Istilah Halalbihalal Hanya Ada di Indonesia, Begini Sejarahnya 

Hari Istiawan

Sabtu, 8 Juni 2019 - 11:55

JATIMNET.COM, Surabaya – Istilah Halalbihalal ternyata hanya ada di Indonesia untuk menyebut acara pertemuan di institusi pemerintah, swasta, maupun kelompok, yang diselenggarakan untuk saling memaafkan di Hari Raya Idul Fitri.

Mengutip nu.or.id, penggagas istilah ini adalah KH Wahab Hasbullah atas permintaan Presiden Soekarno untuk mengatasi situasi politik di Indonesia pada 1948 yang dalam ancaman disintegrasi.

KH Masdar Farid Mas’udi menceritakan, di pertengahan bulan Ramadan, Bung Karno memanggil KH Wahab Hasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya dengan harapan dapat mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat kala itu.

BACA JUGA: Risma Kenalkan Makanan Suroboyoan pada Halalbihalal

Kiai Wahab kemudian memberi saran untuk menyelenggarakan Silaturahim. Sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahim. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturahim kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang,” kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturahim nanti kita pakai istilah halal bi halal,” kata Kiai Wahab menjelaskan.

Dari saran Kiai Wahab itulah kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahim yang diberi nama halalbihalal.

BACA JUGA: Cerita Pramugari yang Bertugas pada Lebaran, Antar Pemudik tapi Tak Mudik

Akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah istilah halal bi halal gagasan Kiai Wahab lekat dengan tradisi bangsa Indonesia pasca Lebaran hingga kini.

Kini, halalbihalal yang dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia lebih dari sekadar memaknai silaturahim. Tujuan utama Kiai Wahab untuk menyatukan para tokoh bangsa yang sedang berkonflik menuntut pula para individu yang mempunyai salah dan dosa untuk meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dengan hati dan dada yang lapang.

BACA JUGA: Ketupat, Kuliner Lebaran yang Nikmat

Begitu pun dengan orang yang dimintai maaf agar secara lapang dada pula memberikan maaf sehingga maaf memaafkan mewujudkan Idul Fitri itu sendiri, yaitu kembali pada jiwa yang suci tanpa noda bekas luka di hati.

Para pakar selama ini tidak menemukan dalam Alquran atau Hadits sebuah penjelasan tentang halal bihalal. Istilah tersebut memang khas Indonesia yang lahir dari spontanitas Kiai Wahab Hasbullah.

Baca Juga

loading...