Selasa, 29 September 2026 13:00 UTC

Ilustrasi: Hadir Tanpa Sibuk Layar. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Kebiasaan menggunakan ponsel saat makan bersama semakin mudah dianggap normal. Layar dibuka untuk membalas pesan, mengecek notifikasi, memotret makanan, hingga sekadar scrolling ketika percakapan sedang berhenti.
Ponsel memang tidak harus menjadi musuh saat bersosialisasi. Namun, perhatian yang terus berpindah antara layar dan orang di depan kita dapat mengubah kualitas interaksi tanpa terasa.
Di tengah penggunaan internet Indonesia yang sudah menjangkau lebih dari 221 juta orang, kebiasaan menyimpan ponsel saat makan bisa menjadi batas digital sederhana. Bukan larangan menggunakan teknologi, melainkan kesempatan memberi perhatian lebih utuh kepada orang yang sedang bersama kita.
Ponsel Sudah Menjadi Bagian Besar Kehidupan
Sulit membicarakan kebiasaan di meja makan tanpa memahami besarnya peran teknologi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat jumlah pengguna internet mencapai 221,56 juta orang. Tingkat penetrasinya berada di angka 79,5 persen dari total populasi yang digunakan dalam survei.
Angka itu meningkat dibandingkan penetrasi 78,19 persen pada 2023 dan 77,02 persen pada 2022. Dalam beberapa tahun, konektivitas digital semakin melekat pada aktivitas masyarakat sehari-hari.
Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Pada tahun yang sama, 68,65 persen penduduk tercatat memiliki telepon seluler.
Perbedaan angka APJII dan BPS perlu dibaca berdasarkan metode serta populasi surveinya masing-masing. Namun, keduanya sama-sama menggambarkan bahwa akses digital sudah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Karena ponsel hampir selalu berada di dekat kita, meja makan akhirnya ikut menjadi ruang digital.
Menggunakan Ponsel Saat Makan Bisa Mengubah Interaksi
Ada istilah yang cukup dikenal untuk menggambarkan kebiasaan mengabaikan orang lain demi ponsel, yaitu phubbing. Perilaku ini dapat muncul dalam situasi sederhana, termasuk ketika makan bersama keluarga, pasangan, atau teman.
Sebuah penelitian eksperimental yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology menemukan penggunaan ponsel selama interaksi tatap muka dapat mengurangi kenikmatan yang diperoleh dari interaksi tersebut. Peserta yang menggunakan ponsel juga melaporkan lebih banyak distraksi.
Temuan semacam ini tidak berarti setiap orang yang memeriksa ponsel saat makan pasti merusak hubungan sosialnya. Situasi, durasi penggunaan, serta alasan membuka ponsel tetap perlu diperhitungkan.
Namun, mekanismenya mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Mata berpindah ke layar, percakapan terputus, kemudian orang lain menunggu perhatian kembali.
Masalahnya sering bukan pada beberapa detik melihat layar. Kebiasaan tersebut menjadi lebih terasa ketika dilakukan berulang sepanjang percakapan.
Notifikasi Membuat Perhatian Mudah Terpecah
Ponsel modern dirancang untuk membawa banyak aktivitas ke satu perangkat. Pesan pekerjaan, keluarga, perbankan, transportasi, belanja, berita, hingga hiburan datang melalui layar yang sama.
Akibatnya, satu notifikasi dapat menjadi pintu menuju aktivitas lain. Awalnya hanya membuka pesan, kemudian berpindah ke aplikasi lain dan berakhir scrolling lebih lama dari rencana.
International Telecommunication Union memperkirakan sekitar 6 miliar orang atau 74 persen populasi dunia menggunakan internet pada 2025. Jumlah tersebut bertambah lebih dari 240 juta orang dibandingkan 2024.
Konektivitas yang semakin luas membawa banyak manfaat. Pada saat yang sama, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk menentukan kapan perhatian digital memang diperlukan dan kapan dapat ditunda.
Meja makan menjadi salah satu tempat paling mudah untuk mencoba batas tersebut. Durasi makan relatif singkat dan biasanya memiliki awal serta akhir yang jelas.
