Minggu, 21 June 2026 07:30 UTC

Gus Hery Haryanto Azumi, Calon Ketum PBNU sowan ke Gus Fahim di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Foto: Instagram.com/bolone.gushery
JATIMNET.COM, Surabaya – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), suhu politik organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mulai meningkat.
Sejumlah nama kiai, pengasuh pesantren, hingga tokoh alumni pergerakan mahasiswa Islam bermunculan dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Salah satu nama yang kini ikut mencuri perhatian adalah Gus Hery Haryanto Azumi, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Kemunculan Gus Hery menambah daftar figur yang disebut siap bertarung dalam Muktamar NU yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Dinamika tersebut menunjukkan proses regenerasi kepemimpinan di tubuh NU mulai bergerak lebih terbuka dengan hadirnya tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang kaderisasi dan pesantren.
Gus Hery sebelumnya melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren Almanar Azhari di Depok, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu, ia mendapat dukungan moral dari tokoh sepuh NU sekaligus sahabat dekat Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, KH Manarul Hidayat. Pertemuan tersebut dinilai sebagai bagian dari konsolidasi menjelang kontestasi Muktamar NU.
“Saya sangat senang menerima para kader Nahdlatul Ulama yang memiliki kualitas keilmuan, integritas, dan kepedulian terhadap organisasi. NU membutuhkan kader-kader seperti ini untuk menjaga dan membesarkan organisasi,” ujar KH Manarul Hidayat saat menerima kunjungan Gus Hery di Pondok Pesantren Almanar Azhari, Depok, Jawa Barat, 6 Juni 2026.
KH Manarul menilai organisasi sebesar NU membutuhkan kesinambungan kaderisasi. Menurutnya, kader-kader intelektual NU yang memiliki rekam jejak organisasi dan kedekatan dengan tradisi ulama perlu mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan jam'iyah.
“Para kader intelektual NU yang memiliki kapasitas, kapabilitas, rekam jejak organisasi, dan rasa takdzim kepada para ulama tidak boleh hanya menjadi penonton. Mereka memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk ikut mengurus dan memimpin NU,” katanya di lokasi yang sama.
Masuknya nama Gus Hery memperkaya peta persaingan yang sebelumnya telah diwarnai sejumlah tokoh NU. Nama Ketua Umum PBNU petahana Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya masih disebut sebagai salah satu kandidat kuat.
Selain itu, muncul pula nama Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Muhaimin Iskandar, Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Zulfa Musthofa, hingga Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Sekretaris PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bahkan menyebut Nasaruddin Umar layak masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU karena memiliki pengalaman sebagai Katib Aam PBNU.
Dalam sejarah NU modern, sejumlah ketua umum sebelumnya memang pernah menempati posisi tersebut sebelum terpilih memimpin organisasi.
“Kalau kita lihat sejak zaman Gus Dur, paling tidak 40 tahun terakhir ini tiga ketua umum sebelumnya pernah menjadi Katib Aam,” ujar Saifullah Yusuf dalam rapat koordinasi Munas dan Konbes NU di Kediri, Jawa Timur, 16 Juni 2026.
Muktamar NU 2026 menjadi momentum penting karena akan menentukan arah organisasi yang memiliki jutaan warga nahdliyin di seluruh Indonesia.
Selain memilih ketua umum baru atau mempertahankan petahana, forum tertinggi NU itu juga akan membahas berbagai isu strategis keumatan, pendidikan, ekonomi umat, hingga peran organisasi dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Bagi kalangan nahdliyin, pergantian kepemimpinan bukan semata soal siapa yang terpilih. Yang lebih penting adalah bagaimana NU menjaga tradisi keilmuan, memperkuat pelayanan umat, serta mempertahankan peran sebagai salah satu pilar moderasi Islam di Indonesia.
Menghangatnya bursa calon Ketua Umum PBNU menunjukkan kaderisasi di tubuh NU terus berjalan. Kehadiran nama-nama baru seperti Gus Hery menandakan ruang partisipasi tetap terbuka bagi kader yang memiliki pengalaman organisasi dan basis dukungan.
Muktamar ke-35 nanti akan menjadi arena penentu arah perjalanan NU untuk beberapa tahun ke depan, sekaligus ujian bagaimana organisasi ini menjaga tradisi musyawarah di tengah dinamika zaman.
