Enam Belas Anak Ikut USBN SD di LPKA Blitar

Yosibio

Senin, 22 April 2019 - 10:29

JATIMNET.COM, Blitar – Sebanyak 16 anak di bawah umur, menjalani Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) tingkat Sekolah Dasar di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar, Senin 22 April 2019.  

Keenambelas anak ini merupakan warga binaan LPKA Kelas I Blitar yang menjalani masa hukuman sejumlah kasus seperti narkoba, asusila, dan pencurian. Mereka mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia dalam satu ruangan khusus, dengan penjagaan petugas LPKA serta guru sekolah dari luar.

Plt Kepala LPKA Andik Ariawan mengatakan, mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang. “Rata rata anak-anak ini terlibat kasus narkoba, asusila, dan pencurian," kata Andik kepada wartawan di LPKA Blitar, Senin 22 April 2019.

BACA JUGA: PPDB Zonasi Bisa Petakan Persoalan Pendidikan di Daerah

Andik menambahkan, anak anak yang mengikuti USBN ini sebelumnya telah diberi pembekalan materi pelajaran untuk menghadapi ujian kelulusan ini. Pihak LPKA telah mendatangkan guru dari luar untuk memberikan materi atau kisi-kisi agar anak-anak siap mengerjakan soal ujian.

"Pihak LPKA juga telah memberikan materi pembelajaran untuk anak-anak jauh sebelum pelaksanakaan USBN SD. Tujuanya agar mereka siap untuk mengerjakan soal ujian hari ini dan dua hari berikutnya," imbuh pria berkacamata ini.

Pantauan Jatimnet.com di lokasi, belasan anak ini berada dalam satu ruang kelas khusus, dengan penjagaan dua petugas LPKA serta seorang guru.

BACA JUGA: Kuatkan Mental, Pelajar di Surabaya Basuh Kaki Orang Tua

Mereka mengerjakan soal sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Usia mereka rata-rata 14-16 tahun, sehingga berbeda dengan para siswa SD pada umumnya.

Beberapa di antaranya juga terlihat bertato di bagian tangan serta kaki. Belasan anak ini terlibat sejumlah kasus pelanggaran hukum dan telah divonis di atas satu tahun.

Data LPKA menyebutkan, saat ini terdapat 196 anak di bawah umur yang menghuni LPKA Kelas I Blitar, dengan daya tampung total 400 anak. Tertinggi, warga binaan LPKA ini terlibat kasus asusila kemudian narkoba, kasus pencurian dan kasus kriminal umum lainnya.

Baca Juga

loading...