Meletakkan Ponsel di Meja Belum Tentu Cukup
Seseorang mungkin sudah berniat tidak menggunakan ponsel, tetapi tetap menaruh perangkat dengan layar menghadap ke atas. Notifikasi yang muncul kemudian menarik mata secara otomatis. Bahkan tanpa membuka aplikasi, perhatian sesaat sudah berpindah dari percakapan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of the Association for Consumer Research pernah menemukan bahwa keberadaan smartphone sendiri dapat berkaitan dengan berkurangnya kapasitas kognitif yang tersedia, bahkan ketika seseorang berhasil menahan diri untuk tidak menggunakannya.
Temuan tersebut tidak berarti ponsel harus selalu disembunyikan. Namun, jarak fisik bisa menjadi alat sederhana untuk membantu mengurangi godaan memeriksa layar.
Saat makan bersama, ponsel dapat dimasukkan ke tas atau diletakkan di tempat yang tidak langsung terlihat. Mode senyap atau Do Not Disturb juga dapat digunakan ketika situasinya memungkinkan.
Untuk panggilan penting, aturan tentu bisa berbeda. Tujuannya bukan menciptakan etika yang kaku, melainkan mengurangi distraksi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Makan Bersama Punya Nilai Sosial Tersendiri
Makan merupakan kebutuhan dasar, tetapi aktivitasnya juga mempunyai fungsi sosial. Banyak percakapan keluarga dan pertemanan justru terjadi ketika orang duduk mengelilingi makanan.
Data BPS dari Long Form Sensus Penduduk 2020 menunjukkan rata-rata ukuran rumah tangga Indonesia sekitar 3,86 orang. Artinya, kehidupan rumah tangga masyarakat secara umum masih melibatkan beberapa orang dalam satu rumah, meski komposisinya tentu sangat beragam.
Kesempatan berada di ruangan yang sama tidak otomatis menghasilkan interaksi berkualitas. Masing-masing orang bisa hadir secara fisik sambil perhatian mereka berada di tempat berbeda melalui layar.
Karena itu, waktu makan dapat dimanfaatkan sebagai jeda kecil dari pola tersebut. Tidak perlu membuat aturan ekstrem seperti menyita ponsel seluruh anggota keluarga. Kesepakatan sederhana untuk tidak scrolling selama makan sudah cukup menjadi permulaan.
Mulai dari Satu Waktu Makan Tanpa Ponsel
Mengubah kebiasaan digital tidak harus dimulai dengan mengurangi penggunaan ponsel sepanjang hari. Target sebesar itu justru mudah terasa membebani.
Mulailah dari satu situasi yang jelas. Sarapan sebelum bekerja, makan malam bersama keluarga, atau makan siang bersama teman dapat menjadi pilihan.
Matikan notifikasi yang tidak penting sebelum duduk. Letakkan ponsel di tas atau jauh dari pandangan, kemudian beri pengecualian untuk kebutuhan mendesak.
Jika ingin memotret makanan, lakukan seperlunya sebelum percakapan berlangsung. Setelah itu, kembalikan perangkat ke tempatnya.
Kebiasaan tersebut juga tidak perlu dipaksakan kepada orang lain. Memberi contoh dengan menyimpan ponsel sendiri sering terasa lebih natural daripada menegur setiap orang yang melihat layar.
Teknologi tetap mempunyai tempat penting dalam kehidupan modern. Dengan ratusan juta masyarakat Indonesia sudah terhubung ke internet, ponsel akan terus hadir dalam pekerjaan, hiburan, transaksi, dan hubungan sosial.
Justru karena perangkat ini begitu dekat, kita membutuhkan momen ketika perhatian sengaja diarahkan kembali kepada lingkungan sekitar.
Menyimpan ponsel saat makan adalah salah satu cara paling sederhana. Makanan bisa dinikmati tanpa terburu-buru, percakapan memiliki ruang lebih panjang, dan orang di depan kita mendapatkan sesuatu yang semakin mahal di era digital: perhatian yang tidak terbagi.
