Selasa, 25 August 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Saring Sebelum Ikuti. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Satu video makanan kadang cukup untuk mengubah menu besok pagi. Kreator memperlihatkan sarapan tinggi protein, menjelaskan bahan yang dianggap lebih sehat, lalu menyelipkan tips mengurangi gula atau menurunkan berat badan.
Formatnya memang enak dikonsumsi. Tidak seperti membaca penjelasan gizi yang panjang, food influencer membawa informasi ke meja makan dalam bahasa sehari-hari.
Pengaruh tersebut semakin relevan di Indonesia. DataReportal mencatat 212 juta pengguna internet di Indonesia pada awal 2025, dengan penetrasi internet 74,6 persen.
Pada periode yang sama terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial, setara 50,2 persen populasi. Perlu dicatat, angka identitas pengguna media sosial tidak selalu mewakili individu unik.
Di tengah audiens sebesar itu, sebuah saran makan dapat berpindah dari layar ke piring jutaan orang dengan sangat cepat. Tantangannya sederhana: video yang meyakinkan belum tentu memberikan gambaran gizi secara lengkap.
Saat Resep Berubah Menjadi Nasihat Kesehatan
Tidak semua konten makanan memiliki bobot yang sama. Video cara membuat ayam panggang tentu berbeda dari video yang mengatakan menu tertentu dapat “memperbaiki hormon”, “membuang racun”, atau harus dimakan setiap hari agar berat badan turun.
Batas antara pengalaman pribadi dan nasihat kesehatan sering terlihat tipis di media sosial. Seorang kreator mungkin memulai video dengan memperlihatkan makan siang, lalu beberapa detik kemudian memberikan rekomendasi mengenai kalori, gula, karbohidrat atau suplemen.
Bagi penonton, semuanya datang dari orang yang sama dan dalam kemasan visual yang sama. Di sinilah kredensial menjadi relevan. Ketika pembahasan sudah menyentuh kebutuhan zat gizi, kondisi medis atau intervensi diet, latar belakang orang yang memberikan saran patut diperiksa.
Banyak pengikut tidak otomatis membuat seseorang memiliki kompetensi di bidang gizi. Jumlah likes juga bukan mekanisme peninjauan ilmiah.
Ada petunjuk lain yang cukup mudah dikenali. Waspadai klaim yang terdengar terlalu mutlak: satu makanan dianggap penyebab hampir semua masalah, satu bahan diklaim mampu menyelesaikannya, atau satu pola makan dikatakan cocok bagi semua orang.
WHO sendiri menegaskan komposisi pola makan sehat dapat berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, gaya hidup, tingkat aktivitas fisik, konteks budaya, serta ketersediaan pangan lokal.
Tubuh manusia memang kurang cocok dengan resep universal berdurasi 30 detik.
Angka Gizi Bisa Menjadi Filter yang Berguna
Tidak semua informasi kesehatan di media sosial harus dicurigai. Sebaliknya, beberapa angka dasar dapat dipakai sebagai alat untuk mengecek apakah sebuah klaim masih masuk akal. Ambil buah dan sayuran.
WHO pada panduan 2026 menganjurkan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari. Kelompok usia tersebut juga dianjurkan mendapatkan sedikitnya 25 gram serat pangan alami sehari.
Jadi ketika sebuah menu viral disebut sangat sehat tetapi sepanjang hari hampir tidak menyediakan sayur, buah atau sumber serat lain, ada alasan untuk melihatnya kembali secara kritis. Hal serupa berlaku pada gula.
WHO menyarankan gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10 persen total energi harian. Untuk orang dengan berat badan sehat yang mengonsumsi sekitar 2.000 kilokalori, jumlah tersebut setara sekitar 50 gram atau 12 sendok teh. Pengurangan hingga 5 persen atau kurang dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Gula bebas di sini mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula yang terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus.
Ini penting ketika konten menggunakan kata “tanpa gula pasir” untuk membangun kesan sebuah minuman bisa dikonsumsi bebas. Madu dan sirup tetap perlu diperhitungkan.
Natrium juga sering kalah menarik dibanding pembicaraan soal protein. Untuk orang dewasa, WHO menetapkan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari, setara dengan kurang dari 2.000 miligram natrium.
Tiga patokan tadi tidak membuat kita menjadi ahli gizi. Setidaknya, kita punya pembanding sebelum mempercayai klaim yang terdengar terlalu mudah.
Makanan Surabaya Tidak Harus Kalah dari Menu Viral
Ada efek samping kecil dari budaya makanan digital: menu sehat kadang terlihat memiliki estetika tertentu. Harus ada yoghurt, buah beri, salad, roti tertentu, protein bar, atau bahan yang namanya terdengar asing.
