Logo

Dompet Jarang Dibersihkan, Kebiasaan Kecil yang Terlupa

Barang yang selalu dibawa justru sering luput dari rutinitas bersih-bersih.
Reporter:,Editor:

Rabu, 30 September 2026 00:00 UTC

Dompet Jarang Dibersihkan, Kebiasaan Kecil yang Terlupa

Ilustrasi: Saatnya Bersihkan Dompet. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Dompet jarang dibersihkan meski hampir setiap hari berpindah dari tangan, meja, tas, hingga permukaan lain. Kita lebih mudah mengingat lantai kotor atau meja berdebu karena keduanya terlihat jelas.

Berbeda dengan dompet. Permukaannya bisa tampak baik-baik saja, padahal barang ini terus disentuh sepanjang aktivitas harian.
Kebiasaan membersihkan barang pribadi sebenarnya menjadi bagian sederhana dari menjaga kebersihan. Terlebih, tangan merupakan penghubung antara berbagai benda yang kita sentuh dengan wajah, makanan, dan lingkungan rumah.

 

Dompet Termasuk Barang yang Sering Disentuh

Dompet mungkin tidak selalu masuk daftar pertama ketika seseorang membersihkan barang pribadi. Padahal frekuensi kontak tangan membuatnya layak mendapat perhatian.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat merekomendasikan permukaan yang sering disentuh untuk dibersihkan secara rutin. Prinsipnya sederhana: semakin sering suatu permukaan disentuh, semakin masuk akal kebersihannya diperhatikan. 

CDC juga memasukkan perangkat elektronik genggam, keyboard, remote control, sakelar lampu, dan keran sebagai contoh benda atau permukaan yang perlu diperhatikan kebersihannya.

Dompet memang tidak disebut secara khusus, tetapi pola penggunaannya memiliki karakter serupa sebagai barang yang berulang kali disentuh. 

Karena itu, membersihkan dompet bukan berarti menganggap setiap dompet sebagai sumber penyakit. Tujuannya lebih sederhana, yakni memasukkan barang yang sering disentuh ke rutinitas kebersihan sehari-hari.

 

Kebersihan Tangan Tetap Menjadi Fondasi

Membersihkan dompet tidak banyak berarti jika kebersihan tangan diabaikan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 81,60 persen rumah tangga Indonesia pada 2025 memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air.

Angkanya berbeda antarwilayah. Di Jawa Timur mencapai 85,00 persen, Jawa Barat 83,16 persen, sedangkan Bali tercatat 93,44 persen. Data tersebut menunjukkan fasilitas dasar sudah tersedia pada sebagian besar rumah tangga, meski aksesnya belum merata sepenuhnya. 

Sebagai pembanding, data global yang dihimpun UNICEF mencatat sekitar 79 persen penduduk Indonesia memiliki fasilitas dasar cuci tangan dengan sabun dan air di tempat tinggal pada 2022. Perbedaan angka dan tahun perlu dibaca sesuai metodologi masing-masing sumber. 

Ketersediaan fasilitas tentu belum otomatis menggambarkan kebiasaan. UNICEF sebelumnya mencatat sekitar 50 persen penduduk Indonesia berusia di atas 10 tahun tidak mencuci tangan menggunakan sabun pada waktu-waktu penting. Angka tersebut menunjukkan bahwa akses dan perilaku merupakan dua persoalan berbeda. 

 

Membersihkan Tidak Selalu Berarti Disinfeksi

Ada kecenderungan menganggap barang bersih harus selalu disemprot cairan disinfektan. Padahal pendekatan seperti itu tidak diperlukan untuk setiap kondisi.

CDC menjelaskan bahwa membersihkan dengan sabun atau deterjen dan tindakan mekanis dapat menghilangkan sebagian besar kuman pada banyak permukaan. Disinfeksi di rumah umumnya lebih relevan ketika ada orang sakit atau kondisi tertentu yang meningkatkan risiko penularan. 

Untuk dompet, material menjadi pertimbangan penting. Kulit asli, kulit sintetis, kain, dan bahan berlapis memiliki toleransi berbeda terhadap air maupun produk pembersih.

Cara paling aman adalah mengikuti petunjuk produsen. Keluarkan seluruh isi terlebih dahulu, buang sampah kecil, lalu gunakan metode pembersihan yang sesuai dengan materialnya.

Kebiasaan mencuci tangan setelah membersihkan barang juga tetap penting. Dalam pedoman kebersihan tangan, WHO menyebut penggunaan handrub berbasis alkohol membutuhkan sekitar 20–30 detik, sedangkan prosedur mencuci tangan dengan sabun dan air berlangsung sekitar 40–60 detik untuk mencapai efek yang diharapkan. 

 

Isi Dompet Juga Layak Dirapikan

Masalah dompet ternyata bukan hanya permukaannya. Struk lama, tiket, kertas kecil, kartu kedaluwarsa, hingga bungkus yang terlupa sering menumpuk di dalamnya.

Kebiasaan menyimpan benda yang tidak lagi diperlukan membuat dompet semakin penuh. Membersihkannya dapat sekaligus menjadi momentum memilah barang yang memang masih digunakan.

Persoalan membuang benda kecil juga terhubung dengan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih besar. Data indikatif Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sekitar 29,20 juta ton sampah per tahun dari 278 kabupaten/kota yang telah menginput data pada 2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar 32,9 persen tercatat terkelola, sementara 67,1 persen atau sekitar 19,59 juta ton belum terkelola. Angka itu bukan ukuran khusus sampah dari dompet, tetapi memberi konteks bahwa kebiasaan memilah dan membuang barang dengan benar tetap relevan dari tingkat rumah tangga. 

Artinya, struk atau kertas yang dikeluarkan dari dompet sebaiknya tidak sekadar berpindah ke laci. Pilah sesuai fasilitas pengelolaan sampah yang tersedia di lingkungan masing-masing.

 

Jadikan Kebersihan Barang Pribadi sebagai Rutinitas

Tidak ada aturan bahwa dompet harus dibersihkan setiap hari. Frekuensinya dapat disesuaikan dengan penggunaan, material, kondisi permukaan, serta lingkungan tempat dompet sering diletakkan.

Cara termudah adalah membuat pemeriksaan berkala. Keluarkan isi dompet, singkirkan benda yang tidak diperlukan, periksa noda, kemudian bersihkan bagian luar dan dalam sesuai petunjuk material.

Hindari pula kebiasaan meletakkan dompet sembarangan di area makan. Memisahkan barang yang sering dibawa keluar rumah dari permukaan tempat makanan disiapkan dapat membantu menjaga rutinitas kebersihan lebih teratur.

CDC menekankan bahwa permukaan yang sering disentuh perlu dibersihkan secara rutin, sementara permukaan lain dapat dibersihkan ketika terlihat kotor atau sesuai kebutuhan. Pendekatan berbasis frekuensi sentuhan ini lebih realistis daripada membersihkan semua benda secara berlebihan. 

Pada akhirnya, dompet jarang dibersihkan karena kita terbiasa melihatnya sebagai benda kecil yang selalu ikut bepergian. Justru karena kedekatan itulah kebersihannya mudah terlupakan.

Membersihkan dompet secara berkala tidak membutuhkan ritual rumit. Sedikit perhatian pada barang yang setiap hari disentuh bisa menjadi bagian dari gaya hidup bersih yang lebih konsisten.