Sabtu, 27 June 2026 03:00 UTC

Head Corporate Communication PT Pegadaian (Persero), Riana Tifani menjelaskan perkembangan investasi emas di aplikasi Tring, Sabtu, 27 Juni 2026. Foto: Januar.
JATIMNET.COM, Surabaya – Minat masyarakat terhadap investasi emas terus menunjukkan tren positif. Perubahan pola investasi tersebut terlihat dari pertumbuhan transaksi emas digital melalui aplikasi Tring milik PT Pegadaian (Persero) yang mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.
Hingga Mei 2026, nilai transaksi investasi emas melalui aplikasi Thring tercatat mencapai Rp25 miliar secara nasional. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi Rp22,5 miliar.
Pertumbuhan itu menjadi indikator bahwa emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati masyarakat. Kondisi ini terjadi meski harga emas mengalami pergerakan naik turun dalam beberapa bulan terakhir.
Head Corporate Communication PT Pegadaian (Persero), Riana Tifani mengatakan bahwa tren transaksi emas melalui Tring menunjukkan pertumbuhan positif sejak awal 2026.
“Kalau secara transaksi akumulasi seluruh Indonesia di dalam aplikasi Thring, itu mengalami peningkatan,” ujar perempuan yang akrab disapa Fani, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurutnya, peningkatan transaksi terjadi secara bertahap sejak Januari hingga Mei 2026. Kondisi tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai menjadikan emas sebagai pilihan investasi jangka panjang.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin aware terhadap investasi emas,” katanya.
Menariknya, peningkatan investasi emas digital tersebut banyak didorong oleh generasi muda. Pegadaian mencatat pengguna aplikasi Tring didominasi kalangan milenial dengan jumlah lebih dari separuh total pengguna.
“Kalau untuk generasi milenial memang di atas 50 persen untuk pengguna Tring sendiri,” jelas Fani.
Dominasi anak muda dalam investasi emas menunjukkan adanya perubahan kebiasaan dalam mengelola keuangan.
Investasi yang sebelumnya identik dengan kelompok usia mapan, kini mulai menjadi bagian dari perencanaan finansial generasi produktif.
Kemudahan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang membuat investasi emas semakin mudah dijangkau.
Melalui aplikasi, masyarakat dapat membeli emas dengan nominal yang lebih fleksibel tanpa harus datang langsung ke kantor layanan Pegadaian.
“Anak muda sekarang lebih agile memakai handphone, lebih adaptif, sehingga antusiasmenya cukup banyak,” ungkap Fani.
Peningkatan transaksi juga terjadi di tengah kondisi harga emas yang fluktuatif. Menurut Pegadaian, hal tersebut menunjukkan masyarakat mulai memahami emas bukan hanya sebagai aset yang mengikuti kenaikan harga, tetapi sebagai instrumen untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.
Melihat tren tersebut, Pegadaian terus memperkuat edukasi literasi keuangan agar masyarakat memahami cara berinvestasi yang aman dan sesuai kebutuhan.
“Literasi juga terus kami gencarkan. Tujuannya untuk mendukung cita-cita pemerintahan dan juga mendukung Indonesia Emas 2045,” ujar Fani.
Ia menambahkan, kehadiran layanan Bank Emas di Pegadaian menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap investasi emas.
“Dengan adanya penyematan nama Bank Emas di Pegadaian, menjadi PR bagi kami bagaimana caranya mencerdaskan masyarakat agar lebih aware terhadap investasi, khususnya instrumen investasi emas,” tuturnya.
Dengan meningkatnya transaksi digital dan dominasi generasi muda sebagai pengguna, investasi emas kini tidak lagi hanya menjadi pilihan kelompok tertentu.
Emas mulai menjadi bagian dari gaya pengelolaan keuangan generasi baru yang ingin mempersiapkan kondisi finansial jangka panjang.
