Erdogan Desak Barat Lawan Islamophobia Pasca Teror Christcurch

Dyah Ayu Pitaloka

Rabu, 20 Maret 2019 - 21:09

JATIMNET.COM, Surabaya – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, mendesak Barat untuk berdiri melawan rasisme, xenophobia dan Islamophobia, pasca penembakan di Selandia Baru.

Ia juga meyebut, teror pembunuhan itu, sama dengan yang terjadi di Indonesia, Prancis, dan Turki.

“Barat punya tanggung jawab tertentu,” kata Erdogan dalam sebuah artikel yang diterbitkan koran Washington Post, dilansir dari Anadolu Agency, Rabu 20 Maret 2019.

“Masyarakat dan Pemerintahan (negara) Barat harus menolak normalisasi rasisme, xenophobia dan Islamophobia, yang telah menjadi populer beberapa tahun terakhir. Penting untuk menyatakan ideologi itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.

BACA JUGA: Turki Minta Bantuan PBB Selidiki Kematian Khashoggi

Ia melanjutkan, seluruh pemimpin negara Barat, harus belajar dari keberanian, ketulusan, dan kepemimpinan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, dan memeluk muslim yang tinggal di negara masing-masing.

Pembunuhan yang menewaskan 50 jemaah salat Jumat di Christchurh itu, disiarkan langsung lewat sosial media.

Di saat yang sama, dirilis pula manifesto Brenton Tarrant, pelaku penembakan, yang bersifat rasis dan Islamophobia, serta menyerang Turki dan presidennya.

Erdogan mengatakan, ada banyak referensi sejarah dalam pembunuhan bersenjata dan manifestonya.

BACA JUGA: Pemakaman Dua Korban Selandia Baru, Mereka Pengungsi Suriah

“Pengulangan tentang Turki dan saya (dalam  manifesto Tarrant) patut menjadi pertimbangan mendalam,” katanya tanpa menjelaskan lebih detil.

Erdogan mengaitkan ideologi Tarrant dengan ISIS, yang menyerukan penaklukan kembali Istambul. Hal itu, seperti tertulis dalam manifesto Tarrant, untuk membuat "Kota Turki menjadi milik Kristen sekali lagi".

“Dalam pandangan ini, kami harus menyatakan bahwa tak ada bedanya antara pembunuhan di Selandia Baru dengan pelaku teroris lain di Turki, Prancis, Indonesia dan dimanapun,” katanya.

Erdogan menekankan bahwa, Islamophobia dan xenophobia bertemu secara diam-diam di Eropa dan negara lain di Barat.

BACA JUGA: Aturan Membeli Senjata di Sembilan Negara

“Kami tak bisa mengijinkan ini terjadi lagi. Jika dunia ingin mencegah tragedi pembunuhan di masa depan, harus dimulai dengan menyatakan bahwa tragedi Selandia Baru adalah bagian dari gerakan yang terkoordinasi,” tulisnya.

Turki bergabung dengan aliansi melawan terorisme, pasca tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat, dan bergabung dengan NATO 60 tahun lalu.

Baca Juga

loading...