JATIMNET.COM, Surabaya – Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jawa Timur terhadap Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muchammad Romahurmuziy mengagetkan banyak kalangan.

Pria yang akrab disapa Rommy ini merupakan salah satu politisi termuda yang memimpin sebuah partai yang punya kursi di Senayan. Saat terpilih menjadi Ketua Umum PPP, Rommy baru berusia 40 tahun.

Ia tumbuh di tengah keluarga politisi. Lahir di Sleman, 10 September 1974, Rommy adalah anak dari Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansoer, SH, yang merupakan pendiri IPNU (Ikatan Pelajar NU), sekaligus anggota DPR-GR mewakili Partai NU DIY zaman Orde Lama dan Rois Syuriah PBNU 1984-1986. Rommy juga cucu Menteri Agama ketujuh RI KH. Muhammad Wahib Wahab.

Karir politiknya memang menanjak secara singkat. Awalnya ia enggan untuk mengikuti jejak keluarganya yang terjun di dunia politik. Setelah lulus pada 1999 di Institut Teknologi Bandung (ITB), jurusan Teknik Fisika, Rommy melanjutkan kuliah master jurusan Teknik dan Manajemen Industri ITB bidang kekhususan kebijakan industri dan lulus tahun 2002.  

BACA JUGA: Ketum PPP Romahurmuziy Tertangkap Operasi Tangan KPK

Aktivitas politiknya dimulai dari anggota Garda Bangsa di Bandung, Jawa Barat tahun 1998. Garda Bangsa adalah organisasi yang berafiliasi dengan Partai Kebangkitan Bangsa. 

Mantan Siswa Teladan Nasional tingkat SMA mewakili Yogya itu akhirnya memilih PPP sebagai kendaraan politiknya. Alasannya, sejak kecil sudah sering mendampingi ibunya berkampanye untuk PPP. 

Sempat mencicipi jabatan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM RI, karier politik Rommy terus menanjak. Di PPP, Rommy digandeng Ketua PPP saat itu Suryadharma Ali sebagai Sekretaris Jenderal PPP periode 2011-2015 lewat Muktamar VII PPP tahun 2011. Di saat yang bersamaan dia duduk sebagai Ketua Komisi IV DPR RI yang membidangi masalah pertanian, kehutanan, bulog dan kelautan.

Konflik internal yang menerpa PPP mengangkat karier politik Rommy. Suryadharma Ali yang juga diangkat sebagai Menteri Agama tersandung korupsi haji di tahun 2014. Kasus hukum yang membelit Suryadharma Ali dimanfaatkan oleh Rommy untuk maju memimpin PPP.

BACA JUGA: Penangkapan Romahurmuziy Diduga Berlangsung di Sekitar Hotel Bumi Surabaya

Ketika itu, baik Suryadharma Ali maupun Rommy saling pecat memecat. Kedua belah pihak mengklaim sebagai kubu yang sah di mata hukum. Upaya islah keduanya kandas. Rommy akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PPP versi Muktamar VIII di Surabaya.  Di sisi lain, kubu Suryadharma Ali mengangkat Djan Faridz sebagai Ketua Umum PPP yang baru lewat Muktamar di Jakarta.  Namun pada akhirnya kepengurusan Rommy yang diakui oleh negara dan berpartisipasi dalam Pemilu 2014.

Selama perhelatan Pemilu dan Pilpres 2019 ini, Rommy membuat sejumlah terobosan. Salah satunya adalah mengubah citra PPP sebagai partai lawas menjadi partai untuk generasi milenial. Rommy juga membubuhkan panggilan ‘Gus’ dan mencitrakan diri sebagai santri gaul. Dia kerap tampil kasual dengan sorban hijau melilit di leher. Rommy juga sering manggung di sejumlah kegiatan. Maklum, saat SMA dia punya band bernama Bhinneka Svara IX.

BACA JUGA: Ketum PPP Romahurmuziy Tertangkap Operasi Tangan KPK

Dalam Pilpres 2019, Rommy adalah pendukung utama pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Dia menjadi sosok yang hampir selalu ada di samping Jokowi dalam sejumlah kegiatan kampanyenya. Bahkan sempat dikabarkan bakal jadi calon wakil presiden mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Di tengah semangat mengejar suara untuk Pemilu 2019 dan upaya pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin, Romahurmuziy malah tersandung kasus hukum. Ia ditangkap dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Surabaya.

Hingga kini, KPK belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus apa yang menyebabkan politisi muda yang memiliki motto kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas ini ditangkap lembaga anti rasuah, Jumat 15 Maret 2019 di Surabaya.