Selasa, 29 September 2026 00:30 UTC

Ilustrasi: Suara di Ruang Publik. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Suara smartphone sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Video pendek, pesan suara, musik, hingga panggilan telepon bisa diputar hampir di mana saja.
Masalah muncul ketika speaker HP keras digunakan di ruang publik tanpa mempertimbangkan orang sekitar. Kebiasaan sederhana ini dapat mengganggu percakapan, konsentrasi, bahkan kenyamanan pendengaran.
Fenomena tersebut semakin relevan karena telepon genggam telah menjadi perangkat yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Data BPS menunjukkan 70,75 persen penduduk berusia lima tahun ke atas memiliki atau menguasai telepon genggam pada 2025.
Di Jawa Timur, proporsinya mencapai 68,27 persen. Angka tersebut menggambarkan betapa besarnya ruang pertemuan antara kebiasaan digital pribadi dan kehidupan sosial sehari-hari.
Smartphone Membawa Ruang Privat ke Tempat Umum
Dahulu, orang membutuhkan televisi atau perangkat audio khusus untuk menikmati banyak jenis hiburan. Kini, hampir semuanya berada dalam satu layar kecil.
BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Setahun sebelumnya angkanya 69,21 persen. Pada periode yang sama, 68,65 persen penduduk tercatat memiliki telepon seluler.
Perubahan tersebut membuat batas antara aktivitas privat dan ruang bersama semakin tipis. Seseorang dapat menonton film di terminal, membuka video pendek di kafe, atau mendengarkan pesan suara ketika mengantre.
Secara teknologi, tidak ada yang aneh dari kebiasaan itu. Persoalannya terletak pada cara suara dari aktivitas pribadi masuk ke ruang yang juga digunakan orang lain.
Speaker HP keras akhirnya bukan hanya persoalan volume. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kesadaran bahwa ruang publik memiliki banyak pengguna dengan kebutuhan berbeda.
Speaker HP Keras Bisa Menambah Beban Suara
Ruang publik pada dasarnya sudah memiliki banyak sumber suara. Percakapan, kendaraan, mesin pendingin, pengumuman, dan musik latar dapat hadir secara bersamaan.
Suara smartphone kemudian menjadi lapisan tambahan. Satu perangkat mungkin terasa kecil, tetapi pengalaman berbeda muncul ketika beberapa orang melakukan hal serupa.
Persoalan suara juga mempunyai dimensi kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut lebih dari 1 miliar orang muda berusia 12–35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan suara rekreasional yang keras.
WHO juga memperkirakan hampir 2,5 miliar orang dapat mengalami suatu tingkat gangguan pendengaran pada 2050. Lebih dari 700 juta di antaranya diproyeksikan membutuhkan rehabilitasi pendengaran.
Data tersebut tentu tidak berarti suara smartphone seseorang di ruang tunggu otomatis menyebabkan gangguan pendengaran. Risiko pendengaran bergantung pada kerasnya suara, durasi, dan frekuensi paparan.
Namun, angka itu mengingatkan bahwa volume suara bukan persoalan sepele. Lingkungan yang lebih tertib secara akustik tetap menjadi bagian dari kebiasaan hidup yang sehat.
Volume dan Durasi Sama-Sama Penting
Standar WHO dan International Telecommunication Union atau ITU memberi gambaran menarik mengenai hubungan volume dengan lama paparan.
Untuk orang dewasa, acuan safe listening menggunakan paparan 80 dBA hingga 40 jam per minggu. Ketika tingkat suara meningkat, durasi paparan yang direkomendasikan turun dengan cepat.
Pada 83 dBA, misalnya, durasinya menjadi sekitar 20 jam per minggu. Pada 86 dBA menjadi 10 jam, sedangkan 89 dBA hanya sekitar lima jam.
Prinsip tersebut menunjukkan satu hal sederhana: keras dan lama merupakan kombinasi yang perlu diperhatikan. Semakin tinggi paparan suara, semakin terbatas waktu yang dapat ditoleransi.
Standar itu memang dirancang terutama untuk praktik mendengarkan audio secara aman, bukan sebagai aturan etika penggunaan speaker smartphone di tempat umum. Namun, prinsipnya membantu menjelaskan mengapa kebiasaan mengatur volume tetap penting.
WHO mencatat sekitar 430 juta orang di dunia saat ini membutuhkan rehabilitasi karena gangguan pendengaran yang bersifat melumpuhkan. Jumlah tersebut termasuk sekitar 34 juta anak.
Earphone Bukan Satu-satunya Jawaban
Solusi paling praktis saat ingin menikmati audio pribadi di tempat umum memang menggunakan earphone atau headphone. Namun, penggunaannya juga tidak berarti volume boleh dinaikkan tanpa batas.
WHO dan ITU justru mengembangkan standar safe listening untuk membantu pengguna perangkat audio mengendalikan paparan suara. Standar tersebut menekankan pemantauan tingkat serta durasi paparan, bukan sekadar jenis perangkat yang digunakan.
Ada pilihan yang lebih sederhana ketika earphone tidak tersedia. Video dapat ditonton tanpa suara, menggunakan subtitle, atau ditunda sampai berada di tempat yang lebih privat.
Pesan suara juga tidak selalu harus diputar melalui speaker. Mendekatkan perangkat ke telinga atau mencari tempat yang lebih sepi bisa menjaga isi pesan sekaligus kenyamanan orang lain.
Panggilan telepon pun dapat dilakukan dengan volume secukupnya. Tujuannya bukan membuat ruang publik senyap, melainkan mencegah aktivitas digital pribadi mendominasi ruang bersama.
Etika Digital Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Teknologi terus membuat smartphone semakin personal. Ironisnya, penggunaan perangkat personal sering terjadi di tempat yang sangat sosial.
Karena itu, etika digital tidak berhenti pada komentar di media sosial atau perlindungan akun. Cara menggunakan gawai ketika berada di antara orang lain juga termasuk di dalamnya.
Sebelum memutar audio, ada kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan: lihat situasi sekitar. Ruang tunggu rumah sakit tentu berbeda dengan taman kota, begitu pula transportasi umum dengan acara terbuka.
Perhatikan pula durasi. Audio singkat dengan volume rendah mempunyai dampak sosial berbeda dibanding video panjang yang diputar keras selama perjalanan.
Pada akhirnya, ruang publik tidak membutuhkan aturan rumit untuk terasa lebih nyaman. Kesadaran bahwa suara kita ikut memasuki ruang orang lain sudah menjadi langkah penting.
Di tengah kepemilikan telepon genggam Indonesia yang telah mencapai 70,75 persen pada 2025, kebiasaan digital kecil semakin mempunyai dampak kolektif.
Mengurangi speaker HP keras di ruang publik bukan berarti membatasi kesenangan menggunakan teknologi. Justru, kebiasaan itu menunjukkan bahwa smartphone dapat tetap personal tanpa mengurangi kenyamanan bersama.
