Rabu, 28 October 2026 13:20 UTC

Retakan di sekitar jalan setapak penghubung Padukuhan Kidul Sawah dan Padukuhan Krajan, Dusun Krajan. Foto: Rio/Jatimnet
JATIMNET.COM, Jember — Ancaman longsor membayangi lima rumah warga di Desa Darungan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember. Retakan tanah sepanjang hampir 30 meter di sekitar jalan setapak penghubung Padukuhan Kidul Sawah dan Padukuhan Krajan, Dusun Krajan, kini semakin mendekati permukiman.
Kepala Desa Darungan H. Sukron Arafid mengatakan, jarak retakan dengan fondasi rumah warga diperkirakan hanya sekitar lima hingga enam meter. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena hujan kembali sering mengguyur wilayah setempat.
Menurut Sukron, pengikisan tanah di lokasi tersebut telah berlangsung sejak sekitar 1995. Tanah terus terkikis setiap musim hujan, sedangkan retakan mulai terlihat ketika memasuki musim kemarau.
“Sejak sekitar 1995 kondisinya sudah seperti itu. Setiap musim hujan tanah terus terkikis, sedangkan saat kemarau muncul retakan-retakan. Ketika hujan turun, tanah bisa langsung longsor,” kata Sukron saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Rabu malam,28 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, retakan tanah semakin melebar sejak musim kemarau. Saat hujan kembali turun, pengikisan tanah berpotensi memperbesar risiko longsor yang mengarah ke permukiman warga.
“Sejak musim kemarau, retakan tanah sudah semakin terlihat dan melebar. Sekarang hujan juga sering turun, sehingga tanah semakin terkikis dan berpotensi longsor. Kondisinya makin mengkhawatirkan karena sudah mendekati pondasi rumah warga,” ujarnya.
Pemerintah Desa Darungan kini memberi perhatian khusus terhadap lima rumah yang berada di sekitar titik rawan. Meski demikian, hingga berita ini ditulis, warga masih menempati rumah masing-masing dan belum menjalani evakuasi. Perangkat desa bersama kepala dusun terus memantau perkembangan kondisi tanah di lapangan.
Sukron berharap pemerintah segera memeriksa kestabilan tanah dan menentukan langkah penanganan untuk mencegah retakan meluas serta mengurangi risiko longsor yang mengancam rumah warga.
“Yang paling mengkhawatirkan ada lima rumah warga. Retakannya sekarang sudah mendekati pondasi rumah. Kalau tidak segera diantisipasi, kami khawatir longsoran akan semakin mendekati permukiman,” tuturnya.
Jalan Penghubung Antarpadukuhan Ikut Terancam
Kerusakan tanah tersebut tidak hanya mengancam rumah warga, tetapi juga akses penghubung Padukuhan Kidul Sawah dan Padukuhan Krajan. Jalan setapak itu menjadi jalur warga menuju permukiman di sekitarnya.
Masyarakat membangun jalan tersebut secara swadaya. Lebarnya yang terbatas membuat mobil tidak bisa melintas, sedangkan sepeda motor hanya dapat melewati bagian jalan yang kondisinya masih memungkinkan.
Sukron juga menyoroti kondisi jembatan gantung di sekitar lokasi yang menurut pengamatannya mengkhawatirkan. Ia berharap pemerintah turut memeriksa keamanan jembatan tersebut agar warga tetap memiliki akses yang aman.
Sudah Berulang Kali Ditinjau, Penanganan Belum Menyeluruh
Sukron mengungkapkan, pemerintah desa telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah kabupaten dan provinsi. Lokasi retakan tanah itu bahkan pernah ditinjau langsung pada masa kepemimpinan Bupati Jember MZA Djalal.
Namun, menurut Sukron, peninjauan tersebut belum berlanjut pada penanganan fisik secara menyeluruh.
“Sudah pernah diajukan ke kabupaten dan provinsi, bahkan pernah ditinjau. Namun, sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Kami berharap kali ini ada perhatian serius karena kondisinya semakin mengkhawatirkan,” katanya.
Ia mengaku prihatin karena persoalan yang berlangsung selama puluhan tahun itu belum mendapatkan penanganan sesuai harapan masyarakat, meskipun pemerintah telah beberapa kali meninjau lokasi.
“Dulu pernah ditinjau langsung saat di zaman Bupati Pak Djalal. Tapi saat itu juga belum ada tindak lanjut. Saya sampai malu dengan warga karena sering ditinjau tapi belum ada penanganan,” sambungnya.
Sukron menduga kebutuhan anggaran yang besar menjadi salah satu kendala penanganan. Meski demikian, ia berharap pemerintah tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut, terlebih retakan tanah kini semakin dekat dengan fondasi rumah warga.
Informasi mengenai kondisi tanah tersebut kembali menjadi perhatian setelah akun Facebook @Abd R. mengunggahnya di grup Info Warga Tanggul hingga viral.
Pemerintah Desa Darungan berharap pemerintah kabupaten dan provinsi segera berkoordinasi untuk melakukan pemeriksaan teknis serta menentukan langkah mitigasi. Penanganan tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko longsor, melindungi rumah warga, dan menjaga keamanan akses penghubung antarpadukuhan.
Berdasarkan keterangan Sukron, hingga berita ini ditulis belum ada penanganan fisik secara menyeluruh terhadap kerusakan tanah di lokasi tersebut.
