Kecelakaan Ethiopian Airlines Punya Kesamaan dengan Lion Air

Nani Mashita

Senin, 18 Maret 2019 - 16:58

JATIMNET.COM, Surabaya - Kecelakaan yang menimpa pesawat Ethiopian Airlines memiliki kesamaan dengan Lion Air. Kesimpulan ini diambil setelah otoritas setempat berhasil menemukan kotak hitam.

Salah satu pesawat Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines jatuh pada 10 Maret 2019 lalu menewaskan 157 penumpang. Adapun kecelakaan pesawat Lion Air terjadi pada Oktober 2018 yang menewaskan 189 penumpangnya.

Kedua kecelakaan itu sama-sama melibatkan pesawat MAX 8s, dan keduanya jatuh beberapa menit setelah lepas landas setelah pilot melaporkan masalah kontrol penerbangan.

BACA JUGA: Keluarga WNI Penumpang Ethiopian Airlines Bantu Identifikasi Post Mortem

"Itu adalah kasus yang sama dengan orang Indonesia (Lion Air). Ada kesamaan yang jelas antara dua kecelakaan sejauh ini, "kata juru bicara kementerian transportasi Ethiopia Muse Yiheyis dilansir dari www.reuters.com, Senin 18 Maret 2019.

Muse Yiheyis mengatakan seluruh data di dalam kotak hitam berhasil dipulihkan. Timnya bekerjasama dengan tim dari Amerika terus memvalidasi isi dari kotak hitam itu. Dalam tiga hingga empat hari, akan didapatkan informasi yang baru.   

Dalam kasus kecelakaan Lion Air, penyidik berfokus kepada kemungkinan kerusakan sistem anti-stall yang dikenal sebagai MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System).

BACA JUGA: Satu Warga Indonesia Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Ethiopian Airlines

Seorang sumber di Addis Ababa, ibukota Ethiopia, mendengarkan rekaman kontrol lalu lintas udara dari komunikasi pesawat. Sumber itu mengatakan penerbangan 302 memiliki kecepatan yang luar biasa tinggi setelah lepas landas sebelum melaporkan masalah dan meminta izin untuk naik dengan cepat.

Hal ini memunculkan pertanyaan proses sertifikasi yang dilakukan oleh FAA terhadap pesawat Boeing 737 Max. Menurut laporan Wall Street Journal,  FAA telah berada di bawah "penyelidikan tidak biasa" oleh Departemen Transportasi atas masalah ini. Journal mengatakan penyelidikan akan mengarah ke kantor FAA di wilayah Seattle, lokasi pembuatan pesawat Boeing.

BACA JUGA: Pesawat Ethiopian Airlines Jatuh di Kota Bishoftu

Sedangkan Seattle Times menulis, FAA sudah menekankan adanya beberapa kelemahan penting. Proses sertifikasi juga dikeluarkan terlalu terburu-buru. Hal ini diduga lantaran pesaing Boeing, Airbus sudah meluncurkan seri terbarunya A320 Neo. Laporan itu bertanggal 11 hari sebelum kecelakaan Ethiopian Airlines, lapor surat kabar itu.

FAA menolak mengomentari laporan tersebut tetapi merujuk pada pernyataan sebelumnya tentang proses sertifikasi. Dikatakan proses mengikuti proses standar FAA.

Peraturan internasional mengharuskan laporan pendahuluan tentang kecelakaan itu untuk dirilis dalam waktu 30 hari. 

Baca Juga

loading...