Logo

Kenapa Orang Kini Selalu Ingin Cek Dulu Sebelum Percaya?

Kepercayaan masih penting, tetapi verifikasi kini menjadi kebiasaan yang semakin dianggap perlu.
Reporter:,Editor:

Minggu, 31 May 2026 00:00 UTC

Kenapa Orang Kini Selalu Ingin Cek Dulu Sebelum Percaya?

Ilustrasi: Cek dulu sebelum percaya. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Budaya cek fakta semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tidak lagi langsung mempercayai informasi yang diterima, baik dari media sosial, grup percakapan, tokoh publik, maupun sumber berita yang beredar cepat di internet.

 

Fenomena ini terlihat dari kebiasaan sederhana yang semakin umum dilakukan. Saat menerima informasi baru, sebagian orang langsung membuka mesin pencari, membandingkan beberapa sumber, atau mencari konfirmasi dari lembaga resmi.

 

Perilaku tersebut bukan sekadar tren digital, melainkan respons terhadap banjir informasi yang terus meningkat setiap hari. Perubahan ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko informasi yang tidak akurat.

 

Dalam banyak kasus, satu unggahan dapat menyebar ke jutaan pengguna hanya dalam hitungan jam. Akibatnya, kemampuan memverifikasi informasi menjadi keterampilan yang semakin penting dalam kehidupan modern.

 

 

Banjir Informasi Membuat Publik Lebih Waspada

 

Jumlah informasi yang diterima masyarakat saat ini jauh lebih besar dibanding satu dekade lalu. Data dari DataReportal menunjukkan pengguna internet Indonesia telah mencapai lebih dari 212 juta orang pada awal 2025. Angka tersebut setara dengan sekitar 74 persen populasi nasional.

 

Pada saat yang sama, penggunaan media sosial juga sangat tinggi. Laporan yang sama mencatat masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk mengakses platform media sosial.

 

Dalam rentang waktu tersebut, pengguna dapat menerima ratusan hingga ribuan potongan informasi dari berbagai sumber.

 

Semakin besar volume informasi yang diterima, semakin besar pula kemungkinan munculnya informasi yang keliru. Kondisi inilah yang mendorong masyarakat menjadi lebih selektif sebelum mempercayai suatu klaim.

 

Tidak mengherankan jika kebiasaan mencari sumber pembanding kini menjadi bagian dari rutinitas digital banyak orang.  Bahkan keputusan sederhana seperti memilih produk, menentukan tempat makan, atau mengikuti tren tertentu sering diawali dengan pencarian informasi tambahan terlebih dahulu.

 

 

Tingkat Kepercayaan Terhadap Informasi Digital Mengalami Tantangan

 

Laporan tahunan dari Edelman Trust Barometer selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat global semakin berhati-hati terhadap informasi yang beredar secara online. Banyak responden mengaku kesulitan membedakan informasi benar dan salah di ruang digital.

 

Sementara itu, survei dari UNESCO mengenai literasi media dan informasi menunjukkan bahwa kemampuan mengevaluasi sumber informasi menjadi salah satu kompetensi yang paling dibutuhkan masyarakat abad ke-21.

 

Perubahan perilaku ini bukan berarti masyarakat menjadi tidak percaya kepada siapa pun. Yang berubah adalah prosesnya.  Kepercayaan tidak lagi diberikan secara otomatis hanya karena seseorang memiliki jabatan, popularitas, atau banyak pengikut di media sosial.

 

Publik kini cenderung mencari bukti pendukung, rekam jejak, sumber resmi, dan konsistensi informasi sebelum membentuk penilaian. Dalam banyak situasi, proses verifikasi justru dianggap sebagai bentuk tanggung jawab sebelum menyebarkan informasi kepada orang lain.

 

 

Mesin Pencari Membentuk Kebiasaan Baru

 

Kemudahan akses internet membuat proses pengecekan informasi berlangsung dalam hitungan detik. Mesin pencari, situs resmi pemerintah, jurnal publik, hingga media kredibel dapat diakses kapan saja melalui telepon genggam.

 

Menurut data Pew Research Center, mayoritas pengguna internet di berbagai negara menggunakan mesin pencari sebagai langkah awal ketika ingin memastikan kebenaran sebuah informasi. Kebiasaan ini terus meningkat seiring bertambahnya akses terhadap teknologi digital.

 

Generasi muda menjadi kelompok yang paling terbiasa dengan pola tersebut. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang memungkinkan perbandingan informasi dilakukan secara cepat dan praktis.

 

Namun, kemudahan akses juga membawa tantangan baru. Tidak semua sumber memiliki kualitas yang sama. Karena itu, kemampuan mengenali sumber terpercaya menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mencari informasi itu sendiri.

 

 

Skeptis Boleh, Tetapi Tetap Harus Objektif

 

Meningkatnya budaya cek fakta memiliki banyak manfaat. Masyarakat menjadi lebih kritis, tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan, dan lebih bertanggung jawab dalam membagikan konten kepada orang lain.

 

Meski demikian, sikap kritis perlu dibarengi dengan objektivitas. Tidak semua informasi yang belum sesuai dengan pandangan pribadi otomatis salah.

 

Verifikasi seharusnya dilakukan dengan membandingkan berbagai sumber yang kredibel dan berbasis data. Organisasi seperti International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) juga menekankan pentingnya memeriksa sumber, tanggal publikasi, konteks informasi, serta tujuan sebuah konten sebelum mengambil kesimpulan.

 

Kebiasaan sederhana seperti membaca lebih dari satu sumber, memeriksa data resmi, dan tidak langsung membagikan informasi yang belum terverifikasi dapat membantu menciptakan ruang digital yang lebih sehat.

 

Pada akhirnya, budaya cek fakta bukan tentang menjadi curiga kepada semua orang. Kebiasaan ini muncul karena masyarakat hidup dalam lingkungan informasi yang semakin kompleks.

 

Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk memverifikasi fakta menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kualitas keputusan, percakapan, dan kepercayaan publik.

 

Karena itu, semakin banyak orang yang memilih cek dulu sebelum percaya, bukan karena tidak percaya, melainkan karena ingin memastikan bahwa informasi yang mereka terima benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.