Logo

Memahami Data Detak Jantung di Smartwatch

Detak jantung bisa memberi petunjuk, tetapi satu angka di layar belum menceritakan seluruh keadaan tubuh.
Reporter:,Editor:

Kamis, 20 August 2026 05:00 UTC

Memahami Data Detak Jantung di Smartwatch

Ilustrasi: Membaca detak tubuh. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Data detak jantung menjadi salah satu informasi yang paling sering dilihat pengguna smartwatch. Cukup mengangkat pergelangan tangan, angka denyut per menit sudah muncul tanpa perlu menghitung nadi secara manual.

Fitur ini terasa praktis ketika dipakai berlari, bersepeda, berjalan cepat, bahkan saat duduk di meja kerja. Seusai jogging sore di Surabaya, misalnya, seseorang bisa melihat apakah denyutnya mulai turun ketika berhenti atau masih bertahan cukup tinggi.

Masalahnya muncul ketika satu angka dibaca terlalu jauh. Denyut 95 kali per menit dianggap buruk. Denyut 55 langsung dinilai sangat sehat. Notifikasi yang tidak biasa bahkan bisa membuat pengguna cemas sebelum memahami konteksnya.

Padahal detak jantung sangat dinamis. Aktivitas, suhu udara, stres, kafein, obat, kondisi tubuh, hingga kualitas tidur dapat ikut memengaruhinya.

 

Angka Normal Punya Rentang yang Lebar

American Heart Association menyebut detak jantung istirahat normal kebanyakan orang dewasa berada pada kisaran 60–100 denyut per menit. Orang yang aktif secara fisik atau atlet dapat memiliki denyut istirahat sekitar 40 denyut per menit tanpa berarti mengalami masalah. 

Rentang tersebut membantu menjelaskan mengapa angka smartwatch sebaiknya tidak dibandingkan mentah-mentah dengan milik orang lain.

Seseorang yang rutin berlari empat kali seminggu mungkin mempunyai pola berbeda dengan pekerja yang baru mulai olahraga. Bahkan pada orang yang sama, pembacaan pada pagi hari bisa berbeda dengan setelah minum kopi, mengejar kendaraan, atau menghadapi pekerjaan yang menegangkan.

Denyut istirahat juga lebih berguna ketika dilihat sebagai pola. Bila smartwatch biasanya mencatat angka tertentu selama berminggu-minggu, perubahan yang konsisten sering lebih informatif daripada satu hasil yang muncul sesaat.

Kebiasaan sederhana seperti mencatat kapan pengukuran dilakukan membantu memberi konteks. Angka setelah bangun tidur tentu tidak layak disejajarkan begitu saja dengan angka setelah berjalan cepat di bawah panas Surabaya.

 

Saat Olahraga, Zona Denyut Bukan Kompetisi

Smartwatch banyak digunakan karena dapat memperlihatkan perubahan detak jantung selama olahraga secara langsung.
American Heart Association memperkirakan zona aktivitas intensitas sedang berada sekitar 50–70 persen dari denyut jantung maksimum, sedangkan latihan dengan intensitas lebih berat biasanya berada sekitar 70–85 persen.

Perkiraan denyut maksimum yang populer adalah sekitar 220 dikurangi usia, meski rumus tersebut merupakan estimasi, bukan batas biologis yang presisi untuk setiap orang. 

Ambil contoh sederhana. Pada usia 30 tahun, perkiraan denyut maksimum berdasarkan rumus tersebut sekitar 190 denyut per menit. Rentang 50–70 persennya kira-kira 95–133 denyut per menit.

Angka semacam ini cukup berguna untuk orientasi latihan, terutama bagi orang yang baru belajar mengatur intensitas. Namun tubuh tidak bekerja seperti speedometer kendaraan yang memiliki batas identik pada setiap unit.

Kondisi kebugaran, obat tertentu, temperatur lingkungan, dan respons individu dapat menggeser denyut ketika berolahraga. Udara Surabaya yang panas dan lembap juga membuat pengalaman jogging siang berbeda dengan berlari pagi ketika temperatur lebih bersahabat.

WHO sendiri tidak mensyaratkan orang mengejar angka detak tertentu untuk mendapat manfaat aktivitas fisik. Pedoman global untuk orang dewasa menekankan 150–300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas berat, ditambah latihan penguatan otot sedikitnya dua hari per minggu. Jadi, zona detak jantung adalah alat bantu. Ia bukan papan skor.

 

Sensor di Pergelangan Tangan Membaca Cahaya dan Aliran Darah

Banyak smartwatch memakai teknologi photoplethysmography atau PPG. Sensor memancarkan cahaya ke kulit lalu membaca perubahan volume darah pada pembuluh kecil untuk memperkirakan denyut.

