Rabu, 27 May 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Sehat belum tentu aman. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Gula darah tinggi sering tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa tubuhnya sehat, tetap bekerja seperti biasa, aktif beraktivitas, bahkan rutin berolahraga, tetapi baru mengetahui dirinya mengalami diabetes setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau muncul komplikasi tertentu.
Fenomena ini bukan kasus yang langka. Di Indonesia, jutaan orang diperkirakan hidup dengan diabetes tanpa diagnosis. Mereka tidak merasa sakit, tidak mengalami keluhan yang mengganggu, dan tidak memiliki alasan kuat untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut membuat diabetes menjadi salah satu penyakit yang paling sering terlambat terdeteksi. Saat gejala mulai terasa, kerusakan pada berbagai sistem tubuh terkadang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Tubuh Mampu Beradaptasi dengan Perubahan yang Terjadi
Salah satu alasan seseorang tetap merasa sehat meski gula darah tinggi adalah kemampuan tubuh untuk beradaptasi.
Ketika kadar gula darah meningkat secara bertahap dalam waktu lama, tubuh sering kali menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Akibatnya, gejala tidak muncul secara mendadak seperti penyakit infeksi yang menyebabkan demam atau nyeri hebat.
Banyak orang tetap dapat bekerja, berkendara, berolahraga ringan, dan menjalani rutinitas normal meskipun kadar gula darahnya sudah berada di atas batas normal.
Karena perubahan berlangsung perlahan, tubuh menganggap kondisi tersebut sebagai bagian dari keadaan sehari-hari. Seseorang mungkin merasa lebih cepat lelah dibanding beberapa tahun lalu, tetapi menganggapnya sebagai konsekuensi usia atau kesibukan pekerjaan.
Padahal, perubahan kecil yang dianggap normal tersebut bisa menjadi bagian dari proses gangguan metabolik yang sedang berkembang.
Gejala Awalnya Sangat Mudah Diabaikan
Diabetes sering memberikan tanda yang terlihat ringan dan tidak spesifik. Rasa haus berlebihan, sering buang air kecil, cepat lapar, mudah lelah, pandangan sedikit kabur, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas termasuk gejala yang umum ditemukan.
Namun, gejala tersebut juga bisa muncul akibat kurang tidur, stres, cuaca panas, atau aktivitas yang padat.
Menurut pedoman dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), banyak penderita diabetes tipe 2 bahkan tidak menyadari gejalanya selama bertahun-tahun karena perkembangan penyakit berlangsung perlahan.
Di era modern, kondisi ini menjadi semakin kompleks. Jam kerja panjang, penggunaan perangkat digital hingga larut malam, dan kualitas tidur yang buruk membuat banyak orang terbiasa merasa lelah setiap hari.
Akibatnya, sinyal yang diberikan tubuh sering tenggelam di tengah rutinitas yang sibuk.
Data Menunjukkan Banyak Kasus Belum Terdiagnosis
Apa yang dirasakan masyarakat ternyata sejalan dengan data global. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan terdapat sekitar 20,4 juta orang dewasa usia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes di Indonesia pada 2024. Namun yang mengejutkan, sekitar 73,2 persen kasus diperkirakan belum terdiagnosis.
Artinya, lebih dari tujuh dari sepuluh penderita diabetes di Indonesia belum mengetahui kondisi kesehatannya. Fenomena serupa juga terjadi secara global. IDF melaporkan bahwa lebih dari 252 juta orang dewasa di dunia hidup dengan diabetes tanpa diagnosis.
Angka tersebut menunjukkan bahwa merasa sehat tidak selalu berarti kondisi metabolisme tubuh benar-benar berada dalam keadaan baik.
Dalam banyak kasus, diagnosis baru ditemukan ketika seseorang menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, tes laboratorium untuk kebutuhan pekerjaan, atau saat memeriksakan keluhan lain yang tidak berhubungan langsung dengan diabetes.
Gaya Hidup Modern Membuat Risiko Sulit Terlihat
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah banyak faktor risiko diabetes telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas duduk berjam-jam di kantor, kurang olahraga, konsumsi makanan ultra-proses, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis, serta waktu tidur yang tidak teratur sering dianggap normal dalam kehidupan modern.
Karena kebiasaan tersebut dilakukan oleh banyak orang, risiko kesehatan yang muncul juga terasa biasa. Padahal akumulasi faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur kadar gula darah dalam jangka panjang.
Di sinilah letak paradoksnya. Semakin umum suatu kebiasaan dilakukan, semakin kecil kemungkinan seseorang menganggapnya sebagai faktor risiko.
Padahal kesehatan metabolik dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari selama bertahun-tahun.
Pemeriksaan Berkala Menjadi Investasi Kesehatan
Karena diabetes tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas, pemeriksaan kesehatan berkala menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengenali risiko sejak dini.
Pemeriksaan gula darah relatif sederhana dan dapat membantu mendeteksi gangguan metabolisme sebelum komplikasi berkembang lebih jauh. Langkah ini menjadi semakin penting bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes, berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, atau gaya hidup yang kurang aktif.
Selain pemeriksaan rutin, menjaga pola makan seimbang, aktif bergerak, tidur cukup, dan mengelola berat badan tetap menjadi fondasi utama kesehatan metabolik.
Pada akhirnya, alasan banyak orang merasa sehat padahal gula darah sudah tinggi bukan karena tubuh benar-benar bebas masalah. Sering kali, kondisi tersebut terjadi karena diabetes berkembang perlahan dan nyaris tanpa gejala yang mencolok.
Maka, mendengarkan sinyal tubuh dan melakukan pemeriksaan secara berkala bukanlah bentuk kekhawatiran berlebihan. Justru itulah cara paling sederhana untuk mengetahui kondisi kesehatan yang sebenarnya sebelum masalah menjadi lebih besar.
