Logo

Surabaya dan Jejak Kota Pahlawan Jelang 17 Agustus  

Menjelang kemerdekaan, berjalan di Surabaya membuat sejarah terasa dekat dengan rutinitas kota hari ini.
Reporter:,Editor:

Minggu, 16 August 2026 05:00 UTC

Surabaya dan Jejak Kota Pahlawan Jelang 17 Agustus
 

Ilustrasi: Menyusuri Kota Pahlawan. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Jejak Kota Pahlawan terasa berbeda ketika Surabaya memasuki pertengahan Agustus. Merah putih muncul di jalan, kantor, pusat perdagangan, hingga permukiman. Di beberapa sudut, monumen perjuangan yang biasanya dilewati dalam perjalanan harian kembali mendapat perhatian.

Julukan Kota Pahlawan memang telanjur melekat kuat pada Surabaya. Pertempuran 10 November 1945 menjadi bagian penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tetapi warisan sejarah kota ini tersebar lebih luas daripada satu peristiwa dan satu monumen.

Bagi warga maupun pengunjung, sehari menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia bisa menjadi waktu yang pas melihat Surabaya dengan tempo berbeda. Bukan mengejar sebanyak mungkin destinasi, tetapi membaca hubungan antara ruang kota hari ini dan peristiwa yang pernah berlangsung di tempat yang sama.

 

Tugu Pahlawan Masih Menjadi Titik Baca Utama

Sulit membicarakan jejak perjuangan Surabaya tanpa melewati Tugu Pahlawan. Monumen setinggi 41,15 meter itu berdiri dengan bentuk menyerupai paku terbalik dan memiliki 10 lengkungan serta 11 ruas, angka yang merujuk pada 10 November 1945.

Detail tersebut membuat rancangan monumen memiliki hubungan langsung dengan peristiwa yang dikenangnya. Tugu Pahlawan diresmikan Presiden Soekarno pada 10 November 1952, tujuh tahun setelah pertempuran besar yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di kawasan yang sama terdapat Museum Sepuluh Nopember. Ruang museumnya dibangun sebagian di bawah permukaan tanah sehingga pandangan terhadap monumen tetap dominan.

Mengunjungi kawasan ini menjelang 17 Agustus memberi pengalaman yang agak berbeda dibanding sekadar berhenti untuk berfoto. Pengunjung dapat melihat bagaimana sebuah kota menyimpan ingatan sejarah di tengah aktivitas perkotaan yang terus bergerak.

Tidak jauh dari sana, lalu lintas Surabaya tetap berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas, pedagang membuka usaha, pekerja berangkat, dan orang berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain. Sejarah tidak ditempatkan jauh dari kehidupan sehari-hari.

 

Jalan Pahlawan Menghubungkan Sejarah dengan Kota Modern

Surabaya kini jauh lebih besar daripada kota yang menjadi arena pergolakan pada 1945.

Data BPS mencatat Kota Surabaya terdiri atas 31 kecamatan dan 153 kelurahan. Wilayah administrasinya membentuk kota metropolitan dengan pusat perdagangan, kawasan industri, permukiman lama, perumahan baru, hingga pusat jasa modern.

Kepadatan aktivitas tersebut membuat situs sejarah Surabaya menarik dilihat dari sudut lain. Banyak lokasi penting tidak berada di kawasan wisata yang terisolasi. Mereka berdampingan dengan jalan raya, gedung pemerintahan, pertokoan, permukiman dan aktivitas ekonomi.

Jalan Pahlawan merupakan salah satu contohnya.

Berjalan di kawasan ini pada pagi hari memberi kesempatan melihat beberapa lapisan Surabaya sekaligus. Tugu Pahlawan menjadi penanda paling jelas, sementara bangunan lama dan struktur kota di sekitarnya mengingatkan bahwa pusat Surabaya sudah lama menjadi ruang penting bagi perdagangan dan pemerintahan.

Ukuran kotanya juga membuat cerita tersebut hidup dalam lingkungan masyarakat yang besar. BPS mencatat penduduk Surabaya pada 2025 berada di kisaran 3 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, warisan Kota Pahlawan sekarang berada di tengah generasi yang kehidupan hariannya sangat berbeda dibanding warga Surabaya delapan dekade silam.

Ada pekerja yang mengenal Jalan Pahlawan sebagai bagian rute perjalanan. Ada keluarga yang datang ke museum. Ada pula anak muda yang lebih dulu mengenali kawasan bersejarah lewat foto dan konten digital.

Hubungan dengan sejarah memang tidak selalu dimulai dari buku.

 

Surabaya Punya Cerita di Luar Tugu Pahlawan

Berhenti pada Tugu Pahlawan saja membuat peta sejarah Surabaya terasa terlalu pendek. Salah satu lokasi penting berada di Hotel Majapahit, dahulu bernama Hotel Yamato. Di tempat inilah terjadi insiden perobekan bagian biru bendera Belanda pada 19 September 1945, sehingga menyisakan warna merah putih.

