Rabu, 04 November 2026 11:00 UTC

Ilustrasi: Mengumpulkan sampah elektronik. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Ponsel rusak, kabel pengisi daya, earphone, dan perangkat elektronik lama sering berakhir di dalam laci rumah. Barang-barang tersebut disimpan karena pemiliknya belum mengetahui cara membuangnya dengan benar. Sebagian bahkan tercampur dengan sampah rumah tangga ketika kegiatan membersihkan rumah dilakukan.
Kebiasaan tersebut perlu mendapat perhatian karena sampah elektronik memiliki karakteristik berbeda dari sampah organik maupun kemasan plastik.
Di dalam perangkat elektronik terdapat berbagai material yang masih dapat dimanfaatkan, tetapi sebagian komponennya juga berpotensi mencemari lingkungan apabila ditangani secara sembarangan.
Laporan Global E-waste Monitor 2024 yang diterbitkan International Telecommunication Union (ITU) bersama United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) mencatat dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton sampah elektronik pada 2022. Jumlah tersebut meningkat sekitar 82 persen dibandingkan 2010.
Dari keseluruhan sampah elektronik yang dihasilkan, hanya 22,3 persen atau sekitar 13,8 juta ton yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang melalui sistem formal yang memenuhi ketentuan. Angka ini memperlihatkan besarnya tantangan pengelolaan perangkat elektronik setelah masa pakainya berakhir.
Mengenali Barang yang Termasuk Sampah Elektronik
Sampah elektronik atau electronic waste, yang sering disebut e-waste, merupakan perangkat listrik dan elektronik yang dibuang karena rusak, tidak lagi diperlukan, atau sudah mencapai akhir masa penggunaan.
Jenisnya sangat beragam. Ponsel, komputer, televisi, printer, kipas angin, penanak nasi, dan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik termasuk dalam kelompok tersebut ketika sudah menjadi barang buangan.
Perangkat berukuran kecil juga perlu diperhatikan. Kabel pengisi daya, tetikus komputer, papan ketik, earphone, dan adaptor sering dianggap tidak terlalu penting karena ukurannya relatif kecil. Padahal, barang-barang tersebut tetap mengandung komponen elektronik dan material yang memerlukan pengelolaan khusus.
Laporan Global E-waste Monitor 2024 memperkirakan sampah peralatan elektronik kecil mencapai 20,4 juta ton secara global pada 2022. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 persen tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara formal.
Rendahnya tingkat pengumpulan formal pada kelompok peralatan kecil menunjukkan bahwa ukuran barang tidak selalu sebanding dengan perhatian masyarakat terhadap pengelolaannya.
Sebuah kabel rusak mungkin tampak tidak berarti. Namun, apabila jutaan rumah tangga membuang perangkat serupa tanpa pemilahan, jumlah material yang terbuang menjadi sangat besar.
Mengapa Sampah Elektronik Tidak Boleh Dicampur?
Perangkat elektronik mengandung berbagai bahan, mulai dari plastik, kaca, tembaga, aluminium, hingga logam lainnya. Beberapa perangkat juga memiliki komponen yang mengandung zat berbahaya apabila mengalami kerusakan atau diproses tanpa pengendalian yang tepat.
Baterai lithium-ion, misalnya, dapat mengalami panas berlebihan atau kebakaran apabila tertusuk, tertekan, atau mengalami hubungan pendek. Risiko ini menjadi salah satu alasan perangkat berbaterai tidak boleh diperlakukan seperti sampah biasa.
Komponen elektronik tertentu juga dapat mengandung timbal, merkuri, atau zat berbahaya lainnya. Kandungan tersebut berbeda menurut jenis perangkat, teknologi, dan tahun pembuatannya.
Pembuangan sembarangan berpotensi menimbulkan pencemaran ketika komponen rusak dan material berbahaya terlepas ke lingkungan. Pembakaran terbuka untuk mengambil logam dari perangkat bekas juga dapat menghasilkan emisi berbahaya bagi manusia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti risiko paparan zat berbahaya dari pengolahan sampah elektronik yang tidak aman, terutama bagi anak-anak dan perempuan hamil. Dampaknya dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan dan kesehatan apabila terjadi paparan terhadap bahan beracun.
Karena itu, pengelolaan sampah elektronik bukan sekadar memisahkan barang berdasarkan bentuk. Prosesnya juga harus mempertimbangkan keselamatan manusia dan lingkungan.
Memilah Perangkat Elektronik Sebelum Diserahkan
Langkah pertama adalah mengidentifikasi kondisi perangkat. Tidak semua barang elektronik yang tidak digunakan harus langsung didaur ulang.
Perangkat yang masih berfungsi dapat dipertimbangkan untuk digunakan kembali, diperbaiki, disumbangkan, atau dijual sebagai barang bekas. Memperpanjang masa penggunaan membantu mengurangi kebutuhan produksi perangkat baru selama barang tersebut masih aman dan layak digunakan.
Untuk perangkat yang benar-benar rusak, pemilik dapat mengelompokkannya berdasarkan jenis. Ponsel dan perangkat komputasi dapat dipisahkan dari kabel, adaptor, serta peralatan rumah tangga berukuran besar.
