Logo

Etika Merekam Orang Lain di Ruang Publik

Kemudahan menyalakan kamera perlu berjalan bersama kesadaran bahwa tidak semua orang ingin menjadi bagian dari konten.
Reporter:,Editor:

Selasa, 29 September 2026 08:00 UTC

Etika Merekam Orang Lain di Ruang Publik

Ilustrasi: Kamera dan Ruang Bersama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Kamera smartphone membuat siapa pun dapat merekam momen dalam hitungan detik. Jalanan, restoran, transportasi umum, pasar, hingga pusat perbelanjaan kini mudah berubah menjadi latar sebuah konten.

Namun, merekam orang lain di ruang publik membawa persoalan yang lebih luas daripada sekadar mendapatkan gambar menarik. Ada privasi, kenyamanan, konteks, dan jejak digital yang perlu dipertimbangkan.

Persoalan ini semakin relevan karena kehidupan masyarakat Indonesia semakin terkoneksi. BPS mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. 

Sementara itu, publikasi terbaru Statistik Telekomunikasi Indonesia 2025 telah dirilis BPS pada 31 Agustus 2026. Publikasi tersebut menggunakan antara lain data Susenas, Podes, dan kompilasi administrasi untuk menggambarkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi nasional. 

 

Kamera Smartphone Mengubah Kebiasaan di Ruang Publik

Dahulu, membawa kamera sering berarti seseorang memang berniat melakukan pemotretan. Smartphone membuat situasinya berbeda karena kamera selalu berada di tangan.

BPS mencatat 68,65 persen penduduk Indonesia memiliki telepon seluler pada 2024. Pada 2023, proporsinya masih sebesar 67,29 persen. 

APJII juga mencatat sekitar 221,56 juta pengguna internet Indonesia dalam survei 2024, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Survei tersebut melibatkan 8.720 responden dari 38 provinsi dengan margin of error 1,1 persen. 

Dalam perkembangan terbaru, APJII menyebut penetrasi internet pada 2026 telah mencapai 81,72 persen atau sekitar 235 juta pengguna. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya ruang bagi produksi sekaligus distribusi konten digital di Indonesia. 

Kamera smartphone akhirnya tidak hanya menjadi alat dokumentasi. Perangkat tersebut juga menjadi pintu masuk untuk membagikan kejadian di dunia nyata kepada audiens yang jauh lebih besar.

 

Merekam dan Mengunggah Punya Dampak Berbeda

Ada perbedaan penting antara seseorang yang kebetulan masuk ke latar foto pribadi dengan orang yang sengaja dijadikan fokus konten.

Konteks juga berubah ketika rekaman dipublikasikan. Video yang awalnya hanya terlihat oleh beberapa orang di lokasi dapat disaksikan ribuan pengguna setelah masuk media sosial.

Itulah alasan etika merekam orang lain di ruang publik sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan apakah kamera boleh dinyalakan. Pengguna juga perlu memikirkan apa yang terjadi terhadap rekaman setelahnya.

Wajah seseorang mungkin terlihat jelas. Percakapan pribadi bisa terdengar. Nomor kendaraan, kartu identitas, nama tempat kerja, hingga lokasi seseorang juga dapat ikut terekam tanpa disengaja.

Semakin luas penggunaan internet, semakin besar pula potensi distribusinya. BPS menunjukkan kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan perdesaan juga semakin menarik diperhatikan.

Pada 2024, sebanyak 79,13 persen penduduk berusia lima tahun ke atas di wilayah perkotaan tercatat mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Di perdesaan, proporsinya 63,71 persen. 

Artinya, budaya merekam dan berbagi bukan lagi fenomena yang terbatas pada kelompok kecil pengguna teknologi.

 

Izin Menjadi Penting Saat Seseorang Jadi Fokus

Tidak setiap rekaman di ruang publik membutuhkan situasi yang sama. Memotret suasana festival dari kejauhan berbeda dengan mengarahkan kamera dekat ke wajah orang asing.