Makanan sehari-hari kemudian terasa kurang sehat hanya karena tidak memiliki citra serupa. Padahal prinsip pola makan sehat tidak bergantung pada seberapa fotogenik sebuah menu.
WHO menggunakan empat landasan utama, yakni kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Pola makan juga sebaiknya banyak mengandalkan makanan yang minim atau tidak diproses serta rendah lemak tidak sehat, gula bebas, dan natrium.
Konteks lokal justru membuat pilihan jauh lebih luas.
Di Surabaya, makan siang bisa berupa nasi, ikan, tahu atau tempe, sayur, dan buah. Pecel menawarkan aneka sayuran dengan lauk yang bisa disesuaikan.
Menu rumahan seperti sayur asem, tumisan, telur, ikan dan buah lokal juga mudah ditempatkan dalam pola makan beragam.
Bahkan karbohidrat tidak perlu otomatis menjadi musuh.
Panduan WHO 2026 menyebut pada kebanyakan orang, karbohidrat dapat menyumbang sekitar 45–75 persen energi harian, dengan prioritas pada sumber yang lebih sedikit diproses, termasuk biji-bijian utuh, sayuran, buah, dan kacang-kacangan.
Maka video yang meminta semua orang berhenti makan karbohidrat layak dibaca dengan konteks lebih luas. Diet rendah karbohidrat memang digunakan pada keadaan tertentu, tetapi itu berbeda dari menyatakan seluruh orang perlu menghindarinya.
Konten Bersponsor Perlu Lapisan Filter Tambahan
Ada satu hal yang sering baru terlihat setelah video berjalan cukup lama: produk muncul. Konten komersial bukan otomatis konten buruk. Kreator membutuhkan pemasukan, sementara merek membutuhkan saluran untuk memperkenalkan produk. Pembaca hanya perlu mengetahui kapan rekomendasi bertemu kepentingan komersial.
Hal ini menjadi lebih sensitif pada makanan dan minuman yang membawa klaim kesehatan. BPOM pada April 2026 menyetujui rancangan revisi aturan Informasi Nilai Gizi yang menambahkan Nutri-Level, sistem pelabelan gizi bagian depan kemasan yang dirancang membantu masyarakat memilih produk pangan yang lebih sehat. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.
Perkembangan seperti ini penting karena keputusan makan tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada kemampuan konsumen menghafal zat gizi. Lingkungan informasi juga perlu membantu.
Bagi pengguna media sosial, langkah praktisnya bisa lebih sederhana. Ketika kreator mempromosikan produk sambil memberi klaim kesehatan, cek apakah klaim tersebut spesifik, masuk akal, dan memiliki sumber. Perhatikan pula apakah kontennya merupakan kerja sama komersial.
Kalimat seperti “aku merasa lebih enak setelah mengonsumsinya” adalah pengalaman seseorang. Klaim bahwa produk tertentu dapat mencegah atau mengatasi penyakit berada di wilayah yang sangat berbeda.
Feed Bisa Dikurasi seperti Menu Makan
Algoritma belajar dari apa yang sering kita tonton. Jika seseorang terus berhenti pada video diet ekstrem, transformasi tubuh, atau makanan yang diberi label “baik” dan “buruk”, konten serupa akan semakin sering muncul. Lama-kelamaan, sesuatu yang berulang dapat terasa seperti konsensus.
Sesekali membersihkan feed kesehatan cukup masuk akal. Akun yang gemar membuat klaim sensasional bisa dilewati. Kreator yang menjelaskan sumber informasi, mengakui keterbatasan, dan tidak menjual satu pola makan untuk semua orang lebih layak mendapat ruang.
Boleh juga mengikuti akun yang berbicara tentang makanan secara lebih normal. Ada sayur, ada nasi, ada lauk, sesekali makan di luar, dan tidak setiap suapan membutuhkan narasi “detoks”.
Surabaya menyediakan contoh yang bagus tentang betapa beragamnya kehidupan makan sehari-hari. Pagi bisa dimulai dengan menu rumahan, siang makan bersama rekan kerja, sore mampir membeli buah, malam bertemu keluarga di warung langganan. Sulit memasukkan seluruh ritme tersebut ke satu aturan diet dari internet.
Food influencer tetap bisa menjadi sumber ide resep dan inspirasi makan yang menyenangkan. Namun saat konten mulai memberi nasihat gizi, ada tiga hal yang layak ikut masuk ke layar: siapa yang berbicara, bukti apa yang digunakan, dan apakah sarannya masuk akal untuk kebutuhan kita sendiri.
Kadang keputusan makan yang paling sehat justru terjadi setelah kita menutup video, melihat isi piring sendiri, lalu menambahkan sayur yang tadi hampir terlupakan.
