Logo

Kedelai Mahal, Tempe di Mojokerto Ikut Menyusut

Diduga dampak perang di Timur Tengah
Reporter:,Editor:

Rabu, 01 April 2026 05:00 UTC

Kedelai Mahal, Tempe di Mojokerto Ikut Menyusut

Proses produksi tempe di Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto. Foto: Hasan

JATIMNET.COM, Mojokerto – Produsen tempe di Kabupaten Mojokerto mulai merasakan kenaikan harga kedelai yang diduga dampak perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Abdul Hadi, salah seorang produsen tempe di Desa Tambakagung, Kecamatan Puri, Mojokerto mengungkapkan harga kedelai yang sebelumnya di kisaran Rp9.000 per kilogram naik menjadi Rp10.500-11.000 per kilogram.

Kenaikan harga Rp1.500-Rp2.000 per kilogram dinyatakan cukup memberatkan para produsen tempe.

“Kenaikan harga ini, katanya dampak perang di Timur Tengah. Harga naik karena kedelai diimpor dari Amerika,” ujarnya.

Kondisi tersebut memaksa para produsen untuk mengambil langkah penyesuaian agar usaha tetap berjalan.

Salah satunya dengan mengurangi ukuran tempe yang dijual, tanpa menaikkan harga."Akhirnya mengurangi ukuran lebih kecil, tapi harga tetap sama," jelas Hadi.

Pria yang saban hari mengolah 1 kuintal kedelai menjadi tempe untuk dijual di pasar ini berharap agar harga kembali normal. "Kalau bisa ya normal lagi," harapnya.