Senin, 13 July 2026 11:30 UTC

Ruang kelas I SDN Nailan kosong karena tidak mendapatkan siswa baru pada tahun ajaran baru, Senin, 13 Juli 2026. Foto: Satria.
JATIMNET.COM, Ponorogo - Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mencatat empat Sekolah Dasar Negeri (SDN) mengalami krisis peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Bahkan, satu sekolah di antaranya, yakni, SDN Nailan, Kecamatan Slahung kembali tidak mendapatkan seorang murid baru selama dua tahun ajaran berturut-turut.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, Farida Nuraini mengatakan empat sekolah yang mengalami minimnya jumlah peserta didik baru tersebut adalah SDN Nailan, SDN Setono, SDN Pomahan, dan SDN Tempuran.
"Sampai sejauh ini ada empat sekolah yang sudah update data ke kita (terkait jumlah siswa yang sangat minim). Yang pertama Nailan, yang kedua Setono, yang ketiga Pomahan, dan yang keempat Tempuran," ujarnya, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Farida, hasil pemetaan menunjukkan kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor. Selain jumlah anak usia sekolah yang terus menurun, lulusan taman kanak-kanak (TK) di lingkungan empat sekolah tersebut juga sangat sedikit pada tahun ini.
"Kami sudah melakukan pemetaan. Faktor pertama adalah demografi yang memang angkatan usianya habis. Kemudian data tahun ini menunjukkan lulusan TK untuk di keempat lingkungan sekolah tersebut masih kita kategorikan belum ada untuk tahun ini," katanya.
Farida menambahkan, pihaknya belum dapat menyimpulkan apakah fenomena tersebut berkaitan dengan keberhasilan program Keluarga Berencana (KB).
Menurutnya, diperlukan pendataan yang lebih mendalam untuk mengetahui penyebab pasti menurunnya jumlah anak usia sekolah.
Salah satu sekolah yang terdampak paling signifikan adalah SDN Nailan. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut kembali tidak menerima murid baru sehingga jumlah siswanya kini hanya tersisa 13 orang, terdiri dari tujuh siswa kelas VI, dua siswa kelas V, satu siswa kelas IV, dan tiga siswa kelas III.
Kepala Desa Nailan, Nurhadi, menilai minimnya jumlah peserta didik tidak hanya dipengaruhi faktor demografi, tetapi juga persaingan dengan lembaga pendidikan berbasis keagamaan di sekitar desa.
"Istilahnya kami terkepung. Terkepung dengan Pondok Gontor yang juga punya Tarbiyatul Athfal tingkat SD, lalu di sebelah juga ada MIN," ujarnya.
Selain itu, kata Nurhadi, tren masyarakat yang lebih memilih pendidikan berbasis agama membuat sebagian besar orang tua mengarahkan anaknya ke madrasah. Letak geografis Desa Nailan juga menyebabkan calon siswa tersebar ke sekolah-sekolah di desa sekitar.
