Logo

Kebiasaan Sarapan Anak Muda yang Mulai Berubah

Pilihan makanan setiap pagi sering kali mencerminkan ritme hidup, bukan sekadar rasa lapar.
Reporter:,Editor:

Kamis, 02 July 2026 00:00 UTC

Kebiasaan Sarapan Anak Muda yang Mulai Berubah

Ilustrasi: Sarapan Sebelum Kuliah. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kebiasaan sarapan anak muda mengalami perubahan cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas kuliah yang padat, mobilitas tinggi, serta semakin mudahnya mengakses makanan melalui layanan digital membuat banyak mahasiswa dan pekerja muda mengubah cara mereka memulai hari.

 

Di kota besar seperti Surabaya, sarapan tidak lagi selalu identik dengan makan di rumah. Sebagian memilih membeli makanan dalam perjalanan menuju kampus, sebagian lagi mengandalkan roti, kopi, atau bahkan melewatkan sarapan demi mengejar waktu.  Pola tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan gaya hidup yang cukup kompleks.

 

Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas sarapan masih menjadi tantangan di Indonesia. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia masih belum memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayur harian.

 

Sebanyak 67,5% hanya mengonsumsi buah dan sayur sebanyak 1–2 porsi per hari, sementara hanya 3,3% yang mencapai konsumsi lebih dari lima porsi.

 

Kondisi ini menggambarkan bahwa kualitas pola makan sehari-hari, termasuk saat sarapan, masih perlu mendapat perhatian. 

 

 

Sarapan Kini Lebih Dipengaruhi Gaya Hidup

 

Bagi banyak mahasiswa, waktu menjadi faktor yang paling menentukan pilihan makanan. Jadwal kuliah pagi, perjalanan yang cukup jauh, hingga aktivitas organisasi membuat menu praktis menjadi pilihan utama.

 

Tidak mengherankan jika roti, kopi susu, nasi bungkus, atau makanan siap santap menjadi bagian dari rutinitas pagi. Pilihan tersebut memang membantu menghemat waktu, tetapi belum tentu memberikan komposisi gizi yang seimbang.

 

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Organisasi World Health Organization (WHO) juga menekankan pentingnya pola makan seimbang sejak pagi sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit tidak menular sepanjang siklus kehidupan.

 

Anjuran konsumsi minimal 400 gram buah dan sayur per hari menjadi salah satu acuan global yang masih sulit dipenuhi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. 

 

 

Kemudahan Digital Mengubah Cara Memilih Makanan

Aplikasi pesan-antar makanan memberikan kemudahan luar biasa bagi generasi muda. Hanya dalam beberapa menit, berbagai pilihan menu dapat dipesan tanpa harus meninggalkan tempat kos atau ruang belajar.

 

Kemudahan tersebut menghadirkan dua sisi berbeda. Di satu sisi, akses terhadap makanan menjadi lebih cepat. Di sisi lain, pilihan sering kali dipengaruhi oleh promo, tren media sosial, atau rekomendasi influencer dibandingkan pertimbangan nilai gizi.

 

Berbagai penelitian mengenai perilaku makan mahasiswa juga menunjukkan bahwa lingkungan sekitar memiliki pengaruh besar terhadap pilihan makanan.

 

Ketersediaan makanan sehat, kebiasaan teman sebaya, hingga paparan media digital terbukti berkaitan dengan pola konsumsi buah dan sayur di kalangan mahasiswa. 

 

 

Bukan Soal Mahal, tetapi Soal Konsistensi

 

Ada anggapan bahwa makan sehat selalu membutuhkan biaya lebih besar. Padahal, berbagai studi menunjukkan tantangan utamanya justru sering berada pada konsistensi memilih makanan yang lebih seimbang dibanding sekadar persoalan harga.

 

Di Surabaya, misalnya, banyak warung makan menyediakan sayur, tempe, tahu, telur, hingga buah potong dengan harga yang relatif terjangkau. Namun, pilihan tersebut sering kalah menarik dibanding makanan tinggi gula, garam, atau lemak yang lebih praktis dan banyak dipromosikan.

 

Perubahan kecil justru lebih mudah dipertahankan. Menambahkan satu porsi buah saat sarapan, memilih lauk berprotein, atau mengurangi minuman berpemanis setiap hari dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak dalam jangka panjang.

 

 

Membangun Pola Makan yang Lebih Realistis

 

Pola makan sehat tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Bagi mahasiswa maupun pekerja muda, pendekatan yang realistis biasanya lebih mudah dijalankan daripada aturan yang terlalu ketat.

 

Sarapan sederhana tetap dapat memenuhi kebutuhan energi apabila mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, serta tambahan buah atau sayur.

 

Menu seperti nasi, telur, sayur bening, atau roti gandum dengan telur dan buah sudah mampu memberikan variasi zat gizi yang lebih baik dibanding hanya mengandalkan minuman manis.

 

Yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa pola makan merupakan akumulasi kebiasaan. Satu kali melewatkan sarapan bukan berarti seluruh pola hidup menjadi buruk, tetapi jika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat memengaruhi kualitas asupan harian secara keseluruhan.

 

Kebiasaan sarapan anak muda bukan sekadar urusan mengisi perut sebelum beraktivitas. Di balik pilihan menu setiap pagi terdapat cara mengelola waktu, pengeluaran, serta menjaga kesehatan untuk mendukung aktivitas belajar maupun bekerja.

 

Ketika perubahan kecil dilakukan secara konsisten, sarapan dapat menjadi investasi sederhana bagi kualitas hidup di masa depan.