Senin, 25 May 2026 00:30 UTC

Ilustrasi Konsultasi sebelum treatment. -Dx Gen-AI
JATIMNET.COM - Prosedur kecantikan kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Mulai dari filler, botox, tanam benang, hingga facelift yang semakin sering muncul di media sosial dan dianggap sebagai bagian gaya hidup urban.
Namun, di tengah tren estetika yang terus tumbuh, masih banyak orang belum memahami perbedaan dokter kecantikan, dokter kulit, dan dokter bedah plastik. Padahal, perbedaan kompetensi ini sangat penting karena menyangkut keselamatan pasien.
Data International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) menunjukkan total prosedur estetika dunia mencapai 34,9 juta tindakan pada 2023.
Angka ini naik 3,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Prosedur area wajah dan kepala bahkan meningkat hampir 20 persen dalam setahun terakhir.
Di Indonesia, tren treatment wajah juga semakin besar. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih memahami siapa sebenarnya yang berwenang melakukan prosedur medis kecantikan.
Istilah “Dokter Kecantikan” Sering Disalahpahami
Banyak orang menggunakan istilah dokter kecantikan untuk semua tenaga medis yang bekerja di klinik estetika. Padahal secara resmi, istilah itu tidak termasuk spesialisasi medis di Indonesia.
Dalam sistem pendidikan kedokteran, yang diakui adalah dokter umum, dokter spesialis kulit dan kelamin, serta dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik.
Dokter umum dapat menjalankan tindakan estetika tertentu setelah mengikuti pelatihan tambahan. Namun kewenangannya tetap memiliki batas sesuai kompetensi dan regulasi medis.
Sementara, dokter spesialis kulit fokus pada kesehatan kulit, rambut, kuku, serta berbagai tindakan estetika non-bedah seperti laser, peeling, dan injeksi tertentu.
Berbeda lagi dengan dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik yang memiliki kompetensi operasi wajah dan tubuh secara menyeluruh. Pendidikan spesialis ini membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah lulus dokter umum.
Karena itu, tidak semua tindakan boleh dilakukan semua dokter.
Bedah Plastik Tidak Sekadar Soal Penampilan
Banyak orang mengira dokter bedah plastik hanya menangani operasi mempercantik wajah. Padahal bidang ini jauh lebih luas. Dokter spesialis bedah plastik juga menangani rekonstruksi korban luka bakar, trauma wajah, kelainan bawaan, hingga pasien pasca kanker.
Kompetensi mereka mencakup pemahaman saraf, jaringan tubuh, pembuluh darah, hingga teknik operasi kompleks. Untuk tindakan estetika seperti facelift, rhinoplasty, atau sedot lemak, dokter bedah plastik harus memahami risiko medis yang cukup besar.
Facelift, misalnya, bukan sekadar “mengencangkan wajah”. Tindakan ini melibatkan lapisan otot, jaringan kulit, hingga jalur saraf wajah. Kesalahan kecil bisa menyebabkan kerusakan permanen.
Itulah sebabnya prosedur bedah estetika tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan popularitas media sosial atau promosi murah.
Kenapa Banyak Orang Sulit Membedakannya?
Media sosial membuat batas antara prosedur medis dan konten hiburan menjadi semakin tipis. Banyak klinik menampilkan hasil before-after instan tanpa edukasi risiko medis. Tidak sedikit juga influencer menggunakan istilah dokter kecantikan tanpa menjelaskan latar belakang kompetensi tenaga medisnya.
Di sisi lain, industri estetika Indonesia juga terus tumbuh cepat. Laporan Research and Markets memperkirakan pasar medical aesthetics Indonesia bernilai lebih dari 257 juta dolar AS pada 2023 dan diprediksi terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Pertumbuhan industri ini membuat masyarakat semakin sering melihat promosi treatment estetika dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, edukasi mengenai izin praktik dan kompetensi dokter belum berkembang secepat tren treatment itu sendiri.
Cara Mengenali Prosedur Kecantikan yang Aman
Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan masyarakat sebelum menjalani treatment estetika. Pertama, pastikan dokter memiliki STR dan SIP aktif. Konsumen juga berhak mengetahui spesialisasi dan kompetensi dokter yang menangani tindakan.
Kedua, pahami jenis prosedurnya. Treatment ringan seperti facial tentu berbeda dengan tindakan invasif seperti filler, tanam benang, atau facelift.
Ketiga, jangan mudah percaya harga murah dan hasil instan. Dalam dunia medis, prosedur yang terlalu murah sering berarti ada standar keamanan yang dikurangi.
Keempat, pastikan tindakan dilakukan di fasilitas yang memiliki izin dan standar sterilitas yang baik. Kementerian Kesehatan juga mengingatkan masyarakat untuk mengecek status dokter melalui organisasi profesi resmi sebelum menjalani prosedur estetika.
Tren Estetika Membutuhkan Literasi yang Lebih Dewasa
Popularitas treatment kecantikan sebenarnya bukan sesuatu yang salah. Banyak prosedur estetika modern dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kualitas hidup seseorang.
Namun, semakin berkembangnya industri kecantikan juga menuntut masyarakat menjadi konsumen yang lebih kritis. Di era media sosial, wajah sering berubah menjadi bagian dari identitas digital.
Banyak orang ingin terlihat lebih segar, lebih muda, atau lebih fotogenik. Fenomena ini membuat prosedur estetika terasa semakin normal di kalangan urban.
Meski begitu, keamanan tetap harus menjadi prioritas utama. Memahami perbedaan dokter kecantikan dan dokter bedah plastik bukan sekadar urusan istilah, tetapi langkah penting untuk melindungi diri dari risiko prosedur ilegal atau tindakan yang dilakukan tanpa kompetensi memadai.
Pada akhirnya, treatment terbaik bukan hanya yang membuat wajah terlihat lebih menarik, tetapi juga yang dilakukan secara aman, etis, dan sesuai standar medis yang benar.
