, serta nilai-nilai yang membentuk karakter anak tetap tumbuh dari interaksi nyata di dalam keluarga. Di tengah dunia yang semakin digital, kehadiran orang tua tetap menjadi teknologi paling penting bagi perkembangan anak.