Teknologi ini sudah berkembang jauh. Dalam penelitian yang dipublikasikan melalui EP Europace pada 2023, para peneliti membandingkan smartwatch berbasis PPG dengan rekaman Holter ECG pada 50 pasien dengan fibrilasi atrium.

Sebanyak 47.661 segmen pengukuran satu menit dianalisis. Hasil pembacaan PPG berada dalam rentang ±10 persen dari pembacaan ECG pada 93,7 persen segmen.

Akurasinya mencapai sekitar 97 persen pada malam hari dan 91 persen pada siang hari. Pada aktivitas dengan gerakan rendah, akurasi sekitar 96 persen, sedangkan saat tingkat gerakan lebih tinggi turun menjadi sekitar 92 persen. 

Ada pelajaran praktis dari data tersebut: gerakan memang dapat memengaruhi kualitas pembacaan. Saat tangan terus berayun ketika berlari, gelang terlalu longgar, atau sensor tidak menempel baik pada kulit, angka dapat sedikit bergeser.

Keringat dan posisi jam juga dapat memengaruhi sinyal. Itulah alasan satu lonjakan singkat pada layar belum tentu berarti jantung tiba-tiba mengalami perubahan besar. Lihat apakah angkanya bertahan, cocok dengan apa yang dirasakan tubuh, dan muncul lagi pada pengukuran berikutnya.


Notifikasi Irama Jantung Perlu Dibaca dengan Tenang

Smartwatch generasi baru semakin sering menawarkan fitur pendeteksi irama yang tidak biasa, termasuk kemungkinan fibrilasi atrium pada perangkat tertentu.

Teknologinya memiliki potensi besar. European Society of Cardiology mencatat perangkat berbasis PPG telah dipelajari untuk mendeteksi pola fibrilasi atrium, termasuk dalam aktivitas sehari-hari. Penelitian terus berkembang untuk melihat seberapa baik teknologi

konsumen dapat membantu pemantauan irama jantung di luar fasilitas kesehatan.  Namun kata kuncinya tetap pemantauan.
Smartwatch tidak memiliki semua informasi yang tersedia saat dokter melakukan evaluasi.

ECG klinis, riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, obat yang diminum, penyakit penyerta, dan banyak variabel lain dapat diperlukan untuk menentukan apa yang sebenarnya terjadi.

Notifikasi yang muncul sekali dapat diperiksa ulang sesuai petunjuk perangkat. Jika peringatan terus berulang atau disertai keluhan seperti nyeri dada, sesak, pingsan, atau jantung berdebar yang tidak biasa, hasil dari perangkat sebaiknya tidak menjadi akhir dari proses.

Dengan kata lain, smartwatch cukup bagus untuk mengatakan, “ada sesuatu yang layak diperhatikan.” Ia tidak selalu dapat menjawab, “ini penyakit tertentu.”

 

Data Lebih Berguna ketika Dilihat sebagai Pola

Ada kebiasaan yang sering terbentuk setelah memiliki smartwatch: terlalu sering mengecek angka. Baru naik tangga, lihat denyut. Selesai makan, lihat denyut.

Merasa gugup sedikit, lihat denyut lagi. Lama-lama, teknologi yang seharusnya memberikan informasi justru dapat membuat setiap perubahan kecil terasa penting. Cara yang lebih masuk akal adalah membaca tren.

Perhatikan denyut istirahat beberapa minggu. Bandingkan respons saat melakukan jenis latihan yang sama. Amati berapa cepat denyut turun setelah aktivitas selesai. Catat bila terjadi perubahan mencolok yang berlangsung konsisten.

Cara membaca seperti ini sesuai dengan fungsi wearable sebagai perangkat pemantauan kebiasaan. Satu pengukuran bisa dipengaruhi banyak hal, sementara pola berulang memberi konteks yang lebih kaya.

Data juga sebaiknya dikaitkan dengan perasaan tubuh. Angka yang terlihat “bagus” tidak perlu membuat seseorang memaksakan latihan ketika merasa lemas. Sebaliknya, satu angka sedikit berbeda dari biasanya tidak otomatis berarti ada sesuatu yang salah.

Bagi pengguna smartwatch yang aktif berjalan atau berolahraga di Surabaya, pendekatannya bisa sangat sederhana. Biarkan jam mencatat, lalu lihat datanya setelah aktivitas selesai. Tidak perlu mengawasi pergelangan tangan setiap dua menit.

Sensor di jam pintar semakin canggih, tetapi tubuh tetap memiliki bahasa sendiri. Rasa lelah, napas, kemampuan berbicara saat berolahraga, pemulihan setelah latihan, serta gejala yang benar-benar terasa masih layak mendapat perhatian yang sama besarnya dengan angka digital.

Smartwatch paling berguna saat membantu penggunanya mengenali pola tubuh dengan lebih baik. Bukan ketika setiap perubahan satu atau dua denyut membuat layar kecil di pergelangan tangan berubah menjadi ruang konsultasi pribadi.