Rabu, 27 May 2026 00:00 UTC

Ilustrasi sadar sebelum terlambat. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Diabetes pada usia muda bukan lagi cerita yang jarang terdengar. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak kisah orang berusia 20–30 tahun yang baru mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah kondisi kesehatannya memburuk.
Ada yang datang ke rumah sakit karena kadar gula darah sangat tinggi, ada yang mengalami komplikasi, bahkan ada yang harus menjalani perawatan intensif sebelum diagnosis ditegakkan.
Kisah seperti yang dialami Lilla Syifa menjadi pengingat bahwa diabetes tidak selalu datang pada usia lanjut. Banyak gejala awal yang sebenarnya muncul lebih dulu, tetapi sering dianggap akibat kelelahan kerja, kurang tidur, atau pola hidup yang sedang tidak teratur.
Fenomena ini juga tercermin dalam berbagai data kesehatan nasional dan global. Indonesia saat ini termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia, sementara sebagian besar kasus justru belum terdiagnosis. Artinya, jutaan orang mungkin hidup dengan diabetes tanpa menyadarinya.
Diabetes Tidak Lagi Identik dengan Orang Tua
Selama bertahun-tahun, diabetes kerap dianggap sebagai penyakit yang muncul setelah usia lanjut. Pandangan tersebut membuat banyak anak muda merasa dirinya berada di luar kelompok berisiko.
Padahal, pola hidup masyarakat modern telah berubah drastis. Aktivitas kerja yang lebih banyak duduk, waktu tidur yang berantakan, konsumsi makanan ultra-proses, hingga kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Data International Diabetes Federation (IDF) menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta orang dewasa usia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes pada 2024. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia berdasarkan jumlah penderita diabetes. Prevalensi diabetes pada kelompok dewasa diperkirakan mencapai 11,3 persen.
Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas terus meningkat dibanding periode sebelumnya. Berbagai analisis berbasis data SKI mencatat prevalensi diabetes mencapai sekitar 11,7 persen, lebih tinggi dibanding hasil survei sebelumnya.
Gejala Awal yang Sering Dianggap Sepele
Salah satu alasan banyak orang terlambat mengetahui diabetes adalah karena gejalanya tidak selalu terlihat dramatis pada tahap awal.
Keluhan yang paling umum biasanya berupa sering haus, lebih sering buang air kecil, cepat lelah, berat badan turun tanpa sebab yang jelas, pandangan kabur, atau luka yang sulit sembuh. Masalahnya, gejala-gejala tersebut juga sering dikaitkan dengan stres, pekerjaan yang padat, atau kurang istirahat.
Pada kelompok usia produktif, kondisi ini menjadi lebih rumit karena banyak orang merasa masih sehat dan mampu beraktivitas normal. Mereka tetap bekerja, berolahraga sesekali, dan jarang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin.
Akibatnya, diagnosis baru dilakukan ketika kadar gula darah sudah sangat tinggi atau ketika komplikasi mulai muncul. Dalam beberapa kasus, penderita bahkan baru mengetahui kondisinya setelah menjalani perawatan darurat di rumah sakit.
Masalah Besarnya: Banyak yang Tidak Tahu Mereka Sakit
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari IDF Diabetes Atlas adalah tingginya angka diabetes yang belum terdiagnosis di Indonesia.
Pada 2024, diperkirakan 73,2 persen penderita diabetes di Indonesia belum mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Angka ini setara dengan sekitar 15 juta orang dewasa yang hidup dengan diabetes tanpa diagnosis resmi. Indonesia bahkan termasuk negara dengan jumlah kasus diabetes tidak terdiagnosis terbesar di dunia.
Fakta ini membantu menjelaskan mengapa banyak kisah diabetes terdengar datang secara mendadak. Bukan karena penyakitnya muncul tiba-tiba, melainkan karena prosesnya berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun tanpa pemeriksaan yang memadai.
Secara global, situasinya juga serupa. IDF melaporkan bahwa lebih dari 4 dari 10 orang dewasa yang hidup dengan diabetes di dunia tidak menyadari kondisinya. Pada 2025, sekitar 589 juta orang dewasa hidup dengan diabetes atau setara 1 dari 9 orang dewasa di dunia.
Gaya Hidup Modern Ikut Membentuk Risiko
Tidak semua diabetes disebabkan oleh pola hidup. Faktor genetik, usia, kondisi autoimun tertentu, hingga riwayat keluarga juga berperan penting.
Namun untuk diabetes tipe 2 yang merupakan jenis paling umum, sejumlah faktor risiko memang berkaitan erat dengan kebiasaan sehari-hari. Penelitian dan laporan kesehatan nasional secara konsisten menunjukkan hubungan antara diabetes dengan obesitas, kurang aktivitas fisik, hipertensi, serta pola makan yang tidak seimbang.
Di lingkungan perkotaan, kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis menjadi salah satu sorotan. Banyak orang tidak merasa sedang mengonsumsi gula berlebih karena sumbernya berasal dari kopi susu, minuman kemasan, teh manis, soda, atau minuman kekinian yang dianggap bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Ketika kebiasaan tersebut berlangsung bertahun-tahun dan dikombinasikan dengan kurang gerak serta kualitas tidur yang buruk, risiko gangguan metabolisme dapat meningkat.
Karena itu, diabetes pada usia muda sebaiknya tidak dipandang sebagai kejadian yang sepenuhnya mengejutkan. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut merupakan hasil akumulasi berbagai faktor yang bekerja secara perlahan.
Apa yang Bisa Dilakukan Sejak Sekarang?
Kabar baiknya, banyak faktor risiko diabetes dapat dikendalikan lebih awal. Langkah pertama yang paling sederhana adalah mengenali sinyal tubuh dan tidak menunda pemeriksaan ketika muncul keluhan yang berlangsung terus-menerus.
Pemeriksaan gula darah berkala menjadi penting, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga diabetes atau faktor risiko metabolik lainnya.
Selain itu, menjaga aktivitas fisik harian, memperbaiki kualitas tidur, memperhatikan konsumsi minuman manis, serta menjaga berat badan tetap sehat merupakan langkah yang telah lama direkomendasikan berbagai organisasi kesehatan.
Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara pandang terhadap diabetes itu sendiri. Penyakit ini bukan hanya urusan usia lanjut. Di tengah perubahan gaya hidup modern, diabetes dapat muncul pada siapa saja, termasuk mereka yang masih berada pada masa paling produktif dalam hidupnya.
Ketika semakin banyak anak muda baru sadar diabetes saat kondisinya sudah parah, pesan yang perlu diingat sebenarnya sederhana: deteksi dini jauh lebih mudah dibanding menghadapi komplikasi yang datang terlambat.
