Sabtu, 01 August 2026 08:25 UTC

Petani memilah buah jeruk yang akan disetorkan ke SPPG, di kawasan bantaran sungai Lingkungan Balongcangkring, Mojokerto Jumat, 31 Juli 2026. Foto: Wanto
JATIMNET.COM, Mojokerto – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mulai memberikan manfaat nyata bagi petani jeruk di Kota Mojokerto. Kemitraan dalam penyediaan buah jeruk untuk kebutuhan MBG membuka pasar yang lebih pasti dan mampu meningkatkan pendapatan petani hingga sekitar Rp1,5 juta setiap kali panen.
Kelompok Tani Bangun Jaya memanen jeruk di kawasan bantaran Sungai Lingkungan Balongcangkring II, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto, Jumat, 31 Juli 2026. Sebagian besar hasil panen tersebut dikirim untuk memenuhi kebutuhan SPPG Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.
Koordinator Kelompok Tani Bangun Jaya, Eko Darsono (45), menjelaskan kebutuhan jeruk dari SPPG mencapai sekitar 3,5 kuintal dalam setiap pengiriman. Sementara produksi kelompok tani berkisar antara 5 hingga 6 kuintal sekali panen, sehingga distribusi dilakukan secara bertahap mengikuti jadwal permintaan.
“Untuk sementara ini kami memenuhi kebutuhan SPPG Mojoanyar. Sekali panen bisa menghasilkan 5 sampai 6 kuintal, tetapi pengirimannya menyesuaikan jadwal dari SPPG sehingga dilakukan bertahap,” ujar Eko.
BACA: BGN Larang Dapur MBG Gunakan Barang Subsidi
Ia mengatakan kelompok tani mengelola sekitar 10 hektare lahan jeruk di bantaran sungai dengan populasi kurang lebih 200 pohon. Varietas yang dibudidayakan adalah Jeruk Siam Madu yang saat ini dipasarkan dengan harga sekitar Rp15 ribu per kilogram.
Menurut Eko, tanaman jeruk yang telah berusia sekitar empat tahun mampu menghasilkan panen sebanyak tiga hingga empat kali dalam setahun. Setelah dipanen, pohon kembali memunculkan bakal buah sehingga proses panen dapat berlangsung secara berkelanjutan sesuai siklus produksi.
Eko menilai kerja sama dengan SPPG tidak hanya memberikan kepastian pasar, tetapi juga membangkitkan kembali semangat petani dalam mengembangkan budidaya jeruk. Sebelum ada kemitraan tersebut, petani sering kesulitan memasarkan hasil panen sehingga minat untuk merawat kebun ikut menurun.
“Dulu kami kesulitan mencari pasar. Setelah ada SPPG Jabon Mojoanyar yang siap menampung hasil panen dengan harga sesuai pasar, bahkan lebih baik, petani menjadi lebih bersemangat,” ujarnya.
Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan berupa maraknya pencurian buah jeruk. Eko menyebut aksi pencurian kerap terjadi, baik pada siang maupun malam hari, karena pengawasan di area perkebunan masih terbatas.
BACA: Usai Keracunan 349 Siswa, Kemenkes Temukan Dapur SPPG Wonodadi Belum Kantongi SLHS
Karena itu, para petani berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memperkuat sistem pengamanan kawasan kebun. Langkah tersebut dinilai penting agar hasil panen tetap terjaga sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani seiring bertambahnya permintaan dari SPPG.
Sementara itu, Kepala SPPG Jabon Mojokerto, Yanse Young Pribadi, menegaskan kemitraan dengan kelompok tani lokal menjadi bagian dari upaya memberdayakan petani sekaligus memastikan kebutuhan buah untuk program MBG dipenuhi dari hasil pertanian daerah.
“Melalui kerja sama ini, kami ingin memberdayakan petani agar semakin maju dan mandiri,” pungkasnya.
