Festival Patrol Meriahkan Malam Ramadan di Banyuwangi

David Priyasidharta

Sabtu, 11 Mei 2019 - 14:37

JATIMNET.COM, Banyuwangi - Pemkab Banyuwangi kembali menggelar Festival Patrol pada Ramadan 1440 H kali ini. Seni musik yang identik sebagai tradisi membangunkan orang tatkala waktu sahur itu, memeriahkan malam Ramadan di ujung timur pulau Jawa itu.

Selama dua hari, Jumat hingga Sabtu, 10 - 11 Mei 2019, sebanyak 25 grup patrol dari perwakilan masing-masing kecamatan akan unjuk kebolehan.

Tidak hanya menyajikan alunan musik bambu yang khas, masing-masing grup patrol juga mengaransemen syair-syair religi yang sarat dengan puja-puji kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad. Bahkan, untuk melengkapi penampilannya, para peserta mengenakan kostum panggung yang menarik.

BACA JUGA: Masih Berseragam, Polisi Banyuwangi Tarawih dan Tadarus Pasca Bertugas

Ratusan orang pun antusias melihat atraksi Patrol yang tahun ini dibuka oleh Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko pada Jumat 10 Mei 2019 malam. Tak hanya di panggung utama, namun di sepanjang rute yang dilalui pawai patrol ini dipenuhi warga yang menyaksikan  musik tradisi ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Patrol kali ini para peserta akan berkeliling kampung melakukan atraksi. Namun, pada tahun ini panggung utama sebagai awal start dipusatkan di Taman Blambangan. Bukan di Stadion Diponegoro sebagaimana tahun lalu.

"Acara Ramadan sengaja kami pusatkan di Taman Blambangan, agar efektif. Jadi, semua terintegrasi. Mulai dari pasar takjil Ramadan, tempat ibadah hingga berbagai gelaran Festival Ramadan," ungkap Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam siaran pers yang diterima Jatimnet.com

Musik patrol sendiri memanfaatkan bambu sebagai medianya. Batang bambu dipotong sesuai dengan ruasnya dan diberi lubang kecil memanjang di salah satu sisinya.

Semakin besar diameter bambu maupun besaran lubang akan mempengaruhi suara yang dikeluarkan oleh alat musik patrol. "Bambunya diketuk dengan irama tertentu. Disesuaikan dengan lagu yang dimainkan. Biasanya, juga dicampur dengan Jedor sebagai pengatur ritme," ungkap Burhan, salah satu peserta Festival Patrol.

BACA JUGA: Banyuwangi Gratiskan Kejar Paket untuk Pelajar Putus Sekolah

Burhan mengaku sudah sejak kecil memainkan musik patrol setiap Ramadan. Ia bersama teman-temannya berkeliling kampung untuk membangunkan orang sahur. Biasanya, saat bertemu dengan grup patrol lainnya, mereka akan saling berlomba untuk menyajikan tabuhan terbaiknya.

"Saya tak tahu persis sejak kapan tradisi ini ada di Banyuwangi. Yang pasti, sejak zaman kakek saya sudah ada katanya," aku peserta berusia 32 tahun tersebut.

Tradisi musik patrol yang telah mengakar cukup kuat di tengah masyarakat Banyuwangi itulah, yang coba dilestarikan oleh Pemda Banyuwangi. Gelaran Festival Patrol menjadi bagian untuk menghidupkan khazanah tradisi.

Baca Juga

loading...