Peristiwa tersebut berlangsung sekitar satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan. Jarak waktunya memberi gambaran tentang suasana Surabaya saat itu: kemerdekaan telah diumumkan, tetapi pergulatan mengenai kekuasaan dan kedaulatan masih berlangsung di lapangan.

Ada pula Jembatan Merah, kawasan yang sejak masa kolonial mempunyai posisi penting dalam aktivitas perdagangan Surabaya. Area tersebut berkaitan erat dengan rangkaian ketegangan menjelang Pertempuran 10 November.

Salah satu kejadian penting terjadi pada 30 Oktober 1945, ketika Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di Surabaya. Peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari eskalasi yang mendahului pertempuran besar November.

Tanggal-tanggal tersebut membantu pembaca memahami satu hal: sejarah Surabaya tidak berlangsung dalam satu hari.
Rangkaian peristiwanya melewati jalan, hotel, jembatan, gedung dan kawasan yang sebagian masih dapat dijumpai sekarang. Jika disusun sebagai perjalanan kota, jarak antara sejarah dan keseharian terasa jauh lebih pendek.

 

Kota Pahlawan Juga Sedang Menua Bersama Warganya

Ada sisi lain yang jarang masuk dalam percakapan tentang wisata sejarah: siapa yang akan terus mengingat cerita tersebut?
Jawa Timur sedang mengalami perubahan struktur penduduk.

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis BPS menunjukkan penduduk lanjut usia di Jawa Timur telah mencapai 15,45 persen. Persentase itu menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan proporsi lansia tertinggi kedua di Indonesia.

Pada saat yang sama, rata-rata laju pertumbuhan penduduk Jawa Timur selama lima tahun terakhir berada pada 0,73 persen per tahun. Total fertility rate atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang perempuan selama masa reproduksinya tercatat 1,95 pada SUPAS 2025.

Data demografi tersebut memang tidak berbicara langsung mengenai museum atau monumen. Namun ada implikasi yang dekat dengan urusan sejarah.

Cerita tentang Surabaya 1945 semakin bergantung pada arsip, museum, keluarga, pendidikan, dokumentasi digital dan cara kota memperlakukan ruang bersejarahnya. Saksi yang memiliki hubungan dekat dengan generasi perjuangan tentu semakin sedikit.

Di sisi lain, generasi yang tumbuh dengan ponsel memiliki cara berbeda mengenal kota. Foto lama dapat dibandingkan dengan kondisi jalan hari ini. Arsip dapat dilihat melalui layar. Kunjungan ke museum bisa berawal dari sebuah video pendek yang muncul di media sosial.

Tidak semua perubahan itu perlu dicurigai sebagai tanda anak muda kehilangan minat sejarah. Medianya memang berubah.
Menyusuri Surabaya Tak Perlu Seharian Penuh

Untuk menikmati jejak Kota Pahlawan, rute sederhana justru lebih masuk akal.

Pagi dapat dimulai dari Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember. Setelah itu perjalanan bisa bergerak menuju kawasan Jembatan Merah, lalu melihat bagian kota lama yang menyimpan karakter arsitektur berbeda dari Surabaya modern.

Hotel Majapahit dapat menjadi titik lain untuk memahami kisah bendera pada September 1945. Pengunjung juga bisa menghubungkan perjalanan dengan Gedung Internatio dan kawasan bersejarah di sekitarnya.

Tidak perlu memperlakukan semuanya sebagai daftar yang harus dituntaskan. Surabaya berada di wilayah beriklim tropis dengan suhu siang yang mudah terasa terik. Berjalan pada pagi hari memberi pengalaman lebih nyaman, terutama jika rute mencakup beberapa ruang luar.

Air minum, alas kaki yang nyaman, dan jeda di antara kunjungan lebih berguna daripada jadwal yang terlalu padat. Tanggal 16 Agustus juga memiliki atmosfer tersendiri. Kota sedang berada beberapa jam sebelum peringatan kemerdekaan.

Bendera sudah terpasang, panggung lingkungan mulai siap, dan percakapan tentang acara esok hari mudah terdengar di berbagai sudut.

Besok, Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan, dihitung sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun, jejak Kota Pahlawan di Surabaya tidak harus menunggu perayaan tahunan untuk dikunjungi. Beberapa lokasinya bahkan mungkin sudah berkali-kali dilewati tanpa banyak diperhatikan.

Sesekali turun dari kendaraan dan berjalan beberapa ratus meter bisa mengubah cara melihat kota. Jalan yang tadinya sekadar rute perjalanan ternyata pernah menjadi halaman penting dalam sejarah Indonesia.