Rabu, 15 April 2026 09:00 UTC

Dua pemuda yang mampir ke jembatan di jalur Cangar-Pacet wilayah Kabupaten Mojokerto untuk melihat fenomena baru pascaditemukannya jenazah seorang pemuda karena dugaan depresi. Foto: Magang
JATIMNET.COM, Mojokerto – Jembatan di jalur Cangar-Pacet yang masuk wilayah Desa Sendi, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto semakin banyak dikunjungi warga.
Mereka tak sekadar menikmati sejuknya udara dan menikmati pemandangan pegunungan. Akivitas berbeda dari hari-hari sebelumnya seolah menjadi kebiasaan baru bagi para pengunjung.
Mereka meletakkan beragam benda di bahu jembatan. Mulai dari berbatang-batang rokok yang sebagian telah terbakar, gelas berisi kopi, bunga, sayur, hingga sesaji sederhana yang tersusun rapi.
Aktivitas ini berlangsung pascakejadian ditemukanya seorang pemuda berinisial MA dalam kondisi tak bernyawa di bawah jembatan yang berbatasan dengan Kota Batu pada akhir Maret 2026.
BACA: Pemuda Trowulan Ditemukan Tak Bernyawa di Bawah Jembatan Perbatasan Kota Batu
Penyebab kejadian ini disinyalir karena beban hidup yang berat. Hingga akhirnya mendorong pemuda asal Trowulan, Mojokerto itu bunuh diri dengan cara menerjunkan diri dari jembatan.
Diletakannya beberapa benda tersebut di jembatan disebut sebagai simbol belasungkawa. Sebagian, warga yang datang juga merasa memiliki beban hidup yang tak kunjung bisa terselesaikan.
“Beberapa orang yang datang itu kayak merasa terhubung (dengan MA). Terutama laki-laki, mereka meletakkan rokok (di jembatan) mungkin karena merasa punya beban yang sama,” ujar Iwan, salah seorang pengendara sepeda saat ditemui di jembatan tersebut, Rabu, 15 April 2026.
Pemuda asal Jombang itu menilai, aktivitas tersebut bukan semata-mata ritual, melainkan bentuk empati yang muncul dari pengalaman hidup yang serupa.
BACA: Akses Lalu lintas di jalur Pacet – Cangar Sempat Tertutup Material Longsor
Fenomena ini, semestinya menjadi pengigat agar tidak melakukan bunuh diri seperti yang dilakukan MA. “Kalau ada masalah, sebenarnya lebih baik cari solusi. Jangan sampai kejadian seperti itu terulang,” katanya
Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Tahura Raden Soerjo menyatakan bahwa fenomena tersebut justru berpotensi bisa mengganggu eksosistem di kawasan hutan.
Satwa yang hidup bebas di kawasan tersebut, disebut dapat ketergantungan terhadap makanan yang mudah ditemukan di jalan. “Insting hewan-hewan untuk bisa belajar hidup di alam,” ujarnya.
Oleh karena itu, petugas Tahura Raden Soerjo akan membersihkan makanan, rokok, maupun benda lain yang ditemukan berserakan di jembatan. Sebab, kawasan wisata alam tersebut berkomitmen menjaga kebersihan.
