Geely Caplok 50 Persen Saham Smart Milik Daimler

Nani Mashita

Jumat, 29 Maret 2019 - 11:33

JATIMNET.COM, Surabaya - Produsen mobil asal Jerman, Daimler AG mengumumkan kerjasama joint venture dengan produsen mobil asal Cina, Geely. Kerjasama ini dilakukan untuk merakit mobil listrik Smart, yang terus menurun penjualannya.

Daimler mengatakan mereka akan membangun generasi baru city-branded Smart di pabrik yang dibangun khusus di Cina. Selain itu, Daimler akan berbagi keahliannya di bidang manufaktur, teknik dan desain dengan Geely, seperti dilansir dari reuters.com, Kamis 28 Maret 2019.

Daimler dan Geely tidak mengungkapkan persyaratan keuangan dalam kesepakatan mereka. Rincian usaha patungan itu akan selesai pada akhir 2019, kata mereka dalam siaran pers bersama.

BACA JUGA: Tesla tertarik Kerja Sama dengan Daimler

Geely dilaporkan sepakat membeli 50 persen saham Smart. Keduanya sepakat akan membuat mobil Smart generasi berikutnya pada tahun 2022, dengan tujuan menjadikan merk ini sebagai pelopor mobilitas perkotaan, seperti dikutip dari ft.com.   

Kesepakatan ini menyelamatkan masa depan Smart, yang penjualannya terus menerus turun. Mengutip Handelsblatt, Smart terjual hanya 1.276 unit tahun lalu di Amerika Serikat. Gambaran ini lebih baik di Eropa di mana Smart bisa menjual 97.346 kendaraan pada tahun 2018.

Namun, Handelsblatt mencatat bahwa perusahaan tidak pernah mampu mencapai target penjualan asli sebesar 200.000 unit secara global. 

Memproduksi mobil di Cina untuk pasar global, kata CEO Geely Li Shufu, akan mendapat manfaat baik dari sinergi dalam manajemen merek, penelitian dan pengembangan, produksi dan supplier manajemen.

BACA JUGA: Mobil Self-Driving Bikin BMW dan Daimler Berdamai

Langkah Daimler membangun mobil di Cina ini untuk mengikuti pesaingnya, BMW, yang membuat mobil listriknya di Cina. BMW akan memproduksi di Cina yang dikenal sebagai negara dengan biaya produksi rendah.  

Tetapi, CEO Daimler Dieter Zetsche menegaskan pihaknya tetap akan mempertahankan pabrik Daimler di Hambach di Prancis. Pria yang akan pensiun pada Mei mendatang itu menegaskan pabrik itu akan dipakai untuk membangun mobil listrik pintar merk “EQ”. Dia juga menjamin jika investasi Rp 80 triliun di pabrik Hambach akan dijalankan sesuai rencana.

Tingginya biaya baterai mobil listrik telah mempersulit para pembuat mobil untuk membangun kendaraan nol-emisi yang terjangkau. Produsen mobil pun beramai-ramai membentuk kerjasama membuat mobil listrik.

Baca Juga

loading...