Logo

Fenomena Nostalgia yang Kembali Ramai di Era Digital

Kenangan tidak hanya menghubungkan masa lalu, tetapi juga membantu kita memahami perubahan yang terjadi hari ini.
Reporter:,Editor:

Sabtu, 04 July 2026 00:00 UTC

Fenomena Nostalgia yang Kembali Ramai di Era Digital

Ilustrasi: Hangatnya Kenangan Lama. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Nostalgia digital menjadi salah satu fenomena yang semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari lagu era 1990-an, jajanan sekolah, gim konsol lawas, hingga foto-foto masa kecil, berbagai kenangan lama kembali hidup melalui konten yang dibagikan jutaan pengguna internet.

 

Fenomena ini bukan sekadar tren hiburan, tetapi mencerminkan cara generasi Milenial dan Gen Z membangun identitas di tengah perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

 

Indonesia sendiri memiliki ekosistem digital yang sangat besar. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat jumlah pengguna internet telah mencapai 221,56 juta jiwa, atau sekitar 79,5 persen dari total penduduk.

 

Dari jumlah tersebut, Gen Z menyumbang 34,40 persen pengguna internet, sedangkan Milenial mencapai 30,62 persen. Besarnya populasi digital ini membuat konten bernuansa nostalgia mudah menyebar lintas platform dan lintas generasi. 

 

Di Surabaya, fenomena tersebut terlihat melalui meningkatnya minat terhadap kafe bergaya retro, pameran permainan lawas, pasar barang vintage, hingga unggahan foto-foto kota tempo dulu yang ramai mendapat respons positif. Kota metropolitan yang terus berkembang ternyata tetap menyisakan ruang bagi masyarakat untuk merawat kenangan kolektif.

 

 

Nostalgia Menjadi Cara Memahami Perubahan Zaman

 

Nostalgia sering dipersepsikan sebagai keinginan kembali ke masa lalu. Padahal, berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa nostalgia lebih tepat dipahami sebagai proses menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kondisi kehidupan saat ini.

 

Ketika seseorang mengenang kartun Minggu pagi, suara modem internet, telepon umum, atau suasana bermain di halaman rumah, yang sebenarnya muncul bukan hanya ingatan terhadap benda-benda tersebut. Yang lebih kuat adalah perasaan aman, kebersamaan, dan kesederhanaan yang melekat pada pengalaman itu.

 

Di era digital, perubahan berlangsung sangat cepat. Gawai berganti dalam hitungan tahun, aplikasi terus berkembang, dan budaya internet berubah hampir setiap musim. Dalam situasi seperti itu, nostalgia menjadi titik keseimbangan emosional yang membuat seseorang merasa memiliki kesinambungan antara masa lalu dan masa kini.

 

Bagi Gen Z, nostalgia bahkan tidak selalu berasal dari pengalaman pribadi. Banyak anak muda menikmati musik, kamera analog, gim retro, atau desain era 1990-an melalui cerita keluarga maupun konten digital yang mereka temukan sendiri. Hal ini membuat nostalgia berkembang menjadi pengalaman lintas generasi.

 

 

Media Sosial Membuat Kenangan Lebih Mudah Dibagikan

 

Perkembangan internet telah mengubah cara masyarakat mengenang masa lalu. Dulu, kenangan tersimpan dalam album foto atau kaset video keluarga. Kini, satu unggahan singkat dapat menghidupkan memori bersama jutaan orang hanya dalam beberapa jam.

 

Algoritma media sosial juga berperan besar. Konten yang membangkitkan emosi positif cenderung memperoleh interaksi lebih tinggi dibandingkan unggahan biasa. Karena itulah video berisi suasana sekolah tahun 2000-an, iklan televisi lawas, hingga permainan tradisional sering kembali muncul di beranda pengguna.

 

Fenomena ini didukung oleh tingginya aktivitas masyarakat Indonesia di ruang digital. Dengan lebih dari 221 juta pengguna internet, ruang berbagi pengalaman menjadi semakin luas dan beragam.

 

APJII juga menunjukkan bahwa penetrasi internet terus meningkat secara konsisten dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, memperlihatkan semakin besarnya peluang terbentuknya memori kolektif secara digital. 

 

Di Surabaya, komunitas fotografi analog, kolektor kaset, hingga pegiat sejarah kota turut memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi yang lebih muda. Hasilnya, nostalgia tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi berkembang menjadi bagian dari percakapan publik.

 

 

Nostalgia Tidak Selalu Berarti Menolak Kemajuan

 

Salah satu anggapan yang sering muncul adalah bahwa orang yang menyukai nostalgia sulit menerima perkembangan zaman. Kenyataannya justru sebaliknya.

 

Banyak anak muda tetap aktif menggunakan kecerdasan buatan, pembayaran digital, layanan transportasi daring, hingga aplikasi produktivitas modern, sambil tetap menikmati lagu-lagu lama atau mengoleksi kamera film.

 

Fenomena ini menunjukkan bahwa nostalgia dan inovasi dapat berjalan berdampingan. Masa lalu menjadi sumber inspirasi, sementara teknologi tetap dimanfaatkan untuk mempermudah kehidupan sehari-hari.

 

Tidak sedikit pelaku usaha juga memanfaatkan kecenderungan tersebut. Produk dengan desain retro, kemasan klasik, hingga konsep interior bergaya tahun 1980-an atau 1990-an kembali diminati karena menghadirkan pengalaman emosional yang sulit digantikan produk baru yang sepenuhnya modern.

 

 

Kenangan Kolektif Menjadi Bagian dari Identitas Generasi

 

Setiap generasi memiliki simbol yang membentuk identitas bersama. Bagi Milenial, kenangan tentang permainan di luar rumah, televisi analog, atau warnet menjadi bagian dari cerita tumbuh dewasa.

 

Sementara bagi Gen Z, masa kecil mungkin lebih dekat dengan video digital, media sosial awal, dan perkembangan internet yang semakin cepat.

 

Meski berbeda pengalaman, kedua generasi sama-sama menggunakan nostalgia sebagai cara memahami perjalanan hidup mereka. Kenangan bukan hanya mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi juga menjadi alat untuk melihat sejauh mana perubahan telah berlangsung.

 

Di kota seperti Surabaya yang terus berkembang dengan wajah modern, jejak masa lalu tetap memiliki tempat tersendiri. Bangunan bersejarah, kuliner legendaris, hingga kawasan lama menjadi pengingat bahwa kemajuan kota tidak harus menghapus identitas yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

 

Fenomena nostalgia bukan sekadar tren sesaat di media sosial. Ia menjadi ruang bagi Milenial dan Gen Z untuk merawat cerita, membangun hubungan antargenerasi, sekaligus memahami perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.

 

Selama teknologi terus berkembang, kebutuhan manusia untuk mengenang kemungkinan akan tetap hadir sebagai bagian dari kehidupan modern.