INOVASI Gandeng 17 Mitra Pendidikan di Indonesia

Nani Mashita
Nani Mashita

Rabu, 7 November 2018 - 17:01

JATIMNET.COM, Surabaya – Pemerintah Indonesia dan Australia bekerja sama di bidang pendidikan dengan membuat lembaga INOVASI. Di dalam lembaga tersebut telah menggandeng 17 mitra non pemerintahan dalam program rintisan mutu pendidikan yang fokus pada literasi, numerasi dan pendidikan inklusi di empat provinsi.

Empat provinsi yang terpilih Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat yang akan berjalan dalam satu tahun ke depan.

“Keempat provinsi ini dipilih bukan karena memiliki kekurangan atau kelemahan di bidang pendidikan, tetapi sudah menjadi kesepakatan bersama dalam program ini,” kata Direktur Program INOVASI Mark Heyward dalam seminar Partnerships for Learning ll di Hotel JW Marriott Surabaya, Rabu 7 November 2018.

Dia mengatakan, kemitraan baru ini akan membantu memperluas kegiatan INOVASI di kabupaten mitranya, dan akan turut berkontribusi dalam menghasilkan bukti-bukti dan pendekatan yang efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa SD/Ml. 

Ada banyak tantangan yang dihadapi oleh masing-masing provinsi terkait dengan kondisi geografis, budaya, serta aspek sosialnya. “Pada dasarnya kami berharap mitra mampu meningkatkan hasil pembelajaran terutama di kelas awal yaitu di SD/MI lewat terobosan-terobosan pendidikan,” ujarnya. 

Kerjasama antara INOVASI dengan 17 mitra ini hanya berjalan antara 9 hingga 12 bulan. Bidang-bidang yang menjadi fokus utama program rintisan adalah pelatihan guru dalam hal kemampuan literasi dan numerasi dasar, pendidikan inklusif, kepemimpinan yang berpihak pada pembelajaran, pemberdayaan orang tua dan keterlibatan masyarakat, dan perpustakaan ramah anak. 

Sedangkan Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Moch. Abduh PhD menuturkan apa yang dilakukan INOVASI dengan 17 mitranya adalah sebuah kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan lokal lewat pendekatan lokal.

“Karena tidak ada konsep pendidikan yang fit for all,” terang Abduh.

Di Jatim, kata Abduh, banyak praktek baik atau inovasi pembelajaran yang mampu dijadikan inspirasi untuk diterapkan di sekolah-sekolah yang ada. Namun ia tidak menutup kemungkinan bahwa inovasi tersebut akan dibawa ke tingkat nasional untuk dijadikan contoh sekolah di Indonesia.

“Selama ini banyak guru yang seolah-olah menjadikan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) seperti kitab suci yang tidak boleh dipahami dengan cara yang berbeda,” sambungnya.

Baca Juga

loading...