Kamis, 20 August 2026 01:00 UTC

Ilustrasi: Langkah yang terukur. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Fitness tracker sudah bergeser dari aksesori olahraga menjadi teman sehari-hari. Di Surabaya, perangkat kecil itu mudah terlihat di pergelangan pelari pagi, pesepeda, pekerja kantoran, sampai orang yang sekadar berjalan mengitari taman sebelum beraktivitas.
Perubahannya cukup menarik. Dulu orang selesai berjalan lalu pulang. Sekarang, sebagian akan mengecek layar: berapa langkah, berapa lama bergerak, bagaimana detak jantung, atau apakah target harian sudah tercapai.
American College of Sports Medicine (ACSM) bahkan menempatkan wearable technology sebagai tren kebugaran nomor satu dunia pada 2026. Survei tahunannya melibatkan sekitar 2.000 klinisi, peneliti, dan profesional kebugaran. Perangkat wearable juga diperkirakan telah dimiliki sekitar 36–44 persen orang dewasa.
Dari Mengandalkan Perasaan ke Melihat Pola
Daya tarik fitness tracker sebenarnya sederhana: aktivitas yang sebelumnya tidak terlihat berubah menjadi data. Berjalan dari tempat parkir, naik tangga, jogging pagi, atau berkeliling kawasan permukiman dapat tercatat menjadi rangkaian angka.
Perangkat modern biasanya memantau langkah, jarak, kecepatan, serta detak jantung. Sejumlah perangkat menawarkan sensor dan fitur tambahan yang jauh lebih kompleks. Bagi warga kota dengan rutinitas padat, informasi semacam ini dapat menjadi pengingat yang praktis. Seseorang mungkin merasa sudah cukup aktif karena seharian sibuk. Catatan di pergelangan tangan terkadang bercerita lain.
Hal itu relevan ketika melihat situasi aktivitas fisik secara global. WHO mencatat sekitar 31 persen orang dewasa dunia atau sekitar 1,8 miliar orang tidak mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan pada 2022. Proporsinya meningkat sekitar 5 poin persentase dibanding 2010.
Jadi, persoalannya sering bukan mencari olahraga yang rumit. Ada orang yang memang perlu lebih sering berdiri, berjalan, atau menyelipkan aktivitas di tengah pekerjaan.
Fitness Tracker Berguna karena Membuat Kebiasaan Terlihat
Surabaya menyediakan gambaran yang cukup akrab. Pagi belum terlalu tinggi, trotoar dan ruang terbuka mulai diisi orang berjalan. Beberapa memilih berlari, sementara lainnya cukup bergerak santai sebelum udara kota semakin panas. Fitness tracker bisa memberi struktur pada aktivitas semacam itu.
Alih-alih mengandalkan ingatan, pengguna dapat melihat pola beberapa hari atau minggu. Senin mungkin aktif, Selasa banyak duduk, kemudian akhir pekan kembali bergerak. Dari sana, perangkat bekerja lebih mirip catatan kebiasaan daripada pelatih.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kesehatan publik yang kini semakin memperhatikan pengukuran aktivitas secara objektif. WHO memasukkan akselerometer, pedometer, dan GPS sebagai perangkat yang dapat digunakan untuk mengukur aktivitas fisik. Pada 2026,
WHO juga menerbitkan dokumen teknis khusus mengenai integrasi teknologi wearable dalam sistem pemantauan aktivitas fisik populasi. Namun ada perbedaan penting antara memantau dan menilai kesehatan seseorang secara utuh.
Jam di tangan dapat membantu mencatat perilaku. Ia tidak mengetahui seluruh konteks tubuh, riwayat kesehatan, obat yang dikonsumsi, kualitas gerakan, ataupun banyak faktor lain yang biasanya dipertimbangkan tenaga kesehatan.
Target 10.000 Langkah Tak Perlu Menjadi Harga Mati
Di sinilah penggunaan fitness tracker kadang mulai bergeser. Target yang awalnya memotivasi dapat berubah menjadi angka yang dikejar setiap malam.
Padahal rekomendasi kesehatan publik tidak dibangun hanya berdasarkan satu target langkah harian. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan sekitar 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat, maupun kombinasi keduanya. Latihan penguatan otot juga dianjurkan setidaknya dua hari dalam seminggu.