Ketika seseorang menjadi subjek utama, meminta izin merupakan kebiasaan yang jauh lebih menghargai batas personal.

Hal tersebut semakin penting ketika konten menampilkan situasi yang sensitif. Orang sedang makan, menangis, beribadah, bersama anak, mengalami kecelakaan, atau menjalani kondisi memalukan sebaiknya tidak otomatis dianggap sebagai materi konten.

Persetujuan juga bukan sekadar mendapatkan anggukan. Orang yang direkam sebaiknya memahami bahwa gambarnya dapat dipublikasikan apabila memang itu tujuan perekaman.

Ada pula situasi ketika seseorang awalnya bersedia direkam, tetapi kemudian merasa tidak nyaman terhadap bagian tertentu. Kreator dapat mempertimbangkan pemotongan adegan, penyamaran wajah, atau tidak mengunggah bagian tersebut.

Kebiasaan seperti ini mungkin memperlambat proses membuat konten. Namun, beberapa detik tambahan dapat mencegah masalah yang jauh lebih panjang setelah konten tersebar.

 

Anak-anak Membutuhkan Perhatian Lebih Besar

Kamera di ruang publik juga sering menangkap anak-anak. Mereka dapat muncul di taman, tempat wisata, restoran, acara keluarga, maupun pusat perbelanjaan.

Situasi tersebut membutuhkan kehati-hatian lebih tinggi. Anak belum tentu memahami konsekuensi ketika wajah, lokasi, kebiasaan, atau aktivitasnya dibagikan kepada publik digital.

Karena itu, hindari menjadikan anak yang tidak dikenal sebagai fokus utama konten hanya karena ekspresi atau tingkahnya dianggap menarik.

Jika keberadaan anak memang penting dalam dokumentasi tertentu, izin orang tua atau wali menjadi langkah yang lebih bijak.

Pertimbangkan pula informasi yang tampak di sekitarnya. Seragam sekolah, kartu nama, papan alamat, atau lokasi rutin dapat memberikan informasi lebih banyak daripada yang disadari ketika video dibuat.

Internet mempunyai kemampuan memperpanjang usia sebuah momen. Rekaman beberapa detik dapat disalin, dibagikan ulang, atau muncul kembali jauh setelah peristiwa aslinya selesai.

 

Sedikit Menata Kamera Bisa Menjaga Privasi

Menjaga privasi orang lain tidak berarti harus berhenti membuat konten di ruang publik. Banyak penyesuaian sederhana dapat dilakukan tanpa menghilangkan cerita.

Sudut kamera dapat diarahkan lebih rendah atau lebih tinggi agar wajah orang asing tidak menjadi fokus. Kreator juga bisa menunggu beberapa detik sampai latar lebih sepi.

Jika orang lain tetap terekam, fitur blur dapat digunakan sebelum konten dipublikasikan. Plat kendaraan, dokumen, layar perangkat, dan informasi identitas juga layak diperiksa.

Audio tidak kalah penting. Percakapan meja sebelah yang masuk ke mikrofon mungkin mengandung informasi pribadi meskipun wajah pembicaranya tidak terlihat.

Sebelum menekan tombol unggah, menonton ulang video secara utuh merupakan kebiasaan sederhana. Perhatikan bukan hanya diri sendiri, tetapi semua orang dan informasi yang terlihat di dalam frame.

Indonesia kini memiliki ratusan juta pengguna internet. APJII menyebut sekitar 235 juta pengguna pada 2026, sementara BPS terus mencatat perkembangan penetrasi teknologi melalui survei nasionalnya. 

Besarnya ekosistem digital tersebut membuat satu rekaman mempunyai peluang menjangkau orang jauh di luar lokasi asalnya. Karena itu, etika merekam orang lain di ruang publik semakin penting menjadi bagian dari kebiasaan digital sehari-hari.

Konten yang menarik tidak harus mengorbankan kenyamanan orang lain. Kamera boleh semakin canggih, tetapi kepekaan terhadap manusia yang berada di depannya tetap menjadi keterampilan yang paling penting.