Logo

Fenomena Jajan Harian yang Menguras Anggaran Bulanan

Pengeluaran kecil yang berulang sering kali lebih besar dampaknya daripada belanja besar yang jarang dilakukan.
Reporter:,Editor:

Kamis, 02 July 2026 08:00 UTC

Fenomena Jajan Harian yang Menguras Anggaran Bulanan

Ilustrasi: Bijak Memilih Menu. -Dx Gen-AI

JATIMNET.COM - Jajan harian telah menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa dan pekerja muda. Secangkir kopi, camilan sore, minuman kekinian, atau makan siang di luar mungkin terlihat sebagai pengeluaran kecil.

 

Namun ketika dilakukan hampir setiap hari, total biayanya dapat menghabiskan porsi yang cukup besar dari anggaran bulanan.

 

Fenomena ini semakin terasa di kota besar seperti Surabaya. Pilihan kuliner yang beragam, kemudahan pembayaran digital, hingga promosi aplikasi makanan membuat keputusan membeli makanan menjadi semakin mudah.

 

Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mengurangi ruang bagi kebutuhan lain seperti tabungan, dana darurat, atau biaya pendidikan.

 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia, dengan kontribusi sekitar 39 persen terhadap total konsumsi rumah tangga pada 2024.

 

Angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan sehari-hari terkait makanan memiliki pengaruh besar terhadap kondisi keuangan.

 

 

Pengeluaran Kecil yang Terasa Ringan

Banyak orang tidak merasa terbebani saat mengeluarkan Rp20.000 hingga Rp35.000 untuk sekali membeli minuman atau camilan. Nilainya memang tampak kecil jika dilihat secara terpisah.

 

Namun, apabila kebiasaan tersebut dilakukan lima hingga enam kali dalam seminggu, jumlahnya dapat mencapai ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Belum termasuk biaya makan utama, layanan pesan antar, maupun biaya nongkrong bersama teman.

 

Fenomena ini dikenal dalam literasi keuangan sebagai pengeluaran rutin bernilai kecil yang sering luput dari perhatian karena dilakukan secara otomatis.

 

 

Promosi Digital Membentuk Pola Konsumsi

 

Platform pembayaran digital dan aplikasi pesan makanan berhasil membuat proses transaksi menjadi semakin praktis. Diskon, cashback, hingga program loyalitas mendorong konsumen melakukan pembelian lebih sering.

 

Di satu sisi, promosi tersebut memang memberikan keuntungan apabila dimanfaatkan secara bijak. Namun di sisi lain, potongan harga juga dapat memicu pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan.

 

Survei Bank Indonesia mengenai perilaku transaksi masyarakat menunjukkan penggunaan pembayaran digital terus meningkat setiap tahun, seiring semakin luasnya ekosistem ekonomi digital di Indonesia. Kemudahan transaksi menjadi salah satu faktor yang mengubah perilaku konsumsi masyarakat, terutama kelompok usia muda.

 

 

Bukan Berhenti Jajan, tetapi Lebih Terencana

 

Mengurangi pengeluaran bukan berarti harus menghilangkan seluruh kebiasaan menikmati makanan favorit. Pendekatan yang lebih realistis adalah menentukan anggaran khusus untuk jajan setiap minggu.

 

Cara sederhana seperti membawa air minum sendiri, sarapan sebelum berangkat kuliah, atau menyiapkan camilan dari rumah dapat membantu mengurangi pembelian spontan sepanjang hari.

 

Sebagian mahasiswa juga mulai menerapkan aturan sederhana, misalnya membatasi pembelian kopi di luar hanya satu atau dua kali dalam seminggu.  Kebiasaan kecil seperti ini membuat pengeluaran lebih mudah dikendalikan tanpa mengurangi kenyamanan.

 

 

Pola Makan dan Kondisi Finansial Saling Berkaitan

 

Pilihan makanan tidak hanya memengaruhi kesehatan, tetapi juga berhubungan langsung dengan kemampuan mengelola keuangan. Semakin terencana pola makan seseorang, semakin mudah pula mengatur anggaran bulanan.

 

Membuat daftar menu mingguan, memasak beberapa porsi sekaligus, atau memilih warung makan dengan harga yang konsisten merupakan langkah sederhana yang banyak diterapkan mahasiswa maupun pekerja muda.

 

Fenomena jajan harian yang menguras anggaran bulanan bukan disebabkan oleh satu kali pembelian, melainkan oleh akumulasi keputusan kecil yang dilakukan setiap hari.

 

Ketika pengeluaran makanan mulai direncanakan dengan lebih sadar, keseimbangan antara menikmati kuliner dan menjaga kondisi keuangan akan lebih mudah dicapai.