Baterai lepas sebaiknya disimpan secara terpisah dengan mengikuti petunjuk keselamatan dan persyaratan tempat pengumpulan. Terminal baterai tertentu perlu dilindungi dari kontak dengan benda logam agar tidak menimbulkan hubungan pendek.
Perangkat yang baterainya menggembung, bocor, atau menunjukkan tanda kerusakan serius membutuhkan perhatian khusus. Jangan menusuk, menekan, membongkar, atau mencoba mengeluarkan baterai tanam tanpa keterampilan dan peralatan yang sesuai.
Pemilik dapat menghubungi pengelola limbah elektronik atau layanan resmi produsen untuk mengetahui prosedur penyerahan perangkat dengan kondisi tersebut.
Penyimpanan sementara juga perlu dilakukan di tempat kering, tidak terkena panas berlebihan, dan jauh dari jangkauan anak-anak.
Jangan Lupakan Data Pribadi dalam Perangkat Lama
Sampah elektronik tidak hanya berkaitan dengan material fisik. Ponsel, komputer, dan perangkat penyimpanan data dapat menyimpan informasi pribadi yang masih dapat diakses apabila tidak dihapus dengan benar.
Foto keluarga, dokumen pekerjaan, kontak, riwayat percakapan, hingga informasi akun mungkin masih tersimpan dalam perangkat meskipun sudah lama tidak digunakan.
Sebelum menyerahkan ponsel atau komputer, pemilik perlu mencadangkan data penting, keluar dari akun yang terhubung, serta menghapus informasi pribadi melalui prosedur yang sesuai dengan perangkat.
Pada ponsel modern, pengembalian ke pengaturan pabrik dapat menjadi bagian dari proses penghapusan data. Namun, pengguna perlu memastikan metode tersebut sesuai dengan sistem operasi dan kondisi perangkat, termasuk perlindungan enkripsi serta penghapusan kartu memori atau media penyimpanan tambahan.
Untuk komputer, penghapusan berkas secara biasa belum tentu cukup. Perangkat penyimpanan memerlukan metode penghapusan aman atau penghancuran melalui layanan profesional apabila data yang tersimpan bersifat sensitif.
Perangkat yang tidak dapat menyala juga tidak otomatis bebas dari informasi pribadi. Data mungkin masih berada dalam media penyimpanan yang dapat dibaca menggunakan peralatan tertentu.
Karena itu, keamanan informasi sebaiknya menjadi bagian dari prosedur pengelolaan perangkat elektronik bekas, bukan hanya perhatian ketika perangkat masih digunakan.
Memilih Tempat Pengumpulan yang Tepat
Setelah perangkat dipilah dan data diamankan, langkah berikutnya adalah mencari fasilitas pengumpulan sampah elektronik yang memiliki prosedur pengelolaan jelas.
Masyarakat dapat memeriksa layanan pengumpulan yang disediakan pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, program pengembalian perangkat oleh produsen, atau pengelola limbah elektronik yang memiliki izin sesuai kegiatan usahanya.
Ketersediaan fasilitas berbeda antarwilayah. Tidak semua bank sampah menerima perangkat elektronik, sehingga pemilik sebaiknya memastikan terlebih dahulu jenis barang yang dapat diserahkan.
Pengelola yang baik seharusnya mampu menjelaskan proses penerimaan, pemilahan, dan penyaluran barang ke fasilitas pengolahan berikutnya. Transparansi tersebut penting agar perangkat tidak sekadar berpindah tempat lalu dibongkar atau dibakar secara tidak aman.
Pengelolaan yang benar juga memiliki nilai ekonomi. Global E-waste Monitor 2024 memperkirakan sampah elektronik dunia pada 2022 mengandung logam dengan nilai sekitar 91 miliar dolar AS. Namun, nilai material yang berhasil dipulihkan menjadi bahan baku sekunder diperkirakan baru sekitar 28 miliar dolar AS.
Data tersebut menunjukkan bahwa sampah elektronik menyimpan sumber daya yang berharga, meskipun proses pemulihannya memerlukan teknologi, biaya, dan pengendalian lingkungan.
ITU dan UNITAR juga memperkirakan timbulan sampah elektronik global dapat mencapai 82 juta ton pada 2030 apabila kecenderungan pertumbuhannya berlanjut. Angka ini merupakan proyeksi, bukan jumlah yang sudah terjadi.
Besarnya tantangan tersebut membuat kebiasaan masyarakat memiliki peran penting. Memilih perangkat yang tahan lama, memperbaiki barang yang masih layak, dan menyerahkan perangkat rusak kepada pengelola yang tepat merupakan tindakan yang dapat diterapkan tanpa menunggu perubahan teknologi besar.
Cara membuang sampah elektronik dengan aman dimulai dari keputusan sederhana di rumah. Barang yang tidak lagi digunakan perlu diperiksa, dipilah, diamankan datanya, kemudian diserahkan melalui jalur pengelolaan yang sesuai. Dengan begitu, perangkat lama tidak hanya berhenti menjadi barang rusak, tetapi juga memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali tanpa menambah risiko bagi lingkungan.
