Harga Bawang Merah di Probolinggo Anjlok

Zulkiflie

Kamis, 7 Februari 2019 - 19:29

JATIMNET.COM, Probolinggo – Dalam sepekan terakhir ini petani bawang merah di Kabupaten Probolinggo mulai resah. Penyebabnya adalah harga jual bawang merah kualitas sedang, jatuh menjadi Rp 10 ribu per kilogram dari harga awal Rp 15 ribu per kilogram.

Tak hanya bawang merah sedang, merosotnya harga juga terjadi pada bawang merah kecil, yang biasa dipasok ke pabrik pengolahan bawang merah. Harga bawang merah kecil, mencapai Rp 2 ribu per kilogram atau anjlok dari harga sebelumnya Rp 7 ribu per kilogram.

Ridho, petani bawang merah di Kecamatan Dringu menuturkan turunnya harga bawang merah berkualitas sedang dan berukuran kecil sudah sejak sepekan terakhir.

Panen raya bawang merah serta diduga masuknya bawang merah dari luar Probolinoggo menjadi pemicu anjloknya harga bawang merah setempat.

BACA JUGA: Harga Bawang Merah Diprediksi Normal Pada Awal Tahun

“Susah mas, harga bawang sekarang merosot. Selain panen melimpah, kondisinya berbarengan dengan masuknya bawang dari Nganjuk dan Demak. Ini yang membuat harga semakin anjlok,” ungkap Ridho, Kamis 7 Februari 2019.

Faktor lain adalah sejumlah pabrik pengolahan bawang merah di kawasan Probolinggo lebih memilih impor.

“Bawang merah kecil impor lebih dipilih untuk diolah. Jadinya bawang kecil lokal banyak tak terjual,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Bidang Kebijakan Publik dan Fiskal, Kadin Kabupaten Probolinggo, Sugeng Muvindarko membenarkan anjloknya harga bawang merah di daerah setempat.

BACA JUGA: Ini Jumlah Bawang Disita Polisi Dari Penggerebekan Gudang Bawang Di Surabaya

“Kami berharap pemerintah daerah menjalankan Peraturan Menteri Perdagangan tentang harga bawang merah agar bisa diterapkan secara maksimal. Salah satu poinnya menyebut, standar harga bawang merah kering sawah sebesar Rp 18.300 per kilogram,” jelasnya saat dikonfirmasi melalui ponselnya.

Kadin juga menyarankan, agar pemberian subsidi pemerintah kepada petani bawang diberikan setelah panen. Dengan tujuan, mengantisipasi anjloknya harga komoditas saat panen berbarengan.

“Lebih baik pemerintah memberikan subsidi pasca panen, dari pada bantuan bibit dan obat-obatan. Kestabilan harga, menurut saya itu lebih penting agar petani tak merugi,” jelasnya.

Baca Juga

loading...