Logo

Kehilangan Ayah Picu Remaja di Jember Kambuh, Sempat Mengamuk hingga Dipasung

Reporter:

Kamis, 02 April 2026 23:23 UTC

Kehilangan Ayah Picu Remaja di Jember Kambuh, Sempat Mengamuk hingga Dipasung

AR, remaja 16 tahun yang dipasung karena gangguan jiwa dan membahayakan sekitarnya, dievakuasi oleh petugas Dinsos Jatim untuk perawatan medis. Foto: Adi

JATIMNET.COM, Jember – Seorang remaja berinisial AR (16), warga Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengalami kekambuhan gangguan kejiwaan setelah ditinggal wafat ayahnya. Kondisi tersebut memicu perubahan emosi yang drastis hingga berujung pada tindakan pemasungan oleh keluarga.

AR sebelumnya telah menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang sejak pertengahan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Selama menjalani perawatan, kondisinya dilaporkan membaik dan sempat stabil setelah kembali ke rumah.

Namun, situasi berubah ketika AR mengetahui kabar meninggalnya sang ayah, yang terjadi sekitar satu minggu sebelum ia dipulangkan dari rumah sakit.

BACA: Remaja di Jember Dipasung 1,5 Bulan Usai Ayah Meninggal, Sempat Cekik Ibu dan Lempari Warga

Kepala UPT Liposos Dinas Sosial Jember, Roni Effendi, menyebut kedekatan emosional antara AR dan ayahnya menjadi faktor utama yang memicu gangguan psikis tersebut.

“AR ini sangat dekat dengan ayahnya. Ketika mengingat ayahnya yang sudah meninggal, dia menjadi emosional, marah-marah, bahkan sempat melakukan tindakan agresif seperti mencekik ibunya,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis, 2 April 2026.

Perubahan perilaku AR berlangsung cepat dan sulit dikendalikan. Ia kerap menunjukkan emosi tidak stabil dan melakukan tindakan yang membahayakan orang di sekitarnya.

Kondisi tersebut membuat keluarga merasa khawatir. Dengan keterbatasan pengetahuan dalam menangani gangguan kejiwaan, keluarga akhirnya memilih langkah pemasungan sebagai upaya pengamanan.

Meski demikian, saat dilakukan pengecekan oleh petugas, AR masih dapat diajak berkomunikasi dengan baik dan merespons percakapan secara normal.

“Secara komunikasi, nyambung. Diajak bicara dari A sampai Z masih bisa mengikuti. Tapi memang ada kekhawatiran dari keluarga terhadap kemungkinan tindakan negatif yang bisa dilakukan,” tambah Roni.

BACA: Remaja di Jember Dikeroyok 10 Temannya, Dijemput Paksa dan Ditinggalkan dalam Kondisi Luka

Kasus ini menjadi gambaran bahwa faktor emosional, seperti kehilangan orang terdekat, dapat menjadi pemicu kekambuhan pada pasien dengan gangguan kejiwaan jika tidak diiringi pendampingan dan pengobatan yang berkelanjutan.

Saat ini, AR telah dievakuasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari pemerintah.