Dengan acuan tersebut, 10.000 langkah lebih tepat diperlakukan sebagai salah satu sasaran praktis, bukan angka universal yang menentukan seseorang sehat atau tidak.
Orang yang sebelumnya sangat sedikit bergerak bisa mendapatkan perubahan kebiasaan berarti ketika mulai menambah aktivitas secara bertahap. WHO sendiri menekankan bahwa sejumlah aktivitas fisik tetap lebih baik dibanding tidak bergerak sama sekali.
Aktivitas transportasi, berjalan kaki, bersepeda, pekerjaan rumah, olahraga, dan kegiatan rekreasi semuanya dapat dihitung sebagai aktivitas fisik.
Ini membuat fitness tracker lebih masuk akal ketika dipakai untuk membaca kemajuan pribadi, bukan membandingkan angka dengan teman.
Data Pergelangan Tangan Tetap Punya Batas
Perangkat wearable berkembang cepat. Sensor generasi baru sudah menawarkan pemantauan yang jauh melampaui penghitung langkah, termasuk data ritme jantung, temperatur kulit, sampai fitur pendeteksi jatuh atau kecelakaan pada perangkat tertentu.
Kemajuan tersebut membawa satu godaan: menganggap semua angka di layar sebagai hasil pengukuran medis.
ACSM justru mengingatkan bahwa profesional olahraga perlu memahami perbedaan akurasi antarperangkat. Inovasi produk dapat bergerak lebih cepat daripada proses validasi ilmiah terhadap teknologi tersebut.
WHO menghadapi persoalan serupa dari sisi kesehatan publik. Pertemuan ilmiah yang dirangkum dalam laporan Februari 2026 masih membahas kebutuhan akan metrik inti, spesifikasi perangkat, protokol penggunaan, evaluasi bukti, serta kesenjangan penelitian dalam pengukuran aktivitas menggunakan wearable.
Maka satu hasil aneh sebaiknya tidak langsung mengundang kesimpulan besar. Detak jantung, estimasi kalori, kualitas tidur, jumlah langkah, dan indikator lain perlu dibaca sebagai bagian dari pola. Untuk keluhan kesehatan atau hasil yang terus-menerus tidak wajar, pemeriksaan profesional tetap memiliki fungsi yang berbeda dari sensor konsumen di pergelangan tangan.
Saat Angka Membantu Orang Lebih Aktif
Ada alasan fitness tracker terus bertahan di tengah cepatnya pergantian tren teknologi. Ia menawarkan umpan balik dalam waktu singkat.
Pukul lima sore, seseorang melihat jumlah langkahnya masih rendah. Ia kemudian memilih berjalan membeli makan malam daripada membawa kendaraan. Orang lain mungkin melihat beberapa hari terakhir terlalu minim aktivitas, lalu menyisihkan waktu untuk berjalan pagi.
Perubahan seperti itu terdengar kecil, tetapi konteks globalnya cukup serius. Jika tren yang dicatat WHO berlanjut, proporsi orang dewasa yang tidak cukup aktif diproyeksikan mencapai 35 persen pada 2030.
Fitness tracker tentu tidak akan menyelesaikan persoalan tersebut sendirian. Lingkungan yang nyaman untuk berjalan, waktu luang, akses fasilitas olahraga, pekerjaan, cuaca, dan kondisi fisik ikut menentukan apakah seseorang bisa aktif.
Di kota seperti Surabaya, tantangannya terasa sangat praktis. Panas siang hari membuat sebagian orang memilih pagi atau sore untuk bergerak. Rutinitas kerja juga sering membuat kesempatan olahraga harus dicari di sela aktivitas biasa.
Pada titik tersebut, fitness tracker paling berguna ketika tidak terasa seperti ujian harian. Lihat pola beberapa hari, kenali kapan tubuh paling sedikit bergerak, lalu gunakan informasinya untuk membuat perubahan yang realistis.
Tidak semua hari harus memecahkan rekor langkah. Kadang fungsi terbaik teknologi kebugaran sesederhana mengingatkan bahwa setelah berjam-jam duduk menatap layar, tubuh masih perlu diajak berjalan.
