Equinox, Fenomena Apa Sih Sebenarnya

Nani Mashita

Rabu, 27 Maret 2019 - 07:05

JATIMNET.COM, Surabaya – Sinar matahari dalam beberapa hari terakhir terasa sangat terik dan membakar kulit. Ternyata ini adalah efek dari fenomena equinox.

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, equinox adalah fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa dan secara periodik berlangsung dua kali dalam setahun. Yaitu pada 21 Maret dan 23 September.

"Jadi wajar kan akhir Maret gini terasa lebih panas,” cuit Sutopo dalam Twitternya, Selasa 26 Maret 2019.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga meluruskan kabar beredar yang menyebutkan bahwa equinox bisa meningkatkan suhu secara ekstrem dan bisa menyebabkan sun stroke dan dehidrasi. 

BACA JUGA: Benua Australia Dilanda Suhu Panas

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo menjelaskan equinox adalah salah satu fenomena astronomi di mana matahari melintasi garis khatulistiwa. 

Saat fenomena ini berlangsung, kata dia, matahari dengan bumi memiliki jarak paling dekat dengan konsekuensinya wilayah tropis sekitar ekuator akan mendapatkan penyinaran matahari maksimum.

Namun begitu, lanjut Prabowo, fenomena ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis maupun ekstrem.

"Secara umum, diketahui rata-rata suhu maksimum di wilayah Indonesia berada dalam kisaran 32-36°C," lanjut Prabowo dilansir dari laman BMKG.

BACA JUGA: Waspadai Cuaca Panas Sesaat di Musim Hujan

Berdasakan pengamatan BMKG, suhu maksimum tertinggi pada 23 Maret 2019 yang tercatat 37,6°C di Meulaboh, Aceh.

"Equinox bukan merupakan fenomena seperti gelombang panas atau heat wave yang terjadi di Eropa, Afrika dan Amerika yang merupakan kejadian peningkatan suhu udara ekstrem di luar kebiasaan dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama," ujar Prabowo.

Menyikapi hal ini, Prabowo mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang beredar.

Secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung masih lembab atau basah. Beberapa wilayah Indonesia saat ini sedang memasuki periode pancaroba. Maka ada baiknya, masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan.

Baca Juga